Selasa, 17 September 2019


Sultan Pontianak ke IX Komitmen Angkat Tradisi dan Nilai Budaya

Editor:

Admin

    |     Pembaca: 1592
Sultan Pontianak ke IX Komitmen Angkat Tradisi dan Nilai Budaya

SULTAN PONTIANAK - Penobatan Sultan Sultan Pontianak ke IX, Syarif Machmud Melvin Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak ke IX, menggantikan ayahnya, Sabtu (15/7) (Yodi/SP)

Putra Mahkota Istana Kadriah Pontianak, Syarif Machmud Melvin Alkadrie dinobatkan sebagai Sultan Pontianak ke IX, menggantikan ayahnya, Sultan Abubakar Alkadrie yang wafat akhir Maret lalu, Sabtu (15/7) pagi.

Penobatan dilakukan lewat prosesi yang ditandai dengan pembacaan titah penobatan oleh Sultan Iskandar Machmud Badarudin dari Kesultanan Palembang Darussalam.

Kini, sultan baru Pontianak bergelar Seri Paduka Maulana Sultan Syarif Machmud Melvin Alkadrie. Prosesi penobatan Sabtu pagi dimulai dengan kirab budaya rombongan Putra Mahkota dari Masjid Jami menuju Istana Kadriah.

Kirab juga dilakukan sebagai refleksi adanya kerajaan islam itu di Pontianak. Di mana saat pertama kali tiba, Sultan Abdurrahman Alkadrie lebih dulu mendirikan langgar, baru kemudian kesultanan.

Tahta kesultanan dibikinnya, untuk mendukung dakwah. Dalam rombongan kirab, selain diikuti sang istri dan dua anaknya, Putra Mahkota dikawal oleh pasukan bersenjata dan pasukan budaya. Pasukan bersenjata membawa pedang dan tombak.

Sementara pasukan budaya berbekal nampan dan tempat siri. Diiringi musik tanjidor, rombongan berhenti di depan pagar istana. Disambut tari penyambutan dengan kembang manggar. Tari penyambutan dimaksudkan sebagai ucapan selamat datang. Kembang manggar sendiri memiliki makna sebagai penyejuk.

Namun, langkah Putra Mahkota menuju Istana tak lancar benar.

Tepat berjarak lima tombak dari tangga istana, seorang Palang Pintu menghadang. Seorang jawara rombongan Putra Mahkota keluar barisan. Bertelok belanga hitam, dia adu jotos dengan Palang Pintu istana.

Adanya Palang Pintu berfilosofi bahwa tak mudah untuk jadi Sultan. Perlu ada upaya dan usaha lebih. Selain itu sejak zaman dulu, para Sultan dan isi istana dibekali ilmu bela diri. Bela diri penting untuk menjaga diri, juga kelangsungan kerajaan.

Usai menjatuhkan Palang Pintu, rombongan Putra Mahkota masuk istana. Langkah mereka terhenti di ujung anak tangga. Pangeran Mas Perdana Agung Syarif M Fasya (Febri) Alkadrie, adik Syarif Machmud Melvin Alkadrie, menjemput.

Bersama istri dan kedua anaknya, Putra Mahkota diantarnya ke anak tangga paling atas, Balairung Istana Kadriah untuk segera dinobatkan sebagai Sultan ke IX Pontianak.

Sepanjang prosesi, lantunan ayat suci alquran gema di sana-sini. Lepas penobatan oleh Sultan Iskandar Machmud Badarudin yang juga Ketua Yayasan Kerajaan Nusantara, Sultan Pontianak yang baru dikalungi untaian kalimat syahadat lengkap dengan ornamen bulan bintang sebagai tanda keabsahan pengangkatan.

Dua buah pusaka, keris dan tongkat juga diberikan oleh Laksamana Tua Syarif Hasan Alkadrie pada Sultan. Tak hanya itu, Sultan juga dipasangi imamah atau sorban. Dipakaikan oleh Habib Hasan Mustafa Hadad, imamah itu merupakan tanda kepemimpinan.

Pemasangan imamah oleh ustaz memiliki filosofi bahwa sejak zaman dulu, kesultanan mengakui keberadaan mufti. Prosesi itu pun selesai. Namun rangkaiannya masih akan berlanjut dan ditutup dengan ritual mandi-mandi pada Minggu (16/7) sore.

Usai penobatan, turut pula diselenggarakan Haul 100 hari wafatnya Sultan Abubakar Alkadrie. Ditemui lepas rangkaian acara, Sultan Syarif Mahcmud Melvin Alkadrie mengungkapkan dalam kepemimpinannya akan mengembalikan budaya-budaya Melayu dan islami yang mulai menghilang.

Upaya itu akan dilakukan dengan bersinergi bersama Pemerintah Kota Pontianak.

“Kami akan berupaya mengangkat nilai-nilai budaya seperti budaya Melayu Pontianak, maupun budaya yang sudah lama tidak diangkat ke permukaan,” katanya.

Pengembalian nilai budaya dalam kehidupan sehari-hari akan jadi agenda besar. Selain pelestarian, budaya ini kelak akan jadi objek pariwisata menjanjikan.

Misalnya saja Napak Tilas Perjalanan Sultan Pertama Jumat (14/7) sore. Dari Makam Batu Layang, Putra Mahkota dibawa dengan perahu menuju Masjid Jami.

"Budaya-budaya itu akan kita angkat dan munculkan kembali seperti salah satunya keriang bandong, napak tilas menyusuri Sungai Kapuas yang ke depannya akan kita agendakan supaya bisa menjadi agenda tahunan pariwisata," ungkapnya.

Wali Kota Pontianak, Sutarmidji berharap Sultan baru akan fokus pada pengembangan budaya Melayu Pontianak agar mendunia. Termasuk di dalamnya mendukung pengembangan pariwisata kota.

“Kita harap Sultan juga bisa mengayomi seluruh komponen, etnis maupun agama yang ada di Kota Pontianak. Sultan sebagai perekat dan pemersatu itu dan fungsi itu dari dulu sampai sekarang tetap, kalau boleh disebut tupoksi dari kesultanan,” kata Wali Kota.

Kerja sama Istana Kadriah dan Pemerintah Kota sudah terjalin baik. Dalam waktu dekat Kompleks Istana akan dikembalikan bentuknya ke model semula. Bukan sekadar pelestarian, namun juga potensi objek wisata.

Masjid Jami pun akan segera dipugar dalam waktu dekat. Napak Tilas Sultan yang rencananya menjadi agenda tahunan didukung Sutarmidji. Adanya itu akan buat masyarakat menjadi kenal dan tahu sejarah berdirinya Kota Pontianak. Apalagi Pontianak Timur menjadi kawasan pengembangan kebudayaan.

Sementara itu, Sultan Iskandar Machmud Badarudin menyoroti peninggalan lain kesultanan, yakni lambang negara Indonesia yang dibikin Sultan Hamid II. Istana Kadriah katanya punya sejarah luar biasa. Perlu ada pengakuan dari semua pihak. “Kami ada sebelum kamu ada, kamu ada karena kami ada. Untuk itu tidak ada alasan untuk kamu tidak mengakui kami,” ungkap Sultan Palembang Darussalam itu.

Dalam Undang-undang 1945, pasal yang menyangkut kebudayaan pun mengakui hak masyarakat adat. Para raja dan sultan diharapnya bisa jadi perekat. Jadi mitra strategis pemerintah. Apa saja pergolakan yang mengancam kedaulatan NKRI, para raja dan sultan siap menghadapi.

“Kami siap menjaga persatuan dan kesatuan Indonesia. Kami tidak ingin apa yang telah diwariskan pada Soekarno (daerah kekuasaan raja) terganggu,” ungkapnya.

Diakuinya kini peran kerajaan telah berbeda. Raja kini hadir untuk melestarikan adat budaya luhur di Indonesia. Penobatan Sultan Syarif Machmud Melvin Alkadrie ini pun diharap bisa jadi pemersatu dan perekat masyarakat. (balasa)