BNNP Kalbar Musnahkan Dua Kilo Sabu

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 574

BNNP Kalbar Musnahkan Dua Kilo Sabu
PEMUSNAHAN – Pemusnahan barang bukti sabu-sabu sebanyak dua kilogram oleh pihak BNNP Kalbar, Senin (25/9). Sabu-sabu ini, hasil pengungkapan kasus yang melibatkan warga binaan di Lapas Kelas II A Pontianak. SP/Abdul
PONTIANAK, SP – Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Kalimantan Barat, kembali memusnahkan barang bukti narkoba jenis sabu-sabu sebanyak dua kilogram, di Kantor BNNP Kalbar, Jalan Parit Haji Husein II, Kecamatan Pontianak Tenggara, Senin (25/9).

Kepala BNNP Kalbar, Brigjen Pol Nasrullah mengatakan, dua kilo sabu yang dimusnahkan ini merupakan hasil tangkapan pada kasus tertanggal 14 September lalu, yang dikendalikan oleh dua penghuni Lapas Kelas II A Pontianak, berinisial BN dan DK.

"Tujuan pemusnahan ini untuk mengurangi citra. Karena, zaman dulu itu kalau sudah banyak barang kemudian dibawa ke pengadilan sebagian, yang lainnya menjadi persoalan,” katanya.

Nasrullah mengatakan, berdasarkan perintah Undang-undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika, maka diwajibkan pula agar tidak terlalu lama menyimpan barang bukti hasil tangkapan.

Sebelum dimusnahkan, barang bukti hasil tangkapan tersebut terlebih dahulu diperiksa oleh pihak kejaksaan. Setelah itu, berdasarkan persetujuan jaksa, maka baru dimusnahkan.

Dalam pemusnahan sabu ini, turut dihadiri langsung oleh Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM Kalbar, Rochmad Iman Santoso. Usai dilakukan uji tes, pemusnahan pun digelar dengan cara dibakar menggunakan incenerator. 

Kepala Kanwil Kemenkumham Kalbar, Rochmad Iman Santoso saat diwawancarai usai gelar pemusnahan tersebut mengatakan, dengan penangkapan dua warga Lapas, membuktikan bahwa masih ada celah bagi sindikat narkoba mengedarkan narkoba dari dalam Lapas.

Sementara disinggung soal temuan alat komunikasi dari tangan dua warga Lapas pengendali sabu dua kilogram itu, Rochmat pun mengatakan, bahwa para sindikat ini memang punya cara banyak mengelabui petugas. 

"Ini jadi delimatis. Program kita, gak boleh penghuni Lapas melakukan komunikasi menggunakan alat komunikasi handphone," katanya.

Dia pun mengatakan, dengan keterbatasan tenaga di Lapas menjadi kendala tersendiri dalam pengawasan narapidana. "Kita dalam melakukan operasi (razia) di dalam Lapas, juga hati-hati. Karena mereka jumlahnya banyak," ungkapnya.

Dia juga membantah, jika pihak Lapas kecolongan atas penangkapan dua warga binaan sebagai pengendali narkoba jenis sabu tersebut.

"Kita bekerja sama-sama. Kita capek. Kita semua berusaha. Susah ini ngurusin Lapas. Apalagi yang diurus orang-orang bermasalah," ujarnya.

Meski demikian, dia mengaku, kejadian ini tentu menjadi suatu perhatian, agar ke depan lebih memperketat lagi pengawasan terhadap warga binaan. (abd/and)

Komentar