Tahun Ini Terparah Wabah Rabies

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 613

Tahun Ini Terparah Wabah Rabies
HPR – Hewan Pembawa Rabies (HPR) di Kalbar, didominasi oleh anjing. Pada tahun ini, kasus gigitan anjing dan korban meninggal akibat rabies, tertinggi dari tahun sebelumnya. SP/Umar
PONTIANAK, SP – Kasus gigitan Hewan Pembawa Rabies (HPR) dalam hal ini anjing dengan jumlah 1.554 kasus dan 19 orang meninggal dunia dari total seluruh kabupaten, membuat Kalbar berstatus tanggap darurat rabies.

"Kalau sekarang sudah disebut tanggap darurat, sudah wabah kejadian luar biasa," ujar Kepala Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Pangan Peternakan dan Kesehatan Hewan (Dispanakkeswan) Kalbar, Ahmad Djauhari, kepada wartawan di ruang kerjanya, Kamis (28/9).

Djauhari membeberkan, jika dibandingkan dari tahun-tahun sebelumnya, jumlah kasus gigitan dan korban meninggal di 2017 sangat fantastis. Angka ini terhitung dari Januari sampai 26 September.

Pada 2014 terjadi 116 kasus dan 14 orang meninggal. Di 2015 terdapat 763 kasus dan 5 orang meninggal. Sedangkan 2016 ada 1.189 dan 11 orang yang meninggal.

Ada 11 kabupaten yang tertular wabah rabies, yaitu Ketapang, Melawi, Sintang, Kapuas Hulu, Bengkayang, Sanggau, Sekadau, Landak, Mempawah, Kubu Raya dan Kayong Utara. Sementara di Kota Pontianak, Singkawang dan Kabupaten Sambas kasus ini belum ditemukan.

Djauhari mengatakan, jumlah tertinggi kasus gigitan terjadi di Kabupaten Sanggau dengan 793 kasus. Demikian pula korban meninggal, Sanggau terbanyak dengan 13 orang.

"Dari 19 orang yang meninggal ini, tiga di Kabupaten Sintang, satu di Kabupaten Kapuas Hulu, 13 di Kabupaten Sanggau, Sekadau itu satu orang, Landak satu orang," jelasnya.

Dia mengungkapkan, pihaknya bersama dinas terkait juga telah melakukan uji laboratorium terhadap HPR. Hasil pemeriksaan dari sampel otak anjing yang dikirim, 38 sampel positif rabies.

Guna tidak kembali terjadi korban meninggal lagi, dari 1.554 kasus tersebut, sebanyak 1.397 orang yang sudah diberikan suntikan Vaksin Anti Rabies (VAR).

Tenaga Vaksinator

Selain itu, lanjut Djauhari, pihaknya juga telah melatih kalangan pemuda dan Babin Kamtibmas untuk menjadi tenaga vaksinator di setiap kabupaten.

Saat ini, sekitar 350 vaksinator yang sudah dilatih. Jumlah ini, kata dia, belum mencukupi untuk mencegah di setiap desa di Kalbar yang jumlahnya ribuan. Setidaknya, per desa dibutuhkan dua vaksinator untuk pencegahan penyakit ini.

"Kemungkinan tahun depan masih kita lakukan pelatihan. Karena kemarin keterbatasan dana, kita hanya bisa melatih 180 di Sanggau," katanya.

Meski sudah membentuk tenaga vaksinator, namun tugas mereka belum pada tataran pemberian vaksinasi melainkan baru pendataan jumlah anjing yang ada di setiap daerah.

Sementara terkait stok vaksin, Djauhari menerangkan, di setiap kabupaten/kota  sudah mencukupi. Kalau pun kurang, Pemprov dengan segera menyuplai kekurangan di daerah. "Kalau masih kurang, kita bisa mintakan ke Pusat," ujarnya.

Dia menjelaskan, untuk HPR yang telah divaksin, selanjutnya akan diberi tanda. Dispanakkeswan juga telah menyediakan tanda yang siap dikirim ke masing-masing kabupaten. "Namanya collar," ucapnya.

Djauhari berharap, semua pihak agar mewaspadai persoalan rabies. Terlebih kepada tiga daerah yang belum tertular. Dia meminta pihak terkait untuk giat memberikan pengetahuan melalui berbagai kesempatan ke masyarakat.

"Ini yang kita selalu harapkan ke teman-teman di kabupaten, terutama yang di tiga daerah untuk selalu waspada melakukan kegiatan-kegiatan sosialisasi, koordinasi, supaya tiga daerah ini tidak tertular," harapnya. (umr/and)

Komentar