Pupuk Subsidi Langka, Dekan Faperta: Lakukan Evaluasi Berkala

Ponticity

Editor Admin Dibaca : 625

Pupuk Subsidi Langka, Dekan Faperta: Lakukan Evaluasi Berkala
Ilustrasi. (SP)
PONTIANAK, SP - Dekan Fakultas Pertanian Untan Pontianak Radian menilai selama ini pupuk subsidi sangat diperlukan petani. Namun jumlahnya  kurang, padahal setiap tahun pemerintah punya program cetak sawah, otomatis luasan bertambah.

Sementara jumlah pupuk subsidi tidak seimbang dengan luasan tersebut. Akhirnya kekurangan terjadi. Selain itu, jika dilihat dari cara menebusnya, pupuk tidak diberikan dulu pada petani baru dibayar.

"Ada usulan lebih dulu lewat pihak desa hingga kecamatan. Selama ini memang petani mengeluhkan soal pengisian kuota permintaan. Namun saya pikir hal ini memang wajib untuk menentukan jumlah pupuk subsidi," kata Radian, kemarin.
 
Sementara penyalurannya lewat distributor dan petani harus membayar itu lebih dulu. Semestinya tidak seperti itu. Barang itu sudah ada di kios dan ada pihak yang jadi koordinator.

Selain itu soal biaya angkut. Di mana pupuk tidak langsung dibawa ke kelompok tani. Hal ini yang jadi kendala. Padahal pupuk memiliki jangka waktu. Adanya mekanisme prosedural tersebut bisa menyebabkan kendala waktu.

"Pupuk bersubsidi sangat penting bagi petani. Jika tidak disubsidi, harga pupuk mahal. Jika pasukannya kurang, maka produksi bisa menurun," ujarnya.

Dari sisi kualitas, untuk urea dan sebagainya, kualitasnya baik. Sampai saat ini belum ditemukan perbedaan kualitas antara pupuk bersubsidi dan tidak.

Selain itu pupuk perlu ada kontrol pemerintah apakah subsidi pupuk sampai ke petani. Harus ada laporan agar bisa dievaluasi. Tak hanya pupuk, soal benih juga mesti jadi perhatian. Banyak kendala kelangkaan benih di petani Kalbar. Baik itu jumlah maupun mutu.

Dia melanjutkan, persoalan kelangkaan pupuk sebenarnya sudah jadi masalah tiap tahun. Namun apa yang dilakukan selama ini masih dirasa kurang optimal. Semestinya untuk menangani ini, tak hanya dengan mengandalkan dana pusat, dana daerah bisa juga dikucurkan.

Memang ada perubahan yang terjadi tiap tahun, mulai dari luasan lahan pertanian, musim yang berubah, karena itu perlu ada evaluasi tahunan. Jangan sampai ketika sudah tanam, pupuk belum juga datang.

"Harus ada perubahan ke arah yang lebih baik. Perlu juga ada kajian tentang hambatan petani akibat perubahan iklim," tutupnya. (bls)