Senin, 23 September 2019


Festival Saprahan, Menu Timur Tengah Dimodifikasi Ala Lidah Melayu

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1233
Festival Saprahan, Menu Timur Tengah Dimodifikasi Ala Lidah Melayu

Makan Saprahan dalam rangka Hari Jadi Kota Pontianak ke-245, Selasa (11/10). KRISTIAWAN BALASA/SUARA PEMRED

Lauk pauk terhampar di atas kain putih. Nasi kebuli, sayur paceri, semur ayam, semur daging, sayur dalca, sambal wak dolah, dan air serbat dihadap sejumlah orang. Sayur dan semur tampak menggoda dengan kuah berwarna pekat. Khas makanan Timur Tengah dan India.  

Menu ini tersuguh dalam Festival Saprahan se- Kota Pontianak. Festival ini dalam rangka memperingati Hari Jadi Kota Pontianak ke-245.   Nasi kebuli yang jadi menu utama saprahan, tampak gurih dan kaya bumbu rempah ini merupakan khas Timur Tengah dan India Muslim.

Konon aslinya berasal dari Arab Yaman. Di tempat aslinya, nasi kebuli dimasak dengan daging kambing, kaldu kambing dan susu kambing. Penyajiannya ditambah dengan kismis atau acar.  

Di Pontianak, menu itu dimodifikasi. Syafarudin Usman, budayawan Kalbar menerangkan nasi kebuli khas Melayu Pontianak, tidak dicampur dengan daging. Teksturnya tetap gurih dan kaya rempah. Cengkeh dan kayu manis jadi penguat rasa. Beda dengan nasi kebuli Timur Tengah, kebuli Melayu Pontianak tidak menggunakan kaldu kambing.   Sama halnya dengan semur.

Di Timur Tengah sana, lagi-lagi daging kambing jadi favorit. Di Pontianak, semur dalam saprahan lebih banyak menggunakan daging sapi atau ayam.  

Syafarudin mengatakan ada perbedaan aroma antara keduanya. Lagi-lagi bumbu rempah yang menambah kekayaan nusantara.   “Itu menunjukkan akulturasi budaya kita, bagaimana sistem persebaran orang. Ini dinamakan juga aktualisasi budaya. Kalau di keraton lebih khas lagi, dia jadi sesuatu yang khusus, karena keraton sebagai supremasi adat budaya menjadi barometer kebudayaan itu sendiri,” terang Syafarudin usai Festival Saprahan se Pontianak, kemarin.   

Pengaruh budaya luar memang mempengaruhi sebagian besar kuliner Indonesia. Kedatangan bangsa luar dari sebelum zaman kemerdekaan, membuat terjadinya pertukaran budaya. Orang-orang Timur Tengah yang awalnya datang untuk berdagang, turut membawa serta citarasa mereka. Tak sedikit yang beranak-pinak dan jadi bagian Nusantara. Tak terkecuali bangsa lain seperti Portugis, China, dan lainnya.

  Saprahan nyatanya bukan cuma soal menu. Dalam penyajian dan tata cara makan pun berbeda antara satu daerah dengan daerah lain. “Di Pontianak, kalau belum jumlahnya cukup, belum dihampar, dihidang, belum dimakan. Itu artinya rasa kebersamaan yang diciptakan,” tambahnya.  

Festival Saprahan memang agenda rutin Pemkot dalam rangka Hari Jadi Pontianak. Tahun ini diikuti oleh 29 peserta perwakilan masing-masing kelurahan.  

Wali Kota Pontianak, Sutarmidji mengatakan tahun depan akan menambah peserta dari umum. Menjejak tahun ketiga, dia berharap restoran di Pontianak mulai menerapkan saprahan sebagai tata cara menghidangkan. “Ini bisa jadi sajian khas kuliner kota,” katanya.  

Sementara itu,  Ketua DPRD Kota Pontianak, Satarudin berharap ke depan agenda ini bisa mencatatkan rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI). Pelaksanannya bisa dilakukan di depan Alun-Alun Kapuas dengan melibatkan lebih banyak peserta. Hal itu akan memancing wisatawan untuk datang ke Pontianak.


  “Sebagai orang muda, kita harus tahu bagaimana dan apa itu saprahan. Sekarang orang menikah juga sudah ada yang pakai tradisi ini,” tambahnya.  

Jika wisatawan datang, hotel akan penuh. Otomatis Pendapatan Asli Daerah (PAD) meningkat. Politisi PDI-Perjuangan ini juga menyambut baik jika restoran turut menyajikan makanan khas Pontianak dengan tradisi saprahan.

  “Dinas terkait kami minta juga menyosialisasikan makanan khas Pontianak di restoran dan hotel-hotel. Kami mendukung penuh program ini, anggaran tidak ada masalah,” tutupnya. (kristiawan balasa/and/sut)