Geng Sastra Gedor ‘Pintu’ Sastrawan Kalbar Abah Zai

Ponticity

Editor sutan Dibaca : 1360

Geng Sastra Gedor ‘Pintu’ Sastrawan Kalbar Abah Zai
STAIN Press, pada 2 Maret 2013, menggelar bedah buku: “Kalbar Berimajinasi”, berisi berbagai cerpen di Toko Buku Kharisma Komplek Ayani Mega Mall, Pontianak. (dok. 2.bp.blogspot.com)
 
Ilmu itu didatangi, bukan mendatangi. Setidaknya hal itu yang membawa Geng Sastra menggedor pintu salah seorang sastrawan Kalbar, Abah Zai. Mereka tak melulu menekuni buku, tapi juga proses kreatif di dalamnya. Mendatangi ilmu, langsung dari sumbernya.

Awalnya, Geng Sastra benar-benar akan menggedor rumah Abah Zai, secara harfiah. Namun karena satu dan lain hal, tempatnya pun berpindah ke halaman depan UPT Mata Kuliah Umum (MKU) Universitas Tanjungpura, Jalan Daya Nasional, Kota Pontianak akhir pekan lalu.

Belasan dari mereka duduk melingkar, dengan Abah Zai dan Khairul Fuad peneliti dari Balai Bahasa Kalbar sebagai pusat tuju. Kalimat pembuka dari Abah Zai dalam pertemuan itu agaknya jadi penyentak.

   “Pertama kali Geng Sastra mengadakan acara Poem Nite dulu itu, saya sengaja datang karena saya yakin yang muda-muda ini butuh pendukung. Walaupun isi di dalamnya hanya segelintir, tapi kebahagiaan saya besar sekali,” ucap Zailani Abdullah, nama lengkapnya.

Selama kurang lebih 40 tahun, Abah Zai berkecimpung di dunia sastra. Menulis baginya selayak berdoa. Doa wajib dengan bahasa yang tak berlebih. Tulis semua yang ada dalam pikiran, kalau salah jangan dicoret atau dibuang, katanya. “Untuk cerita fiksi, perhatikan awal dan akhir cerita,” tambahnya.

Rasa bosan, jengah, malas memang kerap menghampiri. Bahkan hanya untuk sekadar memikirkan kalimat pertama. Beberapa penulis senang mengkambinghitamkan mood.
Padahal menurut Abah, semua tergantung pada kebiasaan. Ia pun punya semacam ritual khusus, yakni istirahat lebih dulu dan tak perlu mencari inspirasi terlalu jauh, semua ada di sekitar.

“Pertama dan yang utama, harus punya prinsip. Apapun yang terjadi, apapun olokan dan makian orang jangan pernah peduli. Mau dicap sebagai penulis abal-abal, kampungan, tetaplah menulis. Jadikan hinaan sebagai jembatan untuk maju. Kondisikan hati dan pikiran untuk senantiasa sehat,” pesan Abah Zai.

Ada satu cerita lucu yang turut ia sampaikan. Lebih 40 tahun menulis, ternyata baru satu orang di Pontianak yang menulis tentang dirinya. Orang itu tak lain Khairul Fuad, peneliti dari Balai Bahasa Kalbar.

"Kenapa menggelikan, bagaimana saya tidak geli, orang yang rela menghibahkan diri demi kepentingan daerahnya, rupanya belum menempati tempat yang semestinya," gelaknya.

"Semoga kita semua bisa menjadi insan yang lebih bisa mengapresiasi segala bentuk penghibahan diri, yang dimaksudkan bukan untuk kepentingan pribadi," tambahnya.

Khairul Fuad sendiri terharu mengetahui dirinya satu-satunya orang yang berkesempatan menulis tentang Zailani Abdullah. Buah tulisannya mengkaji proses kreatif Abah Zai. Karya yang ditulis Abah menurutnya selalu apa adanya, tidak muluk-muluk. “Beliau pernah berkata pada saya bahwa beliau jarang mau membaca karya orang lain karena khawatir gaya tulisan mereka tercampur dengan gaya beliau dan terakhir, spontanitas,” ujar Fuad.

Menurutnya karya-karya Abah Zai pun kental nuansa lokalitas. Mengangkat akarnya sendiri. Fuad berpesan, menulis dan membaca sebenarnya hal tidak terpisahkan. Keduanya serupa pasangan sah. Kita tak perlu jadi pisau pembelah.

Amai, salah seorang pegiat Geng Sastra, menjelaskan Sastra to Door merupakan suatu acara penjemputan ilmu dari setiap "pintu", kedalaman hati seorang pegiat sastra. Pembacaan puisi pun diselipkan di antaranya. Tempatnya bisa di mana saja, asal ada “pintu” yang bisa digedor ilmunya. (kristiawan balasa/ind/sut)