Bus Trans Pontianak 'Tak Laku'

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 1136

Bus Trans Pontianak 'Tak Laku'
MENUNGGU - Tampak Bus Trans Pontianak menunggu penumpang di halte Jalan S Parman, beberapa waktu lalu. Keberadaan bus ini dianggap belum sepenuhnya bermanfaat. Dok SP

Mengurai Persoalan Transportasi Publik 


Kadishub Kota Pontianak, Utin Srilena Candramidi 
Bus itu untuk semua pelajar dan umum, tapi untuk umum ini kurang diminati dikarenakan umum ini kan sudah memiliki kendaraan sendiri, nah sehingga banyak pelajar yang memanfaatkan

PONTIANAK, SP - Menginjak usia kian dewasa, tak dipungkiri Kota Pontianak sebagai Ibukota Provinsi Kalimantan Barat semakin berkembang. Tapi seiring perkembangan tersebut, beragam persoalan pun muncul di berbagai aspek. 

Satu di antara contohnya yang perlu segera dituntaskan adalah persoalan transportasi. Bidang ini memiliki permasalahan yang cukup kompleks. 

Jumlah kendaraan pribadi saban tahun kian bertambah. Menimbulkan dampak bagi kelancaran sistem transportasi di kota ini. Kemacetan luar biasa kerap terjadi di sejumlah titik pada waktu-waktu tertentu. 

Meski hanya suatu yang temporer, namun jika dibiarkan tanpa solusi, pasti bakal menjadi masalah yang berkelanjutan. Permasalahan ini perlu diimbangi dengan manajemen dan tata kelola transportasi yang tepat sasaran.

Pemkot Pontianak, sebenarnya sudah punya strategi untuk 'menjegal' persoalan ini. Dengan menyiapkan lima armada Bus Rapid Transit bagi masyarakat umum dan pelajar. Alih-alih bisa menyelamatkan permasalahan, bus ini malah belum beroperasi maksimal.

Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono tak menampik jika BRT atau Bus Trans Pontianak memang belum maksimal. Armada yang baru berjumlah lima buah ini, masih terbatas untuk melayani seluruh Kota Pontianak. 

Ke depan, tetap akan dibuat konsep transportasi massal, bisa berupa bus, angkot atau kereta api, namun masih akan terus dikaji.

"Ke depannya memang tetap akan dibikin konsep transportasi massal apakah nanti berupa bus, angkot atau kereta api misalnya. Ini akan kita terus kaji," katanya, kemarin.

Edi juga tak menampik, kendaraan pribadi masih menjadi primadona warga untuk digunakan dalam beragam aktivitas.

Menurutnya, untuk membuat sebuah sistem transportasi massal yang efektif butuh investasi yang besar.

"Misalnya kalau mau pakai MRT atau monorel kan investasinya besar. Jakarta saja baru mulai. Kita punya oplet, punya bus tapi masyarakat tidak menggunakan, karena lebih praktis menggunakan kendaraan bermotor. Kita tidak bisa melarang untuk tidak membeli," ungkapnya.

Edi menerangkan, itu menjadi masalah kompleks yang membutuhkan kewenangan-kewenangan tertentu guna mengatasinya. Pihaknya sendiri hanya mengatur untuk lingkungan kota, seperti pengaturan arus lalu lintas, parkir dan pengaturan arah. 

"Di lingkungan sekolah sudah kita larang gunakan kendaraan pribadi, tapi mereka parkir di luar, tidak di lingkungan sekolah," ujarnya.

Kepala Dinas Perhubungan Kota Pontianak, Utin Srilena Candramidi mengatakan pengoperasian Bus Trans Pontianak tidak hanya diperuntukan bagi pelajar saja, namun juga untuk masyarakat umum. 

Sangat disayangkan, publik masih kurang meminati moda transportasi massal ini. Menurut Utin, kebanyakan masih nyaman menggunakan kendaraan pribadi.

"Bus itu untuk semua pelajar dan umum, tapi untuk umum ini kurang diminati dikarenakan umum ini kan sudah memiliki kendaraan sendiri, nah sehingga banyak pelajar yang memanfaatkan," ujarnya.

Saat ini, dari lima bus tersebut, baru empat yang beroperasi. Diperuntukkan bagi selurh wilayah kota, kecuali Pontianak Utara. Di sini masih terdapat mayoritas oplet yang beroperasi dan agar tidak mengganggu aktivitas oplet.

Guna memaksimalkan pengoperasian bus ini, pihaknya rutin mengimbau dan merazia pelajar yang menggunakan sepeda motor. Mereka diminta agar memanfaatkan bis ini dengan penjemputan langsung di halte-halte.

"Kita sudah kerja sama dengan pihak sekolah. Anak-anak yang naik bus tunggu di mana, begitu juga pulang sekolah. Kita tidak antar jemput ke rumah-rumah karena ada halte, bus tunggu di halte," ujarnya.

Utin juga menyebutkan, sosialisasi juga kerap digelar kepada orangtua agar dapat memberikan arahan kepada anak supaya mau naik bus. Sosialisasi juga dilakukan lewat media massa.

Bus Trans Pontianak, juga bersinergi dengan angkutan umum lainnya. Menurut Utin, tidak ada masalah lantaran bus punya halte sendiri, jadi tidak mengganggu rute oplet. Pihaknya telah memberikan sosialisasi agar membenahi moda trasportasi oplet sehingga dapat menarik penumpang.

"Kita tidak mengganggu rute oplet, cuma oplet itu masyarakat yang memilih, kita sudah bilang supir oplet dibenahi opletnya supaya ada menarik juga orang untuk naik ke situ," tambahnya.

Bus di bawah pengelolaan Dishub menggunakn sopir kontrak ini, menampung hingga 40 orang penumpang dengan 20 kursi dan 20 orang jika berdiri. Dalam sehari, satu unit bus mengangkut pelajar hingga lebih dari 20 orang. 

Dengan tarif Rp2000 per orang untuk pelajar dan Rp5000 untuk umum, berdasarkan SK Wali Kota Pontianak. "Sesuai SK Wali Kota. Kita juga fasilitasi dengan AC," imbuhnya.

Utin mengatakan, sementara ini tidak ada penambahan untuk armada bus tersebut. Dia berharap, bus ini menjadi moda transportasi yang dapat digunakan oleh masyarakat.

Pilih Oplet

Sementara, Rusnah, warga Kelurahan Banjar Serasan, Kecamatan Pontianak Timur, mengaku lebih memilih oplet ketimbang bus tersebut. Naik oplet lebih cepat dan tak perlu menunggu lama. 

"Tahu, cuma saya tidak pernah naik bus, saya ini mau cepat, ada yang oplet kan cepat," ujarnya. 

Warga Kelurahan Saigon, Kecamatan Pontianak Timur, Ardi Harya yang kerap menggunakan mobil pribadi dalam aktivitasnya, mengetahui keberadaan bus ini. Tapi belum pernah mencoba.

"Pernah dengar info, tapi belum pernah naik. Biasanya pakai mobil kalau mau kemana-mana. Walaupun kena macet di tol, tidak lama," ujarnya

Membandingkan antara bus dan oplet, Ardi memilih oplet yang dianggap lebih efisien.

"Tidak tahu jalur bus. Bus itu tak pernah lewat, kalau oplet kan ada lewat-lewat terus," katanya.

Evaluasi Operasional

Anggota DPRD Kota Pontianak, Herman Hofi Munawar mengatakan, Bus Trans Pontianak jangan sampai menjadi beban Pemkot. Perlu dilakukan analisa-analisa yang cukup tajam agar moda transportasi ini betul-betul bermanfaat. Sejauh ini menurutnya, bus itu masih minim manfaat. 

"Saat sekarang bus yang ada tidak ada sekali manfaatnya dan sangat sedikit sekali anak sekolah yang mau menggunakan itu," ujarnya.

Karena itu, dia meminta Dishub bisa mengevaluasi efektivitas operasional bus dan juga halte-halte yang tersedia. Dishub diharapkan bisa berkomunikasi dengan pihak-pihak terkait yang sudah banyak berkecimpung di dunia transportasi, seperti Organisasi Angkutan Darat (Organda).

Herman juga menyoroti soal regulasi operasional bus tersebut. Pasalnya belum ada regulasi yang jelas tentang pengaturannya. Desain, juga menjadi hal yang ikut disorot. Bagaimana caranya memikat publik agar mau menggunakan bus itu melalui desain yang menarik.

"Pontianak perlu transportasi massal. Tapi masalahnya, kota ini belum punya grand design transportasi kota. Seharusnya sudah punya. Dari lima tahun lalu saya sudah ingatkan. Sehingga betul-betul ada konektivitas antar daerah dan warga mau menggunakan," paparnya.

Herman mengutarakan, Pemkot perlu memikirkan desain dari fisik transportasi kota, agar masyarakat tertarik. Bukan hanya tentang transportasi saja, tapi menyangkut nilai wisata. 

Selain itu perlu pula penataan jalur yang dahulu pernah digunakan oleh jalur oplet, agar ditinjau kembali sehingga jalur transportasi bisa memancing investor untuk ikut berinvestasi di bidang transportasi. (aan/and)

Komentar