Senin, 23 September 2019


600 Sepmot Diamankan Sepanjang 2017

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 410
600 Sepmot Diamankan Sepanjang 2017

RAZIA - Dinas Perhubungan Kota Pontianak saat menggelar razia kendaraan bermotor pelajar SMPN 22, Kamis (26/10) pagi. Selama medio 2017 ini, sedikitnya 600 sepeda motor siswa berhasil diamankan. (SP/Balasa)

Razia Kendaraan Siswa SMP


Dinas Perhubungan Kota Pontianak, kembali mengamankan sepeda motor yang dikendarai siswa SMP. Kali ini, sedikitnya sembilan sepeda motor diamankan ke Polresta Pontianak dari siswa SMPN 22, Kecamatan Pontianak Selatan, Kamis (26/10). 

SP - Motor-motor itu diparkir tidak begitu jauh dari sekolah. Ada pula yang kedapatan parkir di sekolah, siswa itu beralasan sedang membawa tanah bakar. 

Satu di antara siswa lain yang membawa motor, Muhammad Kevin mengungkapkan, dia memang sering membawa motor ke sekolah. Siswa kelas IX D yang tinggal di Jalan Karya Baru VII ini mengaku diperbolehkan orangtua. 

Alasannya, cukup jauh jika ke sekolah berjalan kaki, sementara tak ada yang mengantar.

"Tidak ada yang antar, ada guru yang tahu, beberapa orang. Guru bilang ndak boleh bawa motor, cuma di rumah ndak ada yang antar," katanya.
Orangtua Kevin bekerja sebagai juru parkir pasar. Sementara sang ibu tidak bekerja.

"Tidak apa bawa motor, dari pada jalan kaki," ucapnya ketika ditanya izin dari orangtua.

Kepala SMPN 22, Heppi Fitri Yenny menyatakan, pihaknya sudah cukup sering mengingatkan siswa. Dalam aturan tata tertib sekolah, sudah jelas kalau siswa dilarang membawa kendaraan bermotor. 

Orangtua siswa pernah dipanggil. Begitu juga siswa yang sebelum ini pernah kedapatan bawa motor, mereka sudah menandatangani surat pernyataan.

"Ke orangtua sudah kami panggil, bikin surat pernyataan dan surat peringatan, tanda tangan di atas materai, jika kedapatan bawa lagi dan diambil polisi, kami tidak bertanggung jawab lagi," katanya.

Sementara soal terulangnya kasus serupa, dia mengatakan pihaknya pun serba salah. Tidak mungkin dilakukan pengecekan satu-satu ke rumah siswa.

"Kami sudah ambil tindakan, kalau memang masih juga bawa motor, maka anak bapak ibu silakan ambil dari sekolah ini, artinya mengundurkan diri dari sekolah ini," tegasnya.

Soal adanya siswa bawa motor ke dalam lingkungan sekolah, dia berujar bukan pihak sekolah menyuruh masuk. Di jam sama, satpam bisa jadi kecolongan karena yang diawasi bukan hanya SMPN 22 tapi juga SMAN 10 dan orang yang berdagang di sana.

"Selama ini mereka curi-curi masuk ke sana. Alasan bawa tanah ke sekolah, bukan suruh masuk pakai motor ke sekolah. Karena yang dijaga (satpam) ramai, mobil masuk juga, itu masalahnya, kalau cuma anak SMP kita bisa tampak. Ini bergabung tiga sekolah,"  pungkasnya.

Kepala Dishub Pontianak, Utin Srilena Candramidi mengatakan, razia kali ini merupakan agenda rutin. Di razia Selasa (24/10) kemarin, ada 11 kendaraan yang diamankan dari SMPN 24 Jalan Nurali dan dibawa ke Polresta Pontianak.

"SMPN 22 jumlahnya sembilan orang, yang lebih banyak anak SMA dan sama juga dengan anak SMP karena tidak memiliki izin dan memarkir kendaraannya di luar sekolah," katanya.

Dari data Dishub Pontianak, sepanjang 2017, sudah lebih dari 600 motor diamankan. Dishub sudah berkoordinasi dengan Kasatpol PP Pontianak untuk memberikan tipiring kepada penyedia lahan bagi anak yang memarkir kendaraannya. 

Larangan itu sudah tercantum dalam Perda Ketertiban Umum. Barang bukti sudah diserahkan ke Satpol PP untuk ditindaklanjuti.

"Jadi ini tidak hanya kita kumpulkan lalu digembok, tetapi kita panggil orangnya, kita tilang dibawa ke Polresta dan panggil orangtua," tegasnya.

Utin menjabarkan, pihak sekolah sudah memberikan peringatan, tapi masih saja kecolongan. Maka Dishub dalam hal ini terus menggelar razia. Agar aturan yang ada menjadi lebih baik dan bermanfaat dengan nilai etika yang lebih baik.

Dalam melakukan razia, pihaknya memulai dengan pengintaian. Di mana siswa biasa menyimpan kendaraan mereka. 

"Kita tidak mau tahu karena sudah menjadi aturan, maka kita tetap lakukan penindakan. Jadi tidak ada alasan anak SMP membawa motor," jelasnya. 

Kendaraan yang diamankan di Polresta Pontianak harus diurus orangtua yang bersangkutan. Di mana denda yang diterapkan bernilai ratusan ribu rupiah. Utin ingin masyarakat sadar. Tidak ada alasan anak boleh berkendara motor ke sekolah. 

"Tapi kenapa membelikan anaknya motor untuk ke sekolah. Itukan sayang. Usia mereka belum selayaknya mendapatkan kendaraan itu, motor bisa dicari, nyawa kan tidak bisa dicari," pungkasnya. (kristiawan balasa/and) 


  •