Wabah Scabies Serang Warga Gang Aden

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 951

Wabah Scabies Serang Warga Gang Aden
GATAL KORENG - Warga RT 3 dan 4, RW 4, Kelurahan Benua Melayu Laut (BML), Pontianak Selatan menunjukkan gatal dan koreng akibat terpapar scabies, Senin (30/10). (SP/Balasa)

Dinkes Teliti Penyakit Gata-gatal 


M Ari Aqmal, Penderita Scabies
"Gejala pertama seperti bentol-bentol kecil, lalu gatal, lalu pindah di bagian lain, kemudian jadi nanah"

PONTIANAK, SP
- Sebanyak 58 warga RT 3 dan 4, RW 4, Kelurahan Benua Melayu Laut (BML), Kecamatan Pontianak Selatan yang terserang gatal-gatal, ditengarai terpapar scabies. Penyakit infeksi kulit yang disebabkan sejenis kutu atau tungau. Kesimpulan ini didapat setelah Dinas Kesehatan Kota Pontianak melakukan penelitian lapangan.

Muhammad Yogi Pahlevi (23) meringis. Sejak dua bulan terakhir badannya gatal-gatal. Berawal dari bentol berisi air, gatal itu akhirnya pecah dan meninggalkan koreng. Bukan cuma di kaki, luka akibat scabies, penyakit kulit menular juga sampai ke paha, dekat selangkangan.

"Adik saya yang dari pesantren (di Ambawang, Kubu Raya) sudah terkena dulu. Jadi dia pulang kena yang kecil dulu, terus baru yang ke besar-besar," ceritanya saat Sosialisasi dan Pengobatan Scabies di Kantor Lurah Benua Melayu Laut (BML), Pontianak Selatan, Senin (30/10) petang. 

Yogi menjelaskan, adiknya itu pulang dari pesantren sekitar enam bulan lalu. Adiknya itu pun kini sudah sembuh, tapi malah dia sekeluarga dalam satu rumah, yang jumlahnya belasan, ikut jadi korban. 

Secara pribadi, Yogi sudah pernah berobat ke RSUD Soedarso, setidaknya Rp800 ribu uangnya habis untuk beli obat. Tapi hanya sebagian koreng yang kering.

"Awalnya dia kayak gatal nanti dia membentol, kayak ada air di dalamnya, kita cungkil dia jadi koreng benanah. Mentak dia pedas sakit," tutupnya.

Hal sama terjadi pada M Ari Aqmal (13). Warga Gang Aden 1 ini sudah lebih dari sepekan merasakan gatal di benjolan bernanah di tangannya. Gatal disertai rasa nyut-nyutan itu kerap menyerang di waktu malam.

"Gejala pertama seperti bentol-bentol kecil, lalu gatal, lalu pindah di bagian lain, kemudian jadi nanah," ucap siswa kelas VIII ini.

Di rumah, hanya dia sendiri yang terpapar penyakit itu. Dugaannya, gatal menular itu dia dapat dari teman sepermainan. Hingga saat ini, scabies yang dideritanya belum pernah diobati.

"Dari gatal-gatal, pindah ke tempat lainnya, ndak digaruk, dikutis keluar air, lalu jalar ke lain jadi nanah," pungkasnya.

Berita wabah gatal yang dirasa warga, mulai terangkat ketika Staf Ahli Ketua DPD RI di Pontianak, Harry Daya mendapat laporan warga, dan meninjau langsung kawasan itu, Jumat (27/10) lalu. 

Wabah ini sudah dirasa masyarakat sejak beberapa bulan terakhir, namun tak ada laporan masuk ke pemerintah. Padahal jarak antara Kantor Lurah BML dan tempat kejadian, tak begitu jauh. 

Lurah BML, Lestari membenarkan laporan awal memang didapat dari Harry Daya. Dia menyayangkan pihak RT dan RW tidak berkomunikasi dengannya. Begitu dapat laporan, dia langsung mencari kebenaran di lapangan. 

"Pengakuan RT/RW pun ndak ada warga yang melaporkan dia terkena gatal-gatal. Tapi setelah itu, saya cari tahu juga, ada baru satu katanya. Kakinya gatal-gatal, sudah bawa ke Puskesmas tapi kambuh lagi," ucapnya. 

Saat itu dia memang tengah berada di Singkawang. Pemantauan pun dilakukan jarak jauh. Ternyata, ada banyak warganya yang terkena gatal-gatal. Malah sudah berubah jadi koreng. Ada yang sembuh, tapi kambuh lagi. 

"Alhamdulillah memang dari Dinkes langsung turun kepala dinasnya, beserta Kepala DLH turun ke lapangan mengecek dan langsung melaksanakan pengobatan. Disinyalir ternyata penyebab dari koreng dan gatal-gatal tersebut adalah bakteri scabies yang biasanya terdapat di kasur yang jarang dibersihkan," jelasnya. 

Data sementara memang baru 58 warga yang terpapar wabah. Namun Senin (30/10) pagi kemarin, Ketua RT setempat mengaku ada beberapa orang lagi yang sudah terjangkit. Pihaknya pun berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan untuk menyelesaikannya hingga tuntas.

"Apakah nanti dari sisa-sisa pakaian yang sudah terkena virus itu harus kita musnahkan atau apa. Jangan sampai menjalar ke RT dan warga lain. Itu rata-rata yang dihinggapi adalah anak-anak," jabarnya. 


Bikin Tim Koordinasi 


Lemahnya pengawasan terhadap warga, membuat Lurah Lestari akan membentuk tim koordinasi yang berisikan pengurus RT dan RW. Usai diangkat media, dia berujar sempat menegur pengurus RT/RW yang tidak tanggap terhadap warga. Mereka berkilah, tak ada laporan warga.

"Ini sangat disayangkan kejadian seperti ini langsung dilaporkan ke DPD RI. Kalau ada laporan ke kelurahan tetap akan saya tindak lanjuti sekecil apapun permasalahan di warga saya," ucapnya. 

Dia meminta Ketua RT/RW melapor sesuai prosedur. Mereka diminta peduli dengan  warga dan kondisi lingkungan masing-masing. Ke depan, dia berencana membentuk tim koordinasi. Namun ada kendala. Sebagian pengurus RT/RW di sana, tak punya telepon seluler. 

"Sampai ada yang minta saya lakukan pengadaan handphone untuk RT, itu kan harus saya pikirkan. Saya mau bentuk komunitas RT. Jadi setiap bulan itu walau kita ndak rapat, kami akan ada pertemuan. Khusus RT/RW tadi membahas masukan apa yang harus kita bicarakan dalam pertemuan itu," pungkasnya.

Penyakit Menular 


Kepala Dinas Kesehatan Kota Pontianak, Sidiq Handanu memastikan warga terpapar scabies. Penyakit infeksi kulit yang disebabkan sejenis kutu atau tungau. Kesimpulan ini didapat setelah Dinkes melakukan penelitian. 

"Jadi penyakit ini ditularkan oleh kontak personal. Misalnya kita berjabat tangan, pakaian, tempat tidur, handuk dan segala macamnya," katanya, Senin (30/10).

Hingga saat ini, sudah ada 58 orang warga setempat dalam data Dinkes yang terjangkit. Sidiq menerangkan, mereka sudah diobati. Senin ini pun pihaknya kembali turun ke lapangan untuk mengecek, pengobatan, serta sosialisasi ke masyarakat.

"Kita akan lanjutkan dengan penyuluhan, karena penyakit ini kalau tidak diobati secara keselurahan, tidak akan bisa. Mengobatinya harus massal," jelasnya.

Sementara soal kutu atau tungau penyebar scabies, tidak diketahui secara pasti dari mana berasal. Namun dia menjelaskan, kasus seperti ini memang biasa muncul di lingkungan padat penduduk. Misalnya tiga sampai empat orang yang tinggal dalam satu kamar.

"Biasanya penyakit ini ada di asrama-asrama. Makanya ini cepat menular, satu orang saja yang kena maka menular, ini bersifat menular. Penyakit ini tidak fatal, karena gatal yang luar biasa maka digaruk lalu infeksi, tapi tidak merusak secara sistemik," ucapnya.

Penyakit ini, kata Sidiq tidak bisa ditangani sekaligus. Harus bertahap dan berkali-kali dikerjakan. Pengawasan periodik mesti diterapkan. Apalagi kawasan tersebut merupakan perumahan padat penduduk. Perlu waktu lebih. Pengobatan yang diberikan Pemkot, gratis.

"Pengobatan ini khas, tidak seperti penyakit lainnya. Setelah dioleskan maka tidak boleh mandi dulu selama 24 jam, biar obatnya masuk ke dalam sampai tungaunya mati. Kalau sudah pakai obat ini sore, maka besok sore baru boleh mandi. Pemahaman ini harus kita sosialisasikan," terangnya.

Walau demikian, Sidiq Handanu memastikan penyakit ini tidak bahaya. Namun jika terjadi infeksi level sekunder, malah akan berbahaya. (bls/and)

Komentar