Pengamat: Pilgub Kalbar 2018 Bakal Seru

Ponticity

Editor Soetana hasby Dibaca : 3130

Pengamat: Pilgub Kalbar 2018 Bakal Seru
Grafis (SP/Mega)
PONTIANAK, SP – Perhelatan Pemilihan Gubernur (Pilgub) Kalimantan Barat 2018 diprediksi akan berlangsung seru. Hal ini mulai tampak setelah dua tokoh nasional, Oesman Sapta dan Mahfud MD menyaksikan adu program delapan figur yang digadang bakal maju pada Pilgub Kalbar 2018.

Menurut pengamat politik Ireng Maulana, Pilgub Kalbar 2018 bakal berjalan seru karena tidak ada calon petahana. Alasan lainnya, Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintah Daerah, yang menguatkan posisi pemerintah provinsi dalam mengendalikan urusan di beberapa sektor penting, seperti kehutanan, pertambangan, maka jabatan gubernur prestisius.

Melihat sejumlah nama figur yang digadang akan maju di Pilgub Kalbar, Maulana menempatkan kriteria ideal sosok Gubernur Kalimantan Barat di periode lima tahun ke depan.

Pertama, katanya, profil yakni kriteria ideal figur yang akan menapaki masa (era) menuju 2020.

“Kenapa indikator tahun 2020 menjadi penting, karena ini adalah pintu masuk bagi generasi ke depan untuk bersiap menatap milenium ketiga,” ujar Maulana, Jumat (30/12).

Tugas berat menyiapkan dan merawat generasi milenia, memang akan dipikul oleh Gubernur Kalbar terpilih di 2018.

Kriteria ideal selanjutnya, orientasi pembangunan dan kebijakan yang dapat menganjurkan transformasi dari gaya hidup eksploitatif kepada gaya hidup lestari.

Upaya ini menyasar tidak hanya masyarakat biasa, tapi juga kepada pemodal, korporasi, kelompok bisnis, dan kelompok kelas menengah yang sedang menanjak jumlahnya.

Sehingga transformasi ini akan berdampak pada perlambatan kerusakan lingkungan, perbaikan kualitas hidup masyarakat, pembangunan yang tidak merusak lingkungan, penggunaan sumber energi terbarukan dan mengurangi pemubaziran pada air dan sumber makanan.

Juga orientasi untuk mengoneksikan desa dan kota. Sehingga kota tidak hanya pusat yang dapat memiskin desa, dan desa tidak lagi sebatas penyuplai bahan mentah ke kota dengan nilai rendah atau orang desa bukan buruh murah orang kota.

Terakhir, bakal calon gubernur punya nyali untuk menghadapi masa 2020. Nyali ini adalah selemah-lemahnya kriteria jika akan menjadi gubernur di masa depan.

“Memang disadari kriteria ideal tersebut, terkesan utopia dan hanya gubernur setengah dewa yang mampu,” ujar Maulana.

Tapi setiap pemimpin, menurut Maulana, punya masanya sendiri dan punya kecakapan sendiri untuk menangkap pesan dari zaman yang dilalui dan akan ditatapnya.

“Dari analisis ini, banyak orang yang menyangka bahwa kriteria ideal tidak ada. Maka kalau tidak ada standar tinggi, bagaimana publik bisa memahami visi yang futuristik, dari semua nama yang sudah beredar.” imbuhnya. (umr/loh)

Baca Juga:
Pengamat: Pilgub Kalbar 2018 Bakal Seru
Dagang Jabatan, KPK Tetapkan Bupati dan Kepsek Klaten Sebagai Tersangka
BTM Penulis Buku ‘Jokowi Undercover’ Ditahan