Kamis, 14 November 2019


Tolak SDN 01 Jadi Gedung Parkir

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 914
Tolak SDN 01 Jadi Gedung Parkir

SEGEL – Solidaritas Masyarakat SDN 01 menyegel Hotel Neo, Jalan Gajah Mada Pontianak, Senin (1/5).

PONTIANAK, SP – Puluhan warga yang mengatasnamakan Solidaritas Warga Pontianak SDN 01 menyegel bangunan Hotel Neo Jalan Gajah Mada, Senin (1/5) pagi. Penyegelan ini buntut dari pembangunan lahan parkir hotel tersebut yang mengorbankan lahan milik SDN 01 Pontianak Selatan.

Penyegelan dilakukan dengan memasang spanduk bertuliskan “Bangunan Ini Disita dan Disegel oleh Masyarakat untuk Kepentingan Pendidikan” di muka hotel dan spanduk berlafal “Save SDN 01 Pontianak” di depan lahan parkir sementara hotel yang ada di kawasan sekolah tersebut. Koordinator lapangan aksi tersebut, Joni mengatakan pihaknya mewakili warga Kota Pontianak mengecam alih fungsi sekolah sebagai lahan parkir oleh Pemerintah Kota. Ke depannya, lahan SD juga bakal disulap menjadi gedung parkir secara keseluruhan.

Joni  mengindikasikan, pembangunan gedung parkir yang digadang Pemkot tersebut dilakukan untuk parkir Hotel Neo. Terlebih hotel tersebut memang dibangun tanpa lahan parkir.

“Jadi kami di sini mengutuk keras, dari pihak pengusaha sampai yang memberikan izin yakni Pemkot. Jelas dari persoalan IMB, Amdal dan segala macam akan kita pertanyakan. Kenapa diberikan izin untuk operasional di Hotel Neo,” ujarnya mempertanyakan.

Dia menegaskan, pihaknya akan berupaya sekuat mungkin agar sekolah tak jadi digusur. “Jika (sekolah) digusur, hotel ini akan tetap juga kami gusur, biar adil. Hotel ini kami nyatakan disegel atas solidaritas warga Kota Pontianak,” tegasnya.

 Sebagai tindak lanjut, pihaknya akan mendirikan posko di sana sampai ada keterangan dari pihak Pemkot dan Hotel Neo. Dalam waktu dekat, timnya pun akan meminta keterangan dari Pemkot dan menempuh proses hukum.

 “Jelas keinginan kami mempertahankan sekolah ini, karena sekolah ini satu-satunya di Pontianak yang terletak di tengah kota, daerah maju, seharusnya menjadi ikon. Kalau dibangun baru sekolah ini kami malah setuju, jika digusur kami akan kecam,” pungkasnya. Mengenai langkah hukum, pengacara solidaritas tersebut, Deni Amirudin mengungkapan ada kemungkinan kongkalikong dalam permohonan IMB Hotel Neo. Ada dugaan praktik tidak sesuai dalam aturan. Saat ini pihaknya masih mengumpulkan data dan dokumen.

 “Kalau melihat sisi bangunannya, seharusnya IMB bangunan itu tidak terbit. Karena yang membuat larangan dan Perda adalah pemerintah. Tapi yang mengangkangi Perda itu wali kota sendiri dengan memberikan izin,” katanya. Dia mengatakan, hal ini bukan main-main dan akan dilanjutkan pada lembaga yang berkompeten lantaran wilayah pendidikan kalah dengan bisnis.

“Ini juga belum disosialisasikan, orang tua murid masih banyak tidak mengetahui kalau ini akan digusur. Di DPR juga pro kontra, kami juga kontra terhadap ini,” tegasnya.

Sementara itu, General Manager Hotel Neo, Firman menuturkan terkait masalah perizinan dan lahan parkir sebaiknya ditanyakan langsung ke Pemkot. Dia kurang paham perihal itu lantaran hanya bertindak sebagai manajer, sementara pemilik hotel itu orang yang berbeda.

“Karena ini hotel masih dalam pembangunan maka masih dalam pengawasan owner. Sebenarnya saya tidak berhak memberikan banyak jawaban karena saya juga baru di sini, dan saya juga sebagai GM Neo,” pungkasnya. (bls/and)