Pedagang Dilarang Tambah Lapak

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 516

Pedagang Dilarang Tambah Lapak
MEJA LAPAK – Tampak pedagang sayur di Pasar Flamboyan tengah menata dagangannya di atas meja lapak yang tersedia, belum lama ini. Para pedagang dilarang menambah lapak, selain untuk kenyamanan bagi pembeli, juga untuk keamanan pasar. Dok SP

Merawat Pasar Tradisional


Anggota DPRD Kota Pontianak, Mashudi
Adanya batasan jarak untuk lalu lalang pembeli itu kan bukan semata-mata untuk kenyamanan dan kelancaran jual beli, tapi juga kalau sewaktu-waktu ada masalah, misal kebakaran, jalur evakuasinya ada, tidak tertutup

PONTIANAK, SP
– Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Pontianak, Mashudi meminta para pedagang di pasar-pasar tradisional menaati aturan. Salah satunya soal larangan menambah meja dagangan. Menurutnya, menambah meja bukan hanya soal kenyamanan pembeli, tapi juga keamanan bersama.

“Adanya batasan jarak untuk lalu lalang pembeli itu kan bukan semata-mata untuk kenyamanan dan kelancaran jual beli, tapi juga kalau sewaktu-waktu ada masalah, misal kebakaran, jalur evakuasinya ada, tidak tertutup,” ungkapnya, Senin (4/9).

Politisi Hanura yang akrab disapa Lonjong ini mengajak semua pedagang tidak hanya berpikir soal keuntungan, tapi juga keamanan bersama. Mungkin persoalan tambah meja terlihat sepele, tapi dampaknya akan sangat besar. Tentu hal ini mesti lahir dari rasa memiliki di pasar itu sendiri.

“Pasar memang punya pemerintah, tapi yang sehari-hari di sana pedagang dan pembeli. Kalau sama-sama menjaga, merawat, pasti lebih nyaman,” katanya.

Mashudi meyakini, sebenarnya pedagang pun memiliki kesadaran yang sama. Tinggal bagaimana mengajak satu sama lain saling mengingatkan. Kepentingan bersama jauh lebih penting. Apalagi pasar sudah jadi ladang penghasilan banyak orang.

“Harusnya bukan saling sikut, tapi sama-sama nyaman,” pungkas anggota DPRD dapil Pontianak Utara itu.
Sebelumnya, Kepala Bidang Pasar Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan Kota Pontianak, S Welly mengatakan soal tambah meja lapak memang salah satu yang sering dia temukan. Tak jarang dia menegur pedagang yang masih bandel.

“Saya menegur pedagang karena membuat lapak lebih, tapi mereka bilang kenapa yang lain tidak ditertibkan. Saya tegaskan kalau mereka semacam itu, kapan pasar mau tertib,” ceritanya belum lama ini.

Di lapangan, kerap ditemukan pedagang yang sewa satu meter, tapi mejanya malah dua meter. Memang tidak semua membandel, ada yang sekali tegur langsung tidak mengulang. Akan tetapi tetap saja hal ini tidak bisa dibiarkan.

“Karena ini hak orang lain, dan orang mau belanja jadi tidak bisa berjalan. Kalau terjadi apa-apa, evakuasi juga tidak bisa kalau semacam itu,” katanya. 

Wali Kota Pontianak, Sutarmidji juga kerap kali memberikan teguran kepada Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan terkait penataan pasar. Dia selalu menyoroti lapak pedagang yang menambah besar meja. Walau sudah bagus penanganannya kini, tetap saja dia mewanti-wanti hal tersebut.

“Kalau memang mau menambah kursi untuk duduk, buat di belakang meja. Jangan di depan, sebab ruang atau space yang lebar itu untuk kenyamanan pembeli, bukan untuk melebarkan atau menambah meja,” katanya.

Midji meminta kepada para pemilik kios untuk melapakkan dagangannya di dalam kios, bukan malah di depan dan menambah lebar kios dari yang telah ditentukan.

Dia berharap para pedagang betul-betul menjaga pasar. Pasar katanya bukan hanya aset pemerintah, tapi juga punya pedagang.

“Pasar yang sudah dibangun ini bagus, dan jangan sampai menjadi kumuh serta menimbulkan ketidaknyamanan bagi pengunjung,” ujarnya. (bls/and)