Selasa, 12 November 2019


Bayi Arsyifa, Pengidap Hidrosefalus Butuh Bantuan Dana

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1779
Bayi Arsyifa,  Pengidap  Hidrosefalus Butuh Bantuan Dana

Arsyifa Ajwa Zahra, balita penderita Hidrosefalus digendong ibunya, Artiya Shiyami. (SUARA PEMRED/ Kristiawan Balasa)

PONTIANAK, SP - Kepala Arsyifa Ajwa Zahra, bocah berusia 1,6 tahun, terus membesar. Ia mengidap Hidrosefalus. Orangtuanya, Fajar Widyanto dan Artiya Shiyami, baru mengetahui anaknya mengalami penyumbatan cairan serebrospinal dalam sistem ventrikel otak di usia dua bulan.

Kala itu, mereka khawatir dengan pertumbuhan kepala anaknya yang tidak seperti biasanya.
Anak pertama pasangan ini lahir 8 Desember 2012 silam. Syifa panggilan akrab Arsyifa, terpaksa lahir prematur dalam usia 23 minggu, karena sang ibu mengalami gangguan plasenta previa.

Beratnya hanya 1.300 gram, dengan panjang 38 sentimeter. Ketika lahir, Syifa tidak menangis. Dokter mengatakan paru-parunya belum berfungsi dengan baik.
“Kondisi badannya kecil, seperti tulang terbungkus kulit,” ujar Fajar Widyanto (31), ayah Syifa saat Suara Pemred berkunjung ke kediamannya di Jalan Wonobaru, Gang Madyosari 3 Nomor 12, Pontianak Selatan, kemarin.

Syifa tampak ceria pagi itu. Ia dibaringkan di kereta bayi berwarna biru-abu. Seperti menyadari kedatangan tamu, tangan kanan mungilnya menarik kelopak bawah mata kanannya. Bola matanya yang cemerlang menyembul. Memandang dan tersenyum.

Beberapa giginya mulai tumbuh, putih susu. Artiya (23), ibu Syifa bercerita, memang begitulah cara Syifa melihat. Meski tak mengalami gangguan penglihatan. Hanya mata kanannya saja yang bisa ia gunakan. Itu karena kebiasaan. Ia tak pernah menggunakan mata kiri untuk memandang.

Namun akibatnya, kelopak bawah mata kanannya menghitam. Keseringan ditarik, kalau dicegah, dia marah, kata Artiya. Pasca lahir, Syifa sempat diinkubator selama sembilan hari. Merasa perawatan kurang dan tak tega melihat anaknya dari balik kaca, mereka berdua sepakat membawa Syifa pulang.

Bersama harap sembuh dan konsekuensi di belakangnya. Ada satu hal yang bikin mereka tersenyum, di subuh pertama Syifa berada di rumah, ia menangis. Syifa mulai bisa mengkonsumsi ASI dengan teratur. Keduanya juga mengatakan ia bukan anak yang rewel.

Hal itu terlihat selama kurang lebih satu jam, Suara Pemred berada di rumah Bapak Sudarso, orangtua ibu Syifa. Anak ini lebih banyak tersenyum, ramah ketika diajak bergurau. Sambil sesekali memanggil orangtuanya.
“Baru belajar ngomong. Biasanya panggil-panggil kalau dia merasa sepi,” kata Artiya lantas menggendong Syifa, sementara Syifa terlihat menarik kelopak mata kanannya dan tersenyum kepada kami.

Sejak diperiksakan pertama kali pada  dua bulan setelah Syifa lahir, dokter sudah menyarankan untuk melakukan operasi. Tapi usia Syifa belum mencukup. Kulit kepalanya masih tipis. Risikonya jauh lebih bahaya. Mereka pun sepakat membawanya pulang dan memberi pengobatan alternatif, sambil menunggu waktu tepat untuk operasi Syifa. Perawatan refleksi dengan kaki diberikan. Termasuk pengobatan alternatif.

Fajar mendapat saran itu dari salah seorang kenalan yang anaknya memiliki penyakit sama. Tak langsung sembuh memang, namun kepala Syifa lebih lembut. Sebelumnya terasa keras. “Pernah waktu itu ada petugas Puskesmas yang datang mau imunisasi, tapi saya tolak. Mereka memaksa, akhirnya mereka melihat sendiri bagaimana kondisi Syifa. Mereka terima,” jawab Artiya saat ditanya pernahkan ada petugas pemerintah kota yang datang melihat.

Syifa juga pernah dibuatkan surat rujukan untuk berobat di Rumah Sakit Kota Pontianak. Sayangnya, dokter di sana tidak tersedia. Syifa lantas dirujuk ke rumah sakit Kharitas. Di sana keluarganya beberapa kali berkonsultasi dengan dokter, dan menetapkan jadwal operasi. Rencananya, proses awal akan dimulai 20 Juli 2016 mendatang.

Dana operasi yang dibutuhkan kurang lebih Rp 80 Juta. Hal ini jadi kendala Fajar yang seorang pekerja swasta. Ia sempat meminta bantuan pada Dinas Kesehatan Pontianak, namun tak ada kabar sampai sekarang. Saat ini, dikatakannya, ia juga tengah mengurus berkas untuk disampaikan kepada Wali Kota Pontianak.

Sejak beberapa waktu terakhir, beberapa komunitas dan masyarakat luas juga telah membantu dengan melakukan penggalangan dana. Per Sabtu, 18 Juni 2016 kemarin, terkumpul dana Rp 29 Juta. Keluarga berharap, bantuan dari pemerintah dan agar bisa membantu penyembuhan Syifa.

Bagi masyarakat yang ingin membantu, bisa transfer ke nomor rekening Bank Mandiri 146-00-097562-9 atas nama Fajar Widyanto, orang tua Syifa. Segala perkembangan bantuan pengobatan dan kondisi terakhir Syifa juga bisa dilihat melalui akun facebook Fajar Widyanto atau di blog fajarwidyanto46.blogspot.co.id. (bls/ind/sut)