Rabu, 13 November 2019


Kisah Yunida Meningkatkan Derajat Single Parent

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1402
Kisah Yunida Meningkatkan Derajat Single Parent

Yunida, Sekjen Lembaga Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA). (ist)

Antarkan Anak Jadi Sarjana dari Pendidikan Keluarga

Yunida tak bisa melupakan peristiwa heroik, puluhan tahun silam. Kala itu, anak ke duanya, Reza Arga berangkat ke tempat kursus Bahas Inggris. Celakanya, begitu sampai, uang kursus yang disimpan di saku celananya hilang di jalan. Pulang dari kursus, Reza pun mengadukan kehilangan uang kepada ibunya, Yunida di rumah.


Bukannya marah. Yunida, dengan gerak refleks, justru meminta izin kepada anaknya untuk melepas anting-anting emas yang menempel di telinga Yunida. Mendapat izin sang anak, Yunida langkah cepat ke luar rumah kemudian menuju toko emas.

Hasil penjualan anting-anting itulah, untuk menebus uang kursus anaknya yang hilang. “Waktu itu uang anak saya kehilangan uang Rp 500 ribu. Saya ganti dengan anting-anting saya. Biar anak saya bisa kursus lagi,” tutur Yunida, kepada Suara Pemred, kemarin.  

Yunida adalah ibu tiga anak dengan status single parent . Cerita di atas tadi, sepenggalah pengalaman kelam Yunida, bagaimana membesarkan tiga anak hingga ke sarjana. Tapi sebelumnya, Yunida pernah terpuruk dan mengalami masa yang kelam.
Yuninda sendiri berperawakan sedikit kurus. Tidak terlalu tinggi.

Hari itu ia mengenakan baju kemeja terusan dengan motif kotak-kotak dan jilbab merah muda. Di rumah tak begitu luas, di Komplek Villa Anugerah, Jalan Haji Mucsin, Kubu Raya, ibu rumah tangga ini tampak bersemangat, begitu diajak bercerita, bagaimana tantangan membesarkan dan menanamkan nilai pendidikan keluarga.

Bermula dari masa kelam Yunida, pada 2006, di mana dirinya ditinggal suaminya, Saifudin Anwar tutup usia. Sebelum meninggal, Saifudin dirawat di rumah sakit. Dokter mendiagnosa Saifudin menderita komplikasi pendarahan usus dan penyumbatan darah.

Selama dirawat, uang tabungan, hasil keringat suami –istri ini yang dikumpulkan bertahun-tahun ludes untuk biaya pengobatan. “Suami saya buruh di perusahaan kayu di luar Kalbar. Saya sendiri staf di perusahaan kayu di Pontianak,” tuturnya.

Sampai akhirnya, sang suami meninggal, Yunida tidak ada lagi pegangan yang menjadi panutan keluarga. Ia juga pusing, bagaimana membesarkan tiga anaknya, saat itu masih duduk di bangku sekolah. Penderitaan tidak sampai di situ. Setahun berselang, pemerintah sedang marak-maraknya penangkapan kasus illegal logging di Kalbar.

Imbasnya perusahaan kayu, tempat Yunida bekerja tutup produksi.
Yunida, satu di antara karyawan yang di PHK dan menjadi pukulan berat baginya. Di satu sisi, peran ibu dihadapkan memenuhi kebutuhan hidup dan biaya sekolah anak. Di sisi lain, harus menjalankan peran ganda.

Yunida harus menjadi ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya.  “Tugas yang paling berat dari saya, pada saat tidak bisa menuruti kehendak anak-anak saya, selain mengasuh, membesarkan, dan mendidik mereka,” katanya.

Misalnya ada kebutuhan yang tidak mendesak, seperti keinginan mengganti seragam dan sepatu sekolah anak, terpaksa harus ditunda, sampai uang tabungan tercukupi. Itu belum lagi biaya les dan kursus komputer di sekolah.

Nah, untuk mencukupi kebutuhan dasar tadi, Yunida pilih banting tulang. Ia menjadi pedagang bubur dan kue tradisional di kawasan Jalan Adisucipto, Kubu Raya. Lagi-lagi, keuntungan dari sisa berjualan itu juga hanya cukup makan keluarga sehari-hari. Kondisi ekonomi yang pelik ini,

Yunida setiap hari harus putar otak, bagaimana mengelola keuangan keluarga bisa efisien. Caranya, mengutamakan pengeluaran kebutuhan urgen. Seperti kebutuhan pangan dan biaya sekolah anak. “Tapi kadang-kadang pilihan itu saya labrak juga,” kata Yunida.

Pernah suatu hari, ia meminjam uang sebesar Rp 3 jutaan pada salah satu lembaga sosial. Uang itu, bukan untuk biaya sekolah, tetapi justru untuk membelikan anaknya komputer. “Pada waktu itu saya kasihan melihat anak saya, setiap ada tugas kuliah, selalu pergi ke rental, untuk print dan mengetik tugas kuliah,” katanya.

Karena bila dihitung-hitung, pengeluaran untuk jasa rental sangat besar. “Satu kali anak saya ke rental harus merogoh kocek Rp 15-20 ribuan. Dari pada merental, lebih baik saya belikan komputer,” katanya.

Pikiran Yunida kala itu, biar anak-anaknya fokus bersekolah. Bagaimana dengan kebutuhan jajan sekolah anak? Yunida yang hanya mengandalkan pendapatan dari berjualan bubur, sebelumnya memang sudah menyisihkan uang jajan anaknya setiap hari, begitu berangkat ke sekolah.

“Uang jajan mereka tidak banyak. Hanya Rp 4000 per hari,” katanya. Rinciannya, Rp 2 ribu untuk uang transportasi dan selebihnya untuk jajan. Tapi sebelum memberikan uang jajan, Yunida memberikan pemahaman kepada anaknya untuk belajar berhemat.

Caranya, menggunakan uang jajan seperlunya. Selain uang jajan, Yunida tidak pernah lupa bekali nasi dan lauk buat tiga anaknya di sekolah agar bisa makan pada saat jam istirahat. ”Jadi, anak-anak saya bisa menabung uang jajannya. Uang jajan itu untuk kebutuhan mereka juga. Misalnya, menggunakan hasil tabungan untuk membeli buku Lembar Kerja Sekolah (LKS). Sebagian lagi untuk biaya foto kopi dan seragam sekolah mereka.

Pendidikan kedua di Keluarga

Ada yang menarik dari Yunida. Selain dirinya mampu memberikan pemahaman hidup hemat kepada anak, ia juga sadar betul, memberikan kasih sayang dan mengawasi perkembangan prilaku anak sehari-hari dari keluarga, adalah  bagian dari pendidikan lain di luar sekolah.

Dalam kehidupan sehari-hari, Yunida mengaku menyempat diri memantau perkembangan kebiasaan anak. Misalnya dalam praktek menjalani ibadah salat, anaknya selalu sembahyang di rumah. Setelah diberikan pemahaman, bahwa ibadah yang baik yakni berangkat ke masjid begitu azan berkumandang.

“Dari situ, anak-anak saya, begitu waktu azan tiba, bergegas ke masjid,” katanya.

Itu baru pengenalan  pendidikan keagamaan anak. Pengenalan lain adalah mengajari anak  hidup disiplin dalam belajar. Baginya, menanamkan sikap seperti itu tidak perlu dengan unsur paksaan. Tetapi cukup dengan memberikan pemahaman pendidikan baik dari orang tua kepada anak.


Misalnya pada saat Yunida jalan-jalan ke suatu tempat bersama tiga anaknya. Dalam perjalanan, ada seorang pemulung sampah sedang sibuk kerja mencari sampah yang laik jual. Atau ada pula seorang buruh bangunan dengan keringat bercucuran, sibuk menyelesaikan pekerjaan bangunan rumah.

“Bila kamu tidak sekolah, pekerjaan seperti itulah nantinya akan kami kerjakan,” pesan Yunida.

Menurutnya, dari bentuk pemahaman seperti itu, secara tidak langsung, membuat anak menjadi berpikir, sekaligus memotivasi, betapa pentingnya pendidikan dalam menampak hari selanjutnya. “Dari situ, anak kita akan semangat bersekolah dan giat belajar,” kata Yunida.

Contoh lain, misalnya, pada saat siswa sedang menjalani ulangan umum di sekolah, orang tua mesti tahu jadwal anak ujian. Yunida sendiri punya pola tersendiri, bagaimana anaknya taat belajar.  “Biasanya klo anak sudah ulangan, saya sering membangunkan mereka subuh hari untuk belajar,” kata Yunida.

Tidak hanya sekedar membangunkan, Yunida juga turut mendampingi anaknya melakukan aktivitas belajar pada subuh hari. Termasuk melayani mereka dengan dibuatkan minuman hangat dan kue cemilan.
“Tujuannya agar anak saya tidak mengantuk belajar,” katanya.

Hari itu, di ruang tamu, rumah Yunida memang dipajang foto ke tiga anaknya yang menempel di didinding tembok itu. Ia tak sungkan mengenalkan foto anaknya satu persatu. Anak pertama, Yudi Arga, lulusan Teknik Sipil, kini bekerja di PT Astra Motor. Jabatannya, pimpinan cabang membawahi wilayah Indonesia Timur.

Anak kedua, Reza Arga, sekarang bekerja di salah satu perusahaan finansial asuransi di Kota Pontianak. Terakhir, anak ke tiga, Gilang Arista Arga, sekarang masih studi di Institute Pemerintahan dalam Negeri (IPDN) Jatinangor, Jawa Barat.

Menariknya, di rumah yang ditinggali Yunida, Komplek Permata Anugerah ini adalah pemberian dari anak pertamanya yang dibeli secara kontan. Di rumah ini, ibu dan tiga anak ini berkumpul.

Biasanya momen itu datang pada saat menjelang lebaran atau pada saat sedang libur kerja atau kuliah. “Klo mereka sudah berkumpul, mereka selalu mengatakan rindu dengan masakan ibunya, “ kata Yunida.

Bahkan anak pertama dan kedua Yunida punya kebiasaan lain. Setiap selalu membawa bekal nasi ke kantor. Meski bukan ibunya yang memasak, melainkan istri dari anak Yunida. Setidaknya, kebiasaan kecil, sering membawa bekal di sekolah tak lekang dengan kehidupan anaknya pada masa sekarang.

Siapa mengira, Yunida yang gigih dan semangat pantang menyerah membesarkan anak, membuat pengurus Lembaga Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (PEKKA), mengajak dan mengangkat Yunida menjadi kader  dan menempati jabatan sekretaris jenderal di lembaga ini.


“Anak-anak saya kini sudah besar. Sekarang saya ingin berbagi ilmu bersama para ibu-ibu single parent,” tuturnya.

Seperti memberikan pelatihan dan pendampingan kepada ribuan perempuan yang tersebar di daerah.
Mulai dari Sui Itik dan Teluk Pakedai, Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Bengkayang, Kabupaten Sekadau, Kota Singkawang dan lainnya.

Adapun status single parent, yang menjadi pendampingan Yunida kebanyakan mereka yang ditinggal suami akibat perceraian, salah satu pasangan meninggal dunia, atau suami yang telah menghilang dan tidak jelas keberadaannya.


Kini, Yunida, sebelumnya hanya ibu rumah tangga biasa, kini sering menerima undangan mengikuti berbagai pertemuan dan pelatihan yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan single parent ke luar kota, seperti Yogyakarta, Bogor, Bandung, Jakarta dan lainnya.


“Saya sering bertanya-tanya pada diri sendiri. Kok bisa ya saya menghidupi tiga anak dari berjualan bubur. Tapi ya semua itu atas seizin Allah. Dan aset berharga itu adalah anak-anak saya, ” pungkas Yunida. (agus wahyuni)