Mendekam di Penjara Malaysia sebagai Pendatang Ilegal

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 638

Mendekam di Penjara Malaysia sebagai Pendatang Ilegal
DEPORTASI - Sejumlah Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah (TKIB) dideportasi dari Malaysia, belum lama ini. Mereka dipulangkan melalui PLBN Entikong. Rata-rata, persoalan TKIB yang dideportasi ini karena tak memiliki dokumen resmi seperti paspor. SP/Indra

75 TKI Bermasalah Dideportasi


Cerita duka menyelimuti para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang dideportasi dari Malaysia. Sebelum dipulangkan, mereka mengaku sempat mengalami penyiksaan di penjara Malaysia.

SP - Pemerintah Negara Malaysia kembali mendeportasi 75 Tenaga Kerja Indonesia Bermasalah (TKIB) melalui Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Entikong, Kabupaten Sanggau Kalbar, Rabu (11/10) malam. Rata-rata, persoalan TKIB yang dideportasi ini karena tak memiliki dokumen resmi seperti paspor.

Ke 75 orang TKIB yang dideportasi tersebut, kini telah berada di Shalter Dinas Sosial Provinsi Kalbar yang berada di Jalan Sultan Syahrir Kota Baru Pontianak. 

"Pasapor saya hilang, sama dompet karena dicuri. Hilangnya setahun yang lalu. Tapi waktu masuk saya punya paspor," kata Saparuddin, satu diantara TKI yang dideportasi kepada Suara Pemred, Kamis (12/10).

Di sebuah ruang yang ada di Shalter Dinsos Kalbar, Saparuddin mengaku dia berasal dari Sulawesi. Pertama kali masuk ke Malaysia untuk menjadi TKI yakni di tahun 2002 silam. Dia pun sempat pulang ke Kalbar tahun 2015, karena menikah dengan orang Sambas.

Usai menikah, dia kembali masuk ke Malaysia. Di Malaysia dia bekerja sebagai buruh perusahaan sawit. Menurutnya, upah sebagai buruh di Malaysia lebih tinggi dibanding di indonesia.

"Kalau di Malaysia itu, hasil kita bekerja separuhnya masih bisa di tabung. Per bulan itu saya digaji sekitar 1.700 ringgit. Itulah yang membuat saya mau bekerja di sana," katanya.

Kendati demikian, Baharuddin pun mengaku juga tidak menyesal karena telah dideportasi. Dia pun mengutarakan belum punya pikiran untuk kembali bekerja menjadi TKI lagi. 

Terlebih rasa trauma masih menempel diingatanya saat di penjara oleh pihak kemanan Malaysia karena dianggap sebagai pendatang ilegal. Sebelum dideportasi, dia bersama sejumlah rekannya sempat mendekam di penjara Bentulu Malaysia selama empat bulan. 

"Kami ditangkap tanggal 15 Mie 2017 lalu. Sebelum dipulangkan, kami dipenjara selama empat bulan,"ungkapnya.

Selama di penjara, Baharuddin mengaku sering mendapat tindak kekerasan dari petugas setempat. Bahakan baru-baru ditangkap, dia dicambuk oleh petugas di penjara tersebut.

"Katanya itu adalah perkenalan,"ungkapnya.

Tak hanya Baharuddin yang mengalami penyiksaan di Penjara Bintulu Malaysia. Reno yang tak lain teman Baharudin juga mengalami hal serupa.

Reno ditangkap oleh pihak keamanan Malaysia karena tak memiliki dokumen resmi saat menjadi TKI. Kepada Suara Pemred, dia menceritakan  pengalaman pahitnya selama di penjara Bintulu.

"Saya baru masuk langsung ditendang diterajang tepat di perut. Saking sakitnya, saya hampir pingsan,"ungkapnya. 

Selain itu, lanjut dia, barang-barang yang dimilikinya, seperti handphone, laptop dan uang pun ikut disita oleh pihak keamanan di sana. 

"Penjara Bintulu itu paling kejam," tutupnya. (abdul halikurrahman/ind)

Komentar