Senin, 23 September 2019


Wali Kota Pontianak: Penyedia Lahan Parkir Akan Ditipiring

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1370
Wali Kota Pontianak: Penyedia Lahan Parkir Akan Ditipiring

Petugas sedang merantai sepeda motor siswa sekolah yang diparkir di halaman rumah warga, beberapa waktu lalu. (dok.SP)

PONTIANAK, SP – Penyedia lahan parkir bagi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) yang berkendara sepeda motor ke sekolah, harus siap-siap menerima ganjaran. Pasalnya, Wali Kota Pontianak, Sutarmidji, dengan tegas mengatakan akan memberi sanksi tindak pidana ringan (tipiring).

“Akan saya tipiring, kenapa dia (penyedia lahan parkir) marah-marah, denda besar-besar, kalau perlu kita kasih denda sampai Rp10 Juta. Biar nanti saya ngomong sama Pak Hakimnya,” ujar Sutarmidji ketika ditemui Suara Pemred di DPRD Pontianak, Jumat (2/9) siang.


Menurut Midji, sapaan akrabnya, penyedia lahan parkir salah karena memberikan fasilitas pada orang yang melakukan pelanggaran. Ia pun mengaku telah memberikan perintah khusus kepada Dinas Perhubungan, Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Pontianak untuk berkoordinasi dengan Satuan Polisi Lalu Lintas (Satlantas) agar melakukan razia rutin selama enam bulan ke depan.

“Berapa banyak korban di jalan, tiap hari ada kecelakaan, ada yang meninggal. Itu apa kita biarkan terus pakai motor seenaknya. Kadang sudah jalan lama-lama, lewat kiri lagi (menyalipnya). Saya kadang manas mau turun!” ujarnya kesal.

Penindakan dengan tipiring akan dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol-PP) Pontianak. Wali Kota dua periode itu meminta semua pihak tidak perlu mempermasalahkan ada atau tidaknya bus angkutan. Sebab dijabarkannya, sewaktu masih ada bus, justru tidak dimanfaatkan.

“Jangan alasan bus ini itu, tidak ada yang naik, karena tadi, dibiarkan pakai sepeda motor. Pemerintah harus beri solusi, sudah basi dah, orang melanggar itu jangan dibela-bela. Memangnya kalau pemerintah belum memberi solusi bus kota, orang boleh melanggar aturan?” tanyanya.

Iriandi, satu diantara penyedia lahan parkir di Gang Karang Ayar dan Gang Sumur Bor, Pontianak Kota, tak jauh dari SMPN 9 Pontianak, menyayangkan adanya penertiban ini.  “Ini merupakan mata pencarian saya selama ini,” ujar Iriandi.

Adanya penertiban ini menghilangkan mata pencariannya. Iriandi mengaku tidak memiliki pekerjaan lain selain menyediakan lahan parkir. Dalam sehari, dia bisa meraup rupiah paling banyak Rp50 ribu.

Dari pantauan sebelumnya, di lokasi lahan parkir yang disediakan Iriandi, puluhan sepeda motor siswa  terparkir rapi di pekarangan rumah. Lokasinya tak begitu jauh dari gedung sekolah. Untuk sekali parkir, siswa ditarik tarif sebesar Rp2 ribu.

Di lain pihak, Rizal, warga Pontianak Kota yang anaknya bersekolah di salah satu SMP negeri di Pontianak Barat mengaku mendukung, tapi juga merasa bingung.

Diakuinya, tak jarang anaknya membawa sepeda motor ke sekolah, hanya apabila keluarga lain tak bisa mengantar. “Kadang memang bawa motor, tapi lebih sering diantar,” katanya.

Ke depan, Rizal mengatakan, anaknya akan terus diantar. Meski ia harus memutar karena lokasi tempatnya bekerja ada di kawasan Jalan Tanjungpura.

Lakukan Pembinaan

Sementara itu, Kepala Satpol-PP Pontianak, Syarifah Adriana dihubungi terpisah menerangkan, para penyedia lahan parkir tersebut memang akan ditipiring. Dasar tipiring sendiri adalah Perda Nomor 3 Tahun 2004 tentang Ketertiban Umum, dengan ancaman denda hingga Rp50 Juta dan kurungan maksimal tiga bulan.  

  
“Semua tergantung, kita tidak bisa intervensi,” katanya.

Prosedurnya, tentu dengan koordinasi dari penertiban yang dilakukan Dishubkominfo Pontianak. Dua dinas tersebut akan bertindak bersama-sama.

“Sejauh ini belum ada (yang ditipiring), karena kalau ingin tipiring segala macam, harus ada pembinaan lebih dulu, tidak sekoyong-koyong. Sekarang Dishub sedang membina, jika berulang baru kemungkinan akan ditipiring,” katanya. “Jadi kerja Satpol-PP tidak bisa arogan, kita mesti humanis,” pungkasnya. (bls/ind/sut)