Senin, 14 Oktober 2019


Dewan Minta PLN Tak Padamkan Listrik Saat Ramadan

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 1196
Dewan Minta PLN Tak Padamkan Listrik Saat Ramadan

PLN Pontianak

PONTIANAK, SP – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Barat, Mad Nawir meminta PT PLN (Persero) Kalbar tidak memadamkan listrik di saat umat Islam melaksanakan ibadah puasa pada bulan suci Ramadan.

“Kita minta PLN tidak lagi memadamkan listrik seperti yang dilakukan tahun-tahun sebelumnya. Masyarakat Muslim akan melakukan ibadah, seharusnya PLN mendukung,” katanya, Selasa (16/5).

Mad Nawir berpendapat, sudah seharusnya PLN memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. Apalagi saat ini, pemerintah juga telah menarik subsidi listrik untuk masyarakat.

“Subsidi sudah tidak ada, masyarakat pun sekarang harus menanggung biaya kenaikan listrik. Seharusnya kenaikan listrik juga dibarengi dengan bentuk pelayanan yang optimal, bukan malah sebaliknya,” tegasnya.

Anggota DPRD dari daerah pemilihan Kota Pontianak ini juga menegaskan, seharusnya negara yang sudah merdeka lebih dari 70 tahun, tidak ada lagi pemadaman listrik. Yang dilakukan PLN dengan cara bergilir di wilayah yang berbeda-beda.

Terlebih lagi dengan telah diresmikannya Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) di Kabupaten Mempawah oleh Presiden Republik Indonesia, Joko Widodo. “Keberadaan PLTG ini tentunya menambah daya listrik untuk masyarakat Kalbar. Jadi seharusnya memang pemadaman listrik tidak terjadi lagi, bukan hanya saat Ramadan, tapi di hari-hari lain juga,” pintanya.

Sementara itu, Manager PLN Area Penyaluran dan Pengaturan Beban (AP2B) Wilayah Kalbar, Ricky Andrian mengatakan dengan daya mampu yang dimiliki PLN Wilayah Kalbar saat ini, sudah siap untuk menghadapi tingginya lonjakan daya beban puncak pada saat Ramadan.

"Kemampuan kita tersebut terutama di Sistem Khatulistiwa yang meliputi enam kabupaten atau kota di Kalbar seperti Sambas, Singkawang, Bengkayang, Mempawah, Pontianak\ dan Kubu Raya. Saat ini kita suplus 100 Megawatt," ujarnya.
Ricky memprediksikan saat bulan Ramadan, beban puncak yang terjadi ketika berbuka puasa dan sahur sekitar 295 Megawatt. Untuk daya yang tersedia sendiri kisaran 381 Megawaat sehingga masih ada surplus sebesar 86 Megawatt.

"Jadi dari segi dapur kita berupa ketersediaan daya maka aman. Sehingga peluang ada pemadaman sangat kecil kecuali ada faktor di luar itu," kata dia.

Dia menambahkan, jika nanti ada pemadaman terjadi, kemungkinan saja diakibatkan gangguan transmisi dan distribusi seperti karena pohon, layangan, tiang tumbang dan trafo rusak. Dengan potensi pemadaman yang ada, dari sisi transmisi dan distribusi tersebut pihaknya selalu melakukan langkah antisipasi.

Langkah yang dilakukan PLN adalah menebang pohon secara terpadu, memperbaiki tiang yang miring, pemeliharaan trafo dan gardu secara lebih intens.
“Tidak kalah penting juga PLN terus bersosialisasi dan mengimbau masyarakat agar tidak bermain layangan kawat dan bersedia pohonnya ditebang jika akan mengenai jaringan listrik," ujarnya. Pihaknya juga meminta masyarakat melaporkan jika melihat kondisi jaringan PLN yangg tidak normal dan membahayakan keselamatan.

"Layanan kontak center PLN bisa di 123 jika ada kendala atau informasi terkait PLN. Kita akan memaksimalkan pelayanan dan tentu butuh dukungan dan informasi dari masyarakat luas," jelasnya.

Satu di antara warga Pontianak, Deki meminta PLN saat ini dan ke depannya terutama bulan puasa, tidak memadamkan listrik.
"Sudah menjadi kekhawatiran masyarakat setiap tahun terutama saat puasa, listrik tidak jauh dari pemadaman,” ungkapnya. Dia mendorong PLN untuk memberikan layanan maksimal dan menginformasikan secara cepat kendala yang dihadapi kepada masyarakat. “Jadi kami tidak selalu menyalahkan PLN," katanya. (jee/ant/and)