Inaker Minta Kebijakan Ekspor Beras Dikaji Ulang

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 704

Inaker Minta Kebijakan Ekspor Beras Dikaji Ulang
EKSPOR BERAS - Menteri Pertanian RI, Amran Sulaiman saat peluncuran ekspor beras ke Malaysia di Desa Tunggal Bhakti, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Jumat (20/10) pekan lalu. (Dok SP)
PONTIANAK, SP - Ketua Ormas Indonesia Bekerja (Inaker) Kalimantan Barat, Andi Harun meminta Menteri Pertanian RI, untuk mengkaji ulang keputusan ekspor beras ke Malaysia yang akan dimulai 2018 mendatang. 

Hal ini menurutnya, mengingat Kalbar masih membutuhkan beras yang sangat besar.

"Harga beras tersebut akan dijual ke Malaysia dengan harga Rp7.800 per kilogram. Sedangkan saat ini di Pontianak beras dijual oleh pedagang dikisaran Rp10.800 - Rp11.500 per kilogram. Apabila ekspor ini berjalan tentunya menguntungkan negeri tetangga Malaysia," ujarnya di Pontianak, kemarin.

Menurutnya, alangkah baiknya beras murah tersebut dijual ke masyarakat saja. Terlebih Kalbar diklaim telah surplus beras.

"Mengapa masyarakat Kalbar masih membeli dengan harga yang mahal, kenapa beras yang murah tersebut tidak dijual dengan masyarakat Kalbar," tanya Andi.

Dikatakannya berdasarkan Intruksi Presiden Nomor 5 Tahun 2015, tanggal 17 Maret 2015 sudah diatur tentang aturan pembelian gabah kering dan beras. Kemudian keputusan Menteri perdagangan nomor 57/M-DAG/PER/8/2016 tentang penetapan Harga Eceran Tertinggi(HET) terhadap beras medium maupun premium. 

"Setiap wilayah harganya sudah ditetapkan. Khusus untuk di Kalimantan medium Rp9.950 dan premium Rp13.300 per kilogram," kata dia.

Dia menyebutkan, dari aturan yang ada di seluruh Indonesia untuk beras premium harganya tidak ada di bawah Rp10.000 per kilogram. Oleh karena itu, rencana pemerintah ekspor beras premium ke Malaysia dengan harga Rp7.800 per kilogram agar dievaluasi kembali. 

"Apalagi melihat kenyataan di lapangan masyarakat Kalbar masih membutuhkan beras murah dan pangan lainnya. Kalau memang ada harga beras yang murah, Inaker akan membantu pemerintah memasarkannya ke masyarakat Kalbar," ujarnya.

Andi memaparkan, bahwa sejak Juli 2016 Inaker Kalbar dilantik, sudah lebih kurang setahun tetap eksis menjual beras dan gula di sekitar Kota Pontianak dengan harga di bawah harga pasar. 

Ke depan untuk kabupaten dan kota Inaker akan dibentuk sampai dengan tingkat kecamatan.

"Selama ini kami telah melakukan kerja sama dengan Bulog Kalbar memasarkan beras maupun gula pasir kepada masyarakat, dengan harga dari Bulog beras medium Rp8.500 per kilogram dan gula pasir Rp11.300 per kilogram," pungkasnya. 

Sebelumnya, Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultura (Distan-TPH) Kalbar Heronimus Hero menyatakan, baik provinsi maupun kabupaten sudah siap melakukan ekspor beras ke negeri jiran Malaysia.

"Karena business to business sudah berjalan, ya mereka sudah siap. Masalah administrasi ringan saja yang belum," ujarnya, belum lama ini.

Dia menjelaskan, masalah administrasi ringan ini menyangkut pengurusan administrasi di tingkat Dinas Perdagangan. Namun, dia memastikan kendala ini dapat segera diselesaikan.

Dalam ekspor beras ini, Kalbar dan pihak Malaysia telah sepakat soal harga. Demikian pula dengan jumlah beras yang akan diekspor pada tahap awal ini.

"Harganya sekitar Rp7.800 (per kilo). Kemudian untuk tanda jadi, itu lima truk yang akan dikirim ke sana," ungkapnya.

Lima truk tonase beras yang akan dikirim, memang tergolong sedikit. Hero mengungkapkan, alasannya karena pihak Malaysia sedang menyesuaikan dengan anggaran akhir tahun.

"Karena ini sudah ujung tahun, tahun 2017 ini sebagai tanda jadi lima truk. Nanti riil yang banyak itu tahun 2018," jelasnya.

Adapun beras yang akan diekspor adalah jenis premium. Salah satunya berasal dari Desa Tunggal Bakti di Kabupaten Sanggau.

Buniness to business ekspor ini dilakukan oleh pemerintah. Mengenai harga yang telah ditetapkan Rp7.800, Hero memastikan, masing-masing pihak baik dari petani telah mendapatkan untung.

"Dari break event point  yang kita hitung, untuk menghasilkan per kilo sebenarnya biayanya cuma sekitar Rp5 ribu. Jadi sebenarnya masih untung," ujarnya. (umr/ant/and)

Komentar