Selasa, 12 November 2019


Masyarakat Kawasan Kumuh Bakal Direlokasi

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 689
Masyarakat Kawasan Kumuh Bakal Direlokasi

KAWASAN KUMUH – Aktivitas anak-anak di bantaran Sungai Kapuas, Kecamatan Pontianak Timur, belum lama ini. Daerah tersebut adalah kawasan kumuh dan masuk dalam program pengentasan yang ditargetkan rampung tahun 2019. Dok SP

PONTIANAK, SP – Wali Kota Pontianak, Sutarmidji akan merelokasi penduduk di kawasan kumuh yang tinggal bukan di tanah milik mereka. 

Beberapa kawasan yang akan direlokasi di antaranya di Jalan Kartini, Kecamatan Pontianak Kota. Penduduk di sana merupakan eks pengungsi kerusuhan Sambas yang tidak tinggal di tanah mereka. 

"Mereka bekas pengungsi Sambas. Kita ini kan kawasan kumuh ini, ada kawasan pengungsi juga saya lupa di mana, itu nanti diselesaikan," kata Midji, usai membuka acara Memorandum Rencana Program Pencegahan dan Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh Kota Pontianak di Hotel Orchadz, Kamis (5/10).

Bukan hanya di kawasan itu, ada pula di kawasan pemulung di Komplek Palapa. Penduduknya nanti akan direlokasi. Selama ini, mereka mendiami lahan milik pemerintah provinsi. 

Kawasan kumuh di Pontianak kini seluas 64 hektare dengan wilayah menyebar. Tahun ini penanganan dilakukan di Kelurahan Tambelan Sampit, kemudian Kelurahan Banjar Serasan, Kecamatan  Pontianak Timur. Kawasan kumuh memang banyak berada di bantaran sungai, parit atau drainase primer.

"Misalnya di Parit Nenas ada satu titik mau digenahkan, kemudian di Gang Syukur, Parit Tokaya, nanti dipindah ke rumah susun. Dan tahun ini kami bicarakan ini penanganan di Banjar Serasan. Nanti Banjar Serasan itu bisa menghilangkan kawasan kumuh sekitar lebih dari empat hektare," ucapnya. 

Untuk wilayah kumuh dekat drainase, dia mencontohkan di Gang Rambutan, Gang Saga, Gang Jarak, Gang Durian dan sebagian Jeruju di Kecamatan Pontianak Barat. 

"Dari 4.100 gang yang kita punya, sekarang 3.000 berkembang, kemudian dari 3.400 RT, kawasan kumuhnya tinggal 161 RT. Saya harap di tahun 2018 bisa diselesaikan separuhnya, jadi tinggal sekitar 80 RT. Kemudian yang berat itu kita keroyok ramai-ramai," yakinnya. 

Jika dilakukan bersama, dia yakin 2019 kawasan kumuh kota tuntas. Awal menjabat pada 2009, setidaknya ada 246 hektare kawasan kumuh di Pontianak. Dia meminta pengurus RT ikut proaktif. Urusan drainase, sanitasi dan jalan lingkungan gang, harus diperhatikan betul. Pengentasan kawasan kumuh menurutnya bisa dilakukan dengan pendekatan per variabel. 

"Kalau itu saluran, selesaikan semua. Menyelesaikannya per variabel. Yang berat itukan kalau itu rumah tak layak huni, dan itu rumah sewa,” ungkapnya.

Seperti halnya di Gang Walet, kawasan kumuh tersebut karena perumahan. “Kampung Sawah rumahnya dempet-dempet, sampai angin pun payah masuk. Dibangunkan sanitasi komunal rusak, tinggal penanganan secara parsial saja," bebernya. 

Maka dari itu, variabel kekumuhan tiap RT harus jelas. Namun demikian, untuk urusan jalan dan saluran air, dia memastikan akan selesai 2018.

"Kalau air bersih sepanjang pipa sekundernya sudah ada, pasang saja pipa terseiernya. Kita tahun depan akan ada 300 gang dan Rp9 miliar untuk MBR. Itu bisa 3000 sambungan Rp9 miliar itu," pungkasnya. (bls/and) 


  •