Sabtu, 14 Desember 2019


Dirut PDAM Tirta Khatulistiwa Targetkan Tahun 2019 Distribusi Air 100 Persen

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1274
Dirut PDAM Tirta Khatulistiwa Targetkan Tahun 2019 Distribusi Air 100 Persen

Wali Kota Pontianak, Sutarmidji saat pelantikan Ladjito sebagai Direktur Utama PDAM Tirta Khatulistiwa, Senin (3/10). (Suara Pemred/ Kristiawan)

PONTIANAK, SP – Wali Kota Pontianak, Sutarmidji melantik Ladjito, sebagai Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Khatulistiwa, Senin (3/10).

Pelantikan mantan Direktur Teknik PDAM ini, menurut Midji sudah melalui pertimbangan bersama Dewan Pengawas. Ladjito berada di urutan kedua ketika pemilihan dirut beberapa waktu lalu.

“Dia urutan kedua setelah Almarhum Affandi. Saya harap sebagai orang dalam, bisa membangun PDAM lebih baik dengan teknologi dari segala aspek. Percepatan pelayanan dan transparasi di semua kegiatan,” ujar Midji usai pelantikan di Aula Sultan Syarif Abdurrahman, kompleks kantor wali kota.  

Midji meminta Ladjito segera mempersiapkan rekrutmen direksi. Termasuk juga rekrutmen pegawai lain dari Sumber Daya Manusia (SDM) terbaik. Salah satunya lulusan terbaik dari Universitas Tanjungpura. Dengan perbandingan 20 persen lulusan terbaik Untan, 40 persen dari umum dan, 40 persen tenaga outsourching.
 

Ditemui usai dilantik, Ladjito mengatakan program ke depan akan merealisasikan pelayanan PDAM di semua gang Pontianak. Pihaknya akan bekerjasama dengan Dinas Cipta Karya setempat dalam pengadaan dan pemasangan pipa tersier.   "Kita harapkan 2019, cakupan air di kota 100 persen. Dibutuhkan dana sekitar Rp51 miliar. Namun untuk jumlah pasti kekurangan pipa, angkanya secara pasti belum tahu,” katanya.  

Sebagaimana diketahui, masih terdapat 35 persen gang yang belum memiliki pipa tersier. Akibatnya, warga tidak bisa berlangganan. Selain itu, kekuatan tekanan air juga jadi kendala. Perlu dibangun boster lebih dahulu.  

Demikian pula tingkat kebocoran yang masih dalam angka 25 persen. Sementara angka ideal menurut Sutarmidji adalah 20-22 persen. Setiap kebocoran satu persen, setara dengan Rp1,2-1,4 miliar.  

Menanggapi hal itu Ladjito menegaskan akan bertindak cepat. Selain kebocoran, pengguna jasa PDAM ilegal yang terdata pun menurutnya masih banyak. Rata-rata dalam jangka waktu sebulan pihaknya memutus 50 pengguna ilegal.

   “Penggantian filter secara berkala, pemutusan saluran ilegal, percepatan perbaikan jika ditemukan masalah, seperti kebocoran akan terus kita lakukan,” tutupnya. (bls/and/sut)