Ramai-ramai Bersihkan Sungai Kapuas

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 585

Ramai-ramai Bersihkan Sungai Kapuas
BERSIH-BERSIH - Para relawan dari berbagai komunitas ambil bagian dalam Indonesia Clean Up Day, di tepian Sungai Kapuas dan Pasar Parit Besar, Minggu (8/10) pagi. SP/Balasa

Indonesia Clean Up Day


Setidaknya 500 relawan ambil bagian dalam Indonesia Clean Day, Minggu (8/10). Mereka bangun pagi dan siap kotor-kotoran, membersihkan tepian Sungai Kapuas dan Pasar Parit Besar. Semangat menjaga lingkungan ini diwujudkan untuk bumi tanpa sampah.

SP - Indonesia Clean Up Day merupakan rangkaian acara serentak menuju World Clean Up Day yang akan dilaksanakan 15 September 2018. Panitia Indonesia Clean up Day, Windy Sintiya dari Komunitas Earth Hour menjelaskan, setidaknya ada 20 komunitas Pontianak ikut serta. Sementara di level nasional, ada 100 ribu relawan bergabung. Di Kalimantan Barat, agenda serupa diadakan di Pontianak dan Sintang.

"Kegiatan hari ini akan terus dilanjutkan dengan berbagai program lanjutan yang tujuannya mendorong terwujudnya Pontianak Bebas Sampah 2020," terang Windy.

Indonesia Clean Up Day juga diselenggarakan sebagai bagian memperingati Hari Sungai Internasional yang jatuh 24 September lalu. Gerakan komunitas ini ingin mengajak masyarakat agar lebih sadar bahwa bumi perlu dijaga.

Lingkungan juga mesti diperlakukan dengan baik. Contoh kecilnya, dengan tidak membuang sampah sembarangan. Semua penghuni bumi, punya tanggung jawab sama.

"Pontianak Bebas Sampah tidak akan terwujud kalau kesadaran masyarakat sendiri tidak ada. Karena itu harapan saya masyarakat semakin pedulilah pada lingkungan, pada bumi yang menjadi rumah kita," pungkasnya.

Wali Kota Pontianak, Sutarmidji mendukung gerakan ini. Pemkot tengah berupaya mengubah wajah kota lewat sungai. Water front pun dibangun dan dalam dua tahun ke depan, dia yakin proyek itu akan selesai. Orang bisa datang, menikmati sungai terpanjang di Indonesia itu dengan kaca mata lain.

Sungai Kapuas yang melewati tujuh kabupaten dan bermuara di Pontianak memang perlu ditangani bersama. Utamanya soal sampah. Semisal tanaman bakung, atau kayu-kayu.

"Kadang buang enceng gondok itu dihanyutkan saja ke sungai, harusnya dinaikkan ke darat. Kemudian kayu, tapi ke depan kayu sepertinya tidak akan ada karena sesuai dengan  kebutuhan masyarakat," ucapnya.

Ketegasan terhadap para pembuang sampah juga dia sampaikan. Apalagi ada banyak pasar di Pontianak yang langsung berdampingan dengan sungai. Salah satunya Pasar Parit Besar yang jadi sasaran kegiatan pagi itu. Tak mungkin jika terus-menerus komunitas turun membersihkan, pedagang di sana harus peduli sekitar.

"Ke depan saya akan terapkan, kalau di kawasan dia kumuh, kiosnya saya bongkar, pindah semua ke tempat lain, karena dia tidak bisa menjaga kawasan parit besar itu. Buang sampah, kadang bawang berkarung, itu kan ndak benar," kesalnya.

Tak cuma pedagang, dia juga mengingatkan warga yang tinggal di tepian sungai. Selama ini, kawasan kumuh kota umumnya berada di tepian sungai. Walau sudah dipasang turap dan dibikin water front, jangan malah jadi tempat buang sampah.

"Yang di tepi sungai juga, jangan mentang-mentang sudah diturap, buang seenaknya sampah di situ, itu kan tidak benar. Airnya jadi tercemar. Penegakan hukum InsyaAllah akan kita lakukan supaya mereka yang melakukan pelanggaran kapok," tegasnya.

Pemkot katanya akan segera memberlakukan sanksi tindak pidana ringan bagi mereka yang buang sampah ke sungai.

"Kalau dapat, pengadilan dendanya jangan murah-murah, kalau dapat dua sampai lima juta. Kalah ndak gitu ndak selesai urusan disiplin itu," pungkasnya. (kristiawan balasa/ind)

Komentar