Media Sosial Sarana Revolusi Mental

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 666

Media Sosial Sarana Revolusi Mental
Ilustrasi
PONTIANAK, SP - Sekretariat Revolusi Mental, Kementerian Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Republik Indonesia, Heri Nugroho menyampaikan revolusi mental bisa dikampanyekan lewat media sosial. 

Salah satunya dengan bijak dalam menyikapi perkembangan digital, khususnya generasi muda. Apalagi para pelajar yang notabene agen perubahan.

"Kita mengajak pelajar dan warganet memanfaatkan media sosial secara positif sebagai implementasi dari ajakan perubahan Gerakan Nasional Revolusi Mental," ucap Heri usai Pelatihan Media Sosial Pertama bagi pelajar dan Sarasehan Netizen di Hotel Aston, Selasa (19/9).

Agenda yang diikuti 50 perwakilan pelajar dan enam guru terpilih dari tiga kabupaten/kota itu, membahas soal cara-cara asyik menyebarkan semangat revolusi mental di media sosial. Peserta juga dilatih untuk peka dalam mendeteksi berita hoax dan memperbanyak unggahan konten positif dari kehidupan sehari-hari.

"Para peserta ini akan menjadi duta positif bermedia sosial di masing-masing sekolah dan dapat menyebar atau memviralkan hal positif di kalangan pelajar, bahkan masyarakat umum," tambahnya.

Di akhir acara, para pelajar ditantang untuk membuat gerakan aksi mengunggah kegiatan kreatif dan menarik di media sosial masing-masing. Kontennya, berisi ajakan perubahan Revolusi Mental dengan tagar #ayoberubah2017 #RevolusiMental. 

Selain itu, di hari yang sama juga digelar diskusi menyoal UU ITE. Dengan agenda ini, diharapkan kalangan pelajar, para relawan dan warganet bisa menjadi contoh baik dalam menginformasikan berbagai hal, terkait melayani, bersih, tertib, mandiri dan bersatu.

Satu di antara pemateri dari Tim Media Digital Revolusi Mental, Reni Wardaningsih menyampaikan, dia memberikan materi soal media sosial. Saat ini banyak sekali berita bohong beredar. Dia malah berujar seperti tren, berita-berita seperti itu mudah menyebar. 

"Orang-orang saat ini trennya lebih suka menyebarkan berita yang ranahnya negatif, jadi kita ingin memberikan sosialisasi pada anak-anak muda," sambungnya. 

Adanya gerakan revolusi mental, diharap bisa jadi gerakan perubahan. Mengubah pola pikir masyarakat yang dimulai dari para pelajar. Karenanya, para pelajar diajari untuk menyebarkan konten positif di media sosial. 

"Saat ini banyak sekali, seperti meme-meme yang bisa menyinggung kelompok lain dan sebagainya. Banyak sekali efek yang ditimbulkan dari berita hoax ini, dan saat ini malah membuat resah warga," pungkasnya. (bls/and) 

Komentar