Penghasilan GTT Pontianak akan Naik, Ini Nominalnya

Ponticity

Editor Kiwi Dibaca : 908

Penghasilan GTT Pontianak akan Naik, Ini Nominalnya
MEMBIMBING – Seorang guru tengah membimbing murid berkebutuhan khusus saat Ujian Nasional (UN) 2017. Guna meningkatkan kesejahteraan guru, khususnya Guru Tidak Tetap (GTT), Pemerintah Kota Pontianak akan menaikkan insentif mereka.
PONTIANAK, SP – Pemerintah Kota Pontianak akan menaikkan insentif Guru Tidak Tetap (GTT). Saat ini, insentif yang diberikan hanya Rp200 ribu dan nantinya akan menjadi Rp300 ribu. Wali Kota Pontianak, Sutarmidji mengatakan, pertimbangan kenaikan insentif itu lantaran penghasilan yang diperoleh GTT sangat minim.

Hanya berkisar Rp400-Rp500 ribu per bulan. “Sementara, ini kenaikan insentif solusi yang bisa kita buat,” ungkapnya, Sabtu (20/5) kemarin. Saat ini, dalam aturan memang memperbolehkan 15 persen Biaya Operasional Sekolah Nasional (BOSNAS) digunakan untuk menggaji para GTT.

Untuk Biaya Operasional Sekolah Daerah (BOSDA) dari Pemkot Pontianak sendiri, menetapkan 50 persen dana yang boleh dipakai untuk penggajian GTT. Walau demikian, tetap saja tak mampu meningkatkan pendapatan GTT.

“Kalau tahun depan anggarannya cukup, kita akan tingkatkan lagi insentif mereka sampai Rp500 ribu. Dengan demikian jika ditambah dengan honor dari BOS, saya rasa bisa di atas Rp1 jutaan," tuturnya. 

Menurut Midji, Pemkot akan terus mengupayakan kenaikkan besaran insentif ini. Namun semua dilakukan bertahap lantaran keterbatasan anggaran. Sutarmidji menginginkan pendapatan GTT bisa lebih tinggi dan tidak terlalu rendah. Terlebih melihat peran mereka yang mengajar di tengah kondisi pendidikan yang kurang tenaga pendidik. Walau kekurangan guru, Wali Kota yang akan habis masa baktinya tahun depan ini meminta para Kepala Sekolah tidak asal merekrut GTT.

Latar belakangan pendidikan guru dan kebutuhan sekolah harus selaras. Kompetensi yang dimiliki mesti sesuai dengan bidang ilmu. "Insentif itu belum dikeluarkan karena waktu audit masih ada masalah di BOS. Kita maunya genah dulu, tapi puasa ini sudah cair,” katanya.

Peraturan tersebut, disyukuri satu di antara GTT Kota Pontianak, Syamsul Huda. Dia yang mengajar di SMPN 12 ini bercerita, GTT digaji berdasarkan lama mengajar per jam. Di sekolah sekarang dia mendapat Rp50 ribu per jam. Dari pengalamannya di sejumlah sekolah lain, dia pernah digaji Rp30 ribu per jam.

“Kalau insentif khusus tidak ada, kecuali guru ambil tambahan ekskul. Baru dapat gaji tambahan. Selama ini mengajar di SMA atau SMP, tidak ada insentif,” katanya. Gaji pembinaan kegiatan ekstrakurikuler sendiri per pertemuan Rp50 ribu dan dalam satu bulan, totalnya Rp200 ribu. Namun jika guru tak hadir, tidak akan dihitung. Kebanyakan GTT pun tak hanya mengajar di satu sekolah, lantaran waktu mengajar yang tersedia tak banyak dan memang pendapatan yang diperoleh terbilang kecil.

“Kadang ada juga sekolah yang gaji per jamnya tidak standar. Hampir rata-rata di sekolah paling kecil itu Rp40-45 ribu,” tutupnya. (bls/and)