Ingin Benahi Olahraga Kalbar, Ini Kata Pengamat...

Ponticity

Editor Admin Dibaca : 519

Ingin Benahi Olahraga Kalbar, Ini Kata Pengamat...
TAK DIRAWAT - Jalan dan area lokasi di sekitar Stadion Sultan Syarif Abdurrahman tak terurus dan rusak. Padahal fasilitas lapangan olahraga ini, merupakan tempat yang seharusnya dipelihara untuk membina prestasi bagi atlet-atlet di Kalbar. (Umr/SP)
PONTIANAK, SP - Pengamat olahraga Kalbar, Viktor Simanjuntak menilai, ada berbagai cara yang bisa dilakukan untuk membenahi olahraga di Kalimantan Barat. Salah satunya dengan kerja sama dengan pihak ketiga. Tapi perlu orang-orang kuat untuk mendekati. Orang penting yang berpengaruh. Yang pasti harus ada simbiosis mutualisme.

"Masalahnya, siapa yang bisa melakukan itu. Apakah pengusaha yang ada mampu? Apalagi sekarang KONI dipimpin pengusaha. Tapi jika dilihat, misalnya Persipon Pontianak yang sering kekurangan dana, sulit juga untuk mendekati pengusaha," kata Viktor, kemarin.

Sekali kerja sama mungkin iya, tapi tidak berulang. Apalagi kalau tidak ada keuntungan yang didapat. Walau kalau dilihat ada banyak perusahaan besar di Kalbar. Tapi tentu mereka juga punya hitung-hitungan.

Jika bisa menuju industrialisasi olahraga memang baik. Jadi segala hal yang berkaitan dengan olahraga, ada kontribusi keuangan, jangan hanya konsumtif.
Persoalan di daerah kita selama ini konsumtif. Terus menerus mengeluarkan uang untuk olahraga.

"Ada banyak hal yang bisa menuju ke era itu. Misal membuat sarana olahraga yang bagus dan dimanfaatkan untuk mendapatkan jasa sewa," ujarnya.

Masalah lain ada di pengelolaan olahraga kita yang belum profesional. Yang namanya industri olahraga harus profesional dalam pengelolaan agar pihak lain ikut tertarik. Senang merasa ikut serta.

"Kalau diperkirakan, rasanya masih jauh untuk industrialisasi olahraga di Kalbar. Yang ada selama ini orang hanya sekadar suka berada di sana. Belum profesional. Untuk mencapai itu perlu pelatihan-pelatihan," urainya.
 
Secara umum, prestasi cabang-cabang olahraga tertentu memang bagus. Tapi masalahnya biasa, kurang suntikan dana.

"Mereka tertatih-tatih juga. Karena tidak ada olahraga yang tidak memerlukan dana. Makanya kembali ke persoalan industrialisasi olahraga tadi," tutupnya. (bls/lis)