Makna Tradisi Berseprah: Duduk Sama Rendah, Makan Sama Mewah

Ponticity

Editor Admin Dibaca : 824

Makna Tradisi Berseprah: Duduk Sama Rendah, Makan Sama Mewah
TRADISI BERSEPRAH - Panitia mempersiapkan peralatan makanan sebelum pelaksanaan tradisi berseprah di Rumah Melayu, Pontianak, kemarin. (Bls/SP)
Indonesia memiliki beragam budaya dan tradisi yang mengajarkan makna persaudaraan, toleransi, dan kebersamaan. Seluruh makna itu, bila dihayati dan diamalkan, sanggup menjaga kerukunan dan menghilangkan sikap radikal, mau menang sendiri, atau benih-benih perpecahan di bangsa ini. Budaya itu, satu di antaranya, tradisi beseprah.

Semua duduk bersila, saling hadap, beradu lutut. Di depan mereka, nasi uduk, semur daging sapi, opor ayam, sambal wan dolah, paceri nenas, slade, air serbat sampai air kobokan, disusun rapi dalam keadaan tertutup. Urutannya jelas, tak boleh tertukar. Menu apa yang ada di depan siapa, wajib ditawarkan lebih dulu ke kanan-kiri. Jika sudah, baru dia yang menikmati.

Namun semua tak seketika ada. Sajian makanan harus tersedia lebih dulu dalam keadaan tertutup, sebelum majelis makan beseprah datang. Saat mereka sudah duduk dan doa dipanjatkan, baru majelis makan berjamaah. Itu pun setelah kepala seprah yang duduk di depan, antara dua banjar tamu yang saling hadap, mempersilakan.

“Dalam beseprah ini, semua duduk beradu lutut (sila), artinya semua sama di mata Allah. Mau raja, mau rakyat. Yang membedakan ilmu. Makanya selalu yang dijadikan penghulu (kepala) beseprah itu seorang mufti atau sekarang ulama atau ustaz atau habib,” cerita Sekretaris Pribadi (Alm) Sultan Syarif Abubakar, Sultan Pontianak ke-VIII, Mohammad Donny Iswara.

Di Istana Kadriah Pontianak, tradisi makan bersama ini kerap digelar setiap acara besar Islam. Istana Kadriah memang pusat peradaban Islam dan Melayu di Pontianak, Kalimantan Barat. Maka selain hari besar Islam, acara adat juga jadi tempat tradisi ini dijalankan. Tiap agenda, beseprah jadi penutup acara.

Misalnya dalam penobatan Putra Mahkota, Syarif Machmud Melvin Alkadrie menjadi Sultan Pontianak ke IX, Juni kemarin. Ribuan orang makan bersama, tak peduli pangkat, jabatan, agama, suku, semua merasakan semur daging sapi dan opor ayam masakan istana. Hanya karena ruang istana yang terbatas, tidak semua bisa masuk ke dalam dan akhirnya makan di bawah tenda yang disiapkan.

Dalam ruang utama singgasana, hanya bisa untuk dua seprah. Satu seprah panjang dengan kain berbahan satin warna kuning jadi alas. Di pinggirnya, hiasan kelim atau rimple menambah meriah. Seprah utama ini diperuntukkan bagi Sultan dan tetamu kehormatan. Satu seprah lagi biasanya untuk kerabat istana. Sementara tamu lain makan di balai-balai luas depan ruang singgasana.

“Umumnya Haul 1 Muharram, milad Pontianak setiap 23 Oktober, dan gelar adat khusus yang dilaksanakan di dalam Istana Kadriah akan dilaksanakan pula makan beseprah,” tambah Donny Iswara.

Di masyarakat, ada sedikit perbedaan seprah. Biasanya setelah doa, baru makanan datang beriringan untuk disusun di tengah majelis dan langsung makan. Dari menunya juga ada tambahan, nasi kebuli.

“Di atas seprah, sudah tidak ada lagi suku, yang ada saling mendoakan dan saling menyerahkan makanan yang ada didekatnya. Itu uniknya. Sama seperti dimulai dengan mencuci tangan di mana kita yang posisinya dekat dengan pencuci tangan, mengangkat kobokan itu lalu mempersilakan kiri dan kanan kita buat mencuci tangannya, baru kita yang terakhir,” jelas Donny menambahkan.

Melihat itu, tak heran jika Istana Kadriah Pontianak jadi tempat yang aman dan nyaman bagi siapa saja. Apalagi Pontianak yang demikian hetegoren penduduknya. Ibu kota provinsi, tempat di mana tiga suku mayoritas, Melayu, Dayak dan Tionghoa berbaur.

“Secara tak langsung redalah konflik, karena selain sama-sama makannya, apa yang kita makan itu juga yang dimakan oleh semua. Sejak zaman Sultan Pontianak yang pertama bertahta pun, hal ini sudah diperkenalkan sebagai salah satu cara memangkas perbedaan dan toleransi,” tutup Donny.

Budayawan Kalbar, Syafaruddin Usman menerangkan, tradisi makan beseprah menggambarkan rasa persatuan dan kesatuan, tanpa ada pembeda di tengah masyarakat yang majemuk. Beseprah kini, tidak dominan milik masyarakat Melayu, tapi merupakan kebudayaan dari rumpun Melayu yang mengglobal. Contohnya, makan lesehan yang memodifikasi beseprah.

Saat ini, sudah banyak restoran, hotel dan rumah makan yang mengadopsi konsep beseprah di tempat mereka. Dalam agenda Hari Jadi Kota Pontianak yang rutin menggelar Festival Berseprah pun, tak jarang pesertanya di luar masyarakat Melayu. Hal ini menunjukkan bagaimana kebudayaan jadi pemersatu.

Dari segi menu makanan, Syafaruddin mengungkapkan ada kemajemukan. Semua dikemas dalam aneka rasa sajian, manis, asam sampai gurih.

“Semua itu mengandung makna filosofis bahwa masyarakat kita yang komunal ini, berawal dari keberagaman. Mulai dari cita rasa, tata busana, tata boga dan lain sebagainya,” imbuhnya.

Malah, tiap makanan, punya filosofi masing-masing. Misal opor ayam melambangkan lemak manis. Menggambarkan jerih payah dalam hidup. Sementara sambal wan dolah, walau pedas asam, di situlah letak kenikmatan.

Atau air serbat, minuman tradisional yang selain higienis, punya kualitas vitamin nonkolesterol. Air serbat punya cita rasa tersendiri karena dibuat dari akar kayu, sepang, kunyit, kencur, atau jahe yang membangkitkan selera.

“Maknanya bagi Melayu (air serbat) itu minuman penutup. Artinya kalau sudah keluar air serbat, itu berarti selesailah rangkaian acara. Bahasa orang kampung itu air pengusir,” katanya.

Dia pun mengulang, memuliakan tamu dengan beseprah duduk di bawah, berarti mengundang tamu, siapa pun tanpa memandang kelas, atau derajat. Tak peduli raja, rakyat pejabat, guru atau murid. Semua duduk sama rendah, makan sama mewah. (kristiawan balasa)