Selasa, 17 September 2019


Distan-TPH Kalbar Budidaya Varietas Padi Baru

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 754
Distan-TPH Kalbar Budidaya Varietas Padi Baru

BERAS GALUR – Padi Galur yang memiliki bulir beras merah putih. Distan-TPH Kalbar berencana akan membudidayakan padi varietas baru yang pertamakali ditemukan di Yogyakarta ini. IST

PONTIANAK, SP – Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Holtikultura (Distan-TPH) Kalbar, berencana akan membudidayakan benih padi varietas baru di Kalbar, yakni padi galur.

"Padi galur, bulirnya itu berwarna merah putih," kata Kepala Unit Pengembangan Benih Tanaman Pangan dan Hortikultura (UPBTPH) atau Balai Benih Induk Peniraman, Kalbar, Anton Kamaruddin, Senin (14/8).

Benih padi yang didapat sewaktu mengikuti Musda di Institut Pertanian Bogor (IPB), kata Anton, akan dicoba dibudidayakan di dua tempat, yaitu, Samalantan, Kabupaten Bengkayang, dan Peniraman, Kabupaten Mempawah.

"Karena di daerah Peniraman itu mewakili daerah-daerah pasang surut tadah hujan. Kalau Samalantan itu kita pilih, karena perairannya relatif lebih bagus," terangnya.

Anton menjelaskan, keunggulan dari padi galur, kandungan antioksidannya lebih tinggi dari pada jenis padi lainnya.

"Tapi menariknya itu, karena penampilannya unik. Kalau biasa beras merah itu merah saja, tapi ini separuh merah separuh lagi putih," ungkapnya.

Karena masih tahap awal dan benih yang didapat cuma lima kilogram, penanaman akan dilakukan dengan cara biasa.

"Karena kita mau lihat karakternya bagaimana. Karena ini harus diuji dulu di Litbang harusnya," ujarnya.

Dalam dua tahun terakhir, padi galur memang tengah viral di media sosial terutama pada komunitas penggemar padi di Indonesia.

Kabarnya, padi jenis ini pertama kali ditemukan di sekitar reruntuhan candi di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan awalnya dipopulerkan oleh salah satu warga setempat dari kerabat keraton.

"Di Jogja ada Pak Haji, katanya dari keluarga kerajaan. Dia itu yang pertama kali mempopulerkan mengembangkan padi merah putih," pungkas Anton. 

Sementara itu, terkait kondisi ekspor beras Kalbar ke Malaysia, Kadistan-TPH Kalbar Heronimus Hero mengakui ada tantangan lebih berat dibanding dengan daerah perbatasan lain di Indonesia.

"Kalau di Atambua, NTT, ekspor ke Timor Timur, mereka tidak terlalu mementingkan kualitas berasnya seperti apa," katanya.
Sementara itu untuk ekspor ke Malaysia, ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Di antaranya kualitas beras yang harus sesuai dengan standar kebutuhan penduduk di Malaysia.

Kemudian, lanjut dia, kondisi dalam negeri di Malaysia juga ikut mempengaruhi realisasi ekspor tersebut. Selain itu, proses perizinan dari tiap negara juga berbeda.

"Sedangkan kalau dari segi jumlah, beras Kalbar sudah mencukupi, tapi kualitasnya harus sesuai dengan kebutuhan di Malaysia," katanya.

Terkait rencana ekspor itu, Kalbar akan mengirim contoh beras ke pihak Malaysia. Dia berharap, upaya ekspor beras ini mendapat dukungan dari semua pihak, tidak hanya dari satu sektor saja. 

"Misalnya di dinas sendiri, ini bukan hanya tugas dari bidang pangan saja, melainkan juga bidang lain seperti lahan dan sebagainya," ujarnya.

Pemerintah Pusat melalui Kementerian Pertanian sebelumnya berharap agar daerah-daerah perbatasan yang menghasilkan beras, juga mampu ekspor ke negara tetangga terdekat. Salah satu daerah yang ditargetkan untuk ekspor beras itu adalah Provinsi Kalbar yang bertetangga dengan Sarawak, Malaysia.

Pihak Kementerian Pertanian Indonesia dan Malaysia sudah meninjau sejumlah lokasi yang akan menjadi sentra produksi beras ekspor tersebut. Sementara untuk pengiriman, rencananya melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, di Kabupaten Sanggau.

Ekspor dilakukan pihak swasta sedangkan pemerintah menjadi fasilitator prosesnya. (umr/ant/and)


  •