Rayakan Kemerdekaan, Sailam Jalan Kaki Supadio-Suwignyo

Ponticity

Editor Admin Dibaca : 1500

Rayakan Kemerdekaan, Sailam Jalan Kaki Supadio-Suwignyo
JALAN KAKI - Sailam (69) dan anak perempuannya, Misrah (48) jalan kaki 18,7 km dari Bandara Internasional Supadio, Kubu Raya menuju Jalan HM Suwignyo, Pontianak Kota. (Bls/SP)
Beda usia tiga tahun dengan Kemerdekaan Indonesia, tak jadi alasan Sailam (69) menghentikan kebiasaannya di hari kelahiran. Saban tahun sejak pensiun dari Satpol-PP Pontianak tahun 2006, dia selalu merayakan Kemerdekaan Indonesia dan hari jadinya, dengan jalan kaki dari Bandara Internasional Supadio, Kubu Raya menuju rumahnya di Jalan HM Suwignyo, Gang Tegalrejo III, Pontianak Kota.

Tanggal lahir mantan atlet lari dan jalan cepat itu memang sama dengan Hari Kemerdekaan Indonesia. Dalam aksinya, dia membawa serta bendera merah putih yang didirikan di ransel. Tas itu juga berisi air minum dan sedikit roti. Peluh keringat malah membuat langkahnya mantap. Apalagi baju kebesaran korps Satpol-PP turut dikenakan. Mulai start pukul enam pagi, biasanya butuh waktu empat sampai enam jam bagi Sailam untuk sampai di garis finis.

“Kebetulan tanggal lahir sama dengan Kemerdekaan RI, jadi dirayakan dengan jalan kaki. Alhamdulilah rasanya masih mampu,” ungkapnya, Kamis (17/8).

Di usianya yang hampir kepala tujuh, bapak delapan anak itu merasa masih bisa menjalankan rutinitas tahunan tersebut. Tak ada persiapan khusus yang dia lakukan. Tiap hari, dua hari sekali, langganan Trilomba Juang sejak tahun 1985 itu, selalu jalan kaki minimal dua jam. Walau masuk usia senja, otot kakinya kuat.

“Masih merasa mampu dengan tenaga yang ada sekarang, kalau tanding kan, satu jam enam kilo, ini kan tidak tanding, jadi yakin mampu,” imbuhnya.

Dalam aksi jalan kakinya, Sailam diantar anak bungsunya dengan sepeda motor ke Bandara Internasional Supadio. Dari sana baru dia memulai jalan, dan sang anak mengekor di belakang. Atau, menunggu di titik-titik tertentu yang dirasanya masih bisa memantau “pesta” bapaknya. Untuk perayaan tahun ini, anak perempuan pertamanya, Misrah (48) juga ikut menemani sampai garis finis, tapi memang tanpa rencana. Misrah tadinya ingin senam di gang sebelah, di Jalan Parit Bugis, Kubu Raya. Namun, begitu tahu bapaknya kembali turun, dia urungkan niat senam, malah jalan ke depan gang.

"Spontan tadi ikut, tapi sampai lepas sepatu, pedas," kata Misrah yang ketika muda, juga atlet maraton.

Dari aplikasi Google, jarak antara Bandara Internasional Supadio ke Jalan HM Suwignyo adalah 18,7 kilometer. Tentu bukan rentang yang bisa dianggap enteng. Namun dengan olah tubuh rutin, kakek tiga cicit ini yakin masih bisa terus melenggang di jalan aspal. Pengalamannya sebagai veteran atlet lari dan jalan bisa dibilang lumayan. Sailam pernah mewakili Kalbar, dua kali mengikuti gerak jalan Napak Tilas Yogjakarta-Jakarta. Kemudian Trilomba Juang, gelaran lima tahun sekali zaman Presiden Suharto.

Dimulai tahun 1985 dengan konsep beregu, lari 17 kilometer, 8 kilometer beregu dan jalan 45 kilometer. Semuanya dilakukan dalam rangka Kemerdekaan. “Dulu juga pernah apel (17 Agustus) di Istana Merdeka. Ada piagam tanda tangan Pak Sudarmono, Sekretaris Negara saat itu,” ucapnya bangga.

Selain itu, bekas pelari maraton ini juga pernah ikut Lomba Veteran Atlet Nasional di sejumlah kota. Tak ketinggalan kegiatan Bandung Lautan Api, dan masih banyak lagi. Tapi sayang, ceritanya agak tersendat, lantaran detail tahun tak terlalu ingat. Ketika di Pontianak masih sering digelar Gerak Jalan 45, Satpol-PP juga ambil bagian.

Sailam jadi satu di antara anggota yang tak pernah ketinggalan. Malah usai purna tugas, kakek bugar ini sempat jadi “peserta gelap”. Dia mengekor regu bekas tempatnya bekerja. Ikut jalan dari start sampai finish. “Kan ikut sendiri, sampai ditegur panitia. Katanya harus beregu, tapi saya bilang tidak apa, sudah biasa,” ceritanya sambil tertawa.

Cerita-cerita lucunya tak sampai di situ. Sebagai seorang PNS, jika sudah ada event gerak jalan, dia pasti izin berminggu-minggu. Malah pernah sampai sebulan penuh. Rekan kantornya pun sering meningkahi, kerjanya jalan-jalan terus.

“Waktu itu agenda Napak Tilas Yogja-Jakarta. Sampai sebulan libur. TC di Pontianak sebulan, di sana 20 hari. Waktu itu zaman almarhum Pak Buchari. Waktu pulang, mengharap beliau, tangan-kaki bengkak, jadi disuruh tambah libur 10 hari. Dapat dispensasi juga dari Gubernur,” katanya menutup cerita. (kristiawan balasa/lis)