Sutarmidji: Penataan Kampung Beting Merubah Stigma Negatif

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1667

Sutarmidji: Penataan Kampung Beting Merubah Stigma Negatif
Wilayah Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur. (dok.sp)
PONTIANAK, SP – Kampung Beting, Kelurahan Dalam Bugis, Kecamatan Pontianak Timur menjadi satu di antara tiga kampung air yang akan ditata oleh pemerintah sesuai instruksi Presiden Joko Widodo. Penataan kawasan ini diharap dapat merubah stigma negatif Kampung Beting.

Wali Kota Pontianak Sutarmidji saat menjadi pembicara nasional di forum Paralel Even Urban Slum Upgrading (Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Perkotaan) yang diselenggarakan Direkrorat Jenderal Cipta Karya Kementerian PU-PERA di Hotel Sheraton Surabaya, Jumat (22/7), membahas persoalan Kampung Beting.

Sutarmidji menyampaikan materi tentang pencegahan dan peningkatan kualitas permukiman kumuh nelayan tepi air di kawasan Kampung Beting. Dia memastikan pemerintah tidak main-main dalam menata kawasan tersebut.

 “Pemerintah tidak main-main dalam menata Kampung Beting. Stigma negatif yang selama ini melekat, segera dihilangkan, karena penataan pemukiman sudah mulai dilakukan. Termasuk program-program pemberdayaan masyarakat di sana,” ujar Sutarmidji.

Sutarmidji juga telah menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) atau nota kesepahaman antara Pemkot Pontianak bersama Direktur Jenderal (Dirjen) Cipta Karya, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PU-PERA), Andreas Suhono, di Kantor Kemen PU-PERA Jakarta, Selasa (3/5) lalu.


Sutarmidji juga memaparkan Kampung Beting sebagai cikal bakal Kota Pontianak. Masjid Jami Sultan Syarif Abdurrahman, Keraton Kesultanan Pontianak dan sejumlah bukti lain jadi penanda hal itu.

Dengan dua kali kunjungan Presiden Joko Widodo ke sana, menunjukkan keseriusan semua pihak menata kawasan ini. Dijelaskannya, kawasan kumuh Kota Pontianak kini sekitar 66 hektare. Untuk kawasan kumuh berat ada 22 hektare dan sisanya merupakan kawasan kumuh ringan.

Dalam rencana capaian Millennium Development Goals 2019, diharapkan di Kota Pontianak bisa tercapai 100 persen akses air bersih, 0 wilayah kumuh dan 100 persen akses sanitasi.

 Program ini dikenal dengan sebutan 100-0-100. Untuk mencapai sasaran tersebut, strategi teknis pelaksanaannya adalah membangun sinergitas kemitraan serta kerjasama (kolaborasi) semua pihak pemangku kepentingan, mulai dari tahap sosialisasi, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

Untuk masalah air bersih, PDAM Pontianak telah menyelesaikan booster di wilayah Pontianak Timur dengan kapasitas 300 liter per detik. Adanya akses air bersih akan memudahkan tujuan penataan kawasan ini.

Sementara untuk sanitasi, dia mengakui sangat tergantung pada masyarakatnya sendiri.
“Tinggal mau atau tidak berubah, tidak membuang sampah sembarangan serta bisa menjaga saluran tetap bersih,” katanya.

Tahun depan rencananya Pemkot akan menganggarkan pemasangan pipa sanitasi tersier di 300 hingga 400 gang dan bisa untuk 20 hingga 25 ribu sambungan. Jika sudah, tinggal bagaimana kualitas air bisa lebih baik. Tak hanya kawasan Beting, namun juga se-Kota Pontianak.

 “Jika pelanggan rumah tangga mau PDAM tarifnya naik 35 persen, saya akan buat penyaringan air dengan River Osmosis atau RO. Nanti tidak ada lagi masalah air asin,” imbuhnya.

Penataan kawasan Kampung Beting sendiri sudah dimulai Sabtu (16/7) lalu. Pembangunan jalan gertak beton pinggir Sungai Kapuas ditandai dengan penancapan tiang pertama oleh Wali Kota Pontianak Sutarmidji di Pasar Kenanga, Pontianak Timur.

Anggaran pembangunan gertak beton bersumber dari APBN sebesar Rp 13,9 miliar. Sementara terkait permasalahan sosialnya, didanai APBD. Penataan kawasan tepi sungai ini akan dilakukan sepanjang 1,2 kilometer. Target awal sepanjang 386 meter, akan selesai dalam waktu lima bulan.

 “Saya akan usulkan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat supaya tahun 2017, dituntaskan hingga ke Jembatan Kapuas I,” katanya.

Usai pembangunan gertak beton tuntas, berikutnya kopel-kopel untuk tempat bermain meriam karbit dan aktivitas lain akan dibangun. Sehingga perekonomian di kawasan tersebut tumbuh, bisa sebagai objek pariwisara, juga kreativitas lain yang punya nilai ekonomi.

 Wisata Budaya dan Air

 Penataan kawasan Kampung Beting merupakan program sharing antara Pemkot Pontianak dengan pemerintah pusat. Kampung Beting ke depan akan menjadi kawasan wisata budaya dan air, akan dipermak layaknya kampung di pinggir Sungai Brunei Darussalam.

“Dengan adanya kerjasama ini, saya harap dapat menjadikan Beting sebagai salah satu objek wisata menarik karena di Kampung Beting terdapat masjid berusia lebih dari 200 tahun, serta keraton yang letaknya di tepi sungai,” ujar Sutarmidji, belum lama ini.

 Latar belakang dilakukannya penataan kawasan Kampung Beting yang berlokasi di pinggiran Sungai Kapuas ini, setelah Presiden RI Joko Widodo membandingkan dengan negeri tetangga Brunei Darussalam dengan rumah-rumah di sepanjang pinggir sungai yang tertata rapi.

"Saat digelar Karnaval Khatulistiwa tahun lalu, yakni Karnaval Sungai, Pak Jokowi melihat kawasan Kampung Beting memiliki kemiripan dengan kehidupan rumah-rumah di atas air yang ada di negara tetangga. Potensi itu bisa dimanfaatkan sebagai ikon Pontianak bila ditata dengan baik," ungkapnya. Kawasan Kampung Beting sendiri juga memiliki keunikan sebab letaknya di pertigaan antara potongan Sungai Landak dan Kapuas. "Kawasan Kampung Beting kalau sudah ditata, maka tidak kalah dengan sebuah kampung di pinggir sungai di Brunei Darussalam," ujarnya.

Daerah Rawan Narkoba


Sederet pengungkapan kasus narkoba yang terjadi di Kota Pontianak, tak lepas dari Kampung Beting. Menetralisir kawasan yang dianggap sebagai kantong peredaran narkoba ini memang tak mudah. Penataan kawasan ini diharap dapat merubah stigma negatif yang ada. “Merubah fungsi kawasan rawan narkoba menjadi kawasan tertentu itu tidak mudah, harus melihat apakah kawasan padat penduduk itu mesti dikosongkan atau direlokasi,” kata Wakil Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono, belum lama ini.

Menurut Edi, Kampung Beting dibangun di atas Sungai Kapuas dan dapat diakses melalui jalur darat serta air. Mayoritas penduduknya berpenghasilan rendah danm sebagian besar bekerja di sektor informal. Kawasan itu sangat menunjang kegiatan yang sifatnya tertutup.

Pemkot Pontianak telah melakukan pembinaan, sosialisasi terkait bahaya dampak narkoba. Namun sederet kasus peredaran narkoba di lokasi tersebut masih saja terjadi, sehingga stigma Kampung Beting sebagai “sarang” narkoba masih menjadi momok. 
“Tidak mudah dan perlu kerjasama berbagai pihak,” kata Edi.

Menurut Edi, Beting juga menjadi sorotan pemerintah pusat dalam mendukung waterfront city. Kampung itu telah direncanakan pemerintah melalui Kementerian PU Dirjen Cipta Karya untuk ditata.
“Akan ditata khususnya di kawasan Masjid Jami dan keraton. Semoga terealisasi dan paling lama 2017,” terangnya. 

Edi menambahkan, jika pembangunanan infrastruktur di kawasan yang juga merupakan mapping area rawan narkoba oleh aparat kepolisian ini terealisasi, pastinya perekonomian akan terdorong, dan mempengaruhi pola pikir masyarakat setempat.
“Jika terlaksana berubahlah pola pikir (mindset) orang-orang tentang Beting dan menjadi lebih baik,” katanya.

 Namun yang paling penting kata Edi, adalah membina masyarakatnya itu sendiri agar berdaya guna. Pemkot ke depan berencana akan menyediakan home industri yang menjadi tempat masyarakat berkarya.

“Perekonomian di kawasan tersebut harus maju,” katanya.

Dia juga berharap aparat kepolisian mempunyai strategi lain guna melakukan pengawasan terhadap berbagai aktivitas di kawasan itu sehingga dapat mengurangi peredaran narkoba di sana. “Aparat kepolisian saja sulit memantau kawasan itu, dan kita harus punya strategi lain dalam pemantauan kawasan itu,” harapnya. (bls/umr/ind/sut)