Daffa, Jadi Satu-satunya Wakil Indonesia

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 1129

Daffa, Jadi Satu-satunya Wakil Indonesia
BERPRESTASI - Risa Haridza foto bersama anak didiknya, Daffa Rafid Yunanda, siswa SMPN 3 Pontianak yang jadi satu-satunya siswa asal Indonesia dalam ajang 2017 International Essay Contest for Young People. (SP/Balasa)

2017 International Essay Contest for Young People


Daffa Rafid Yunanda, siswa SMPN 3 Pontianak, berprestasi di kancah internasional. Anak berusia 14 tahun ini jadi satu-satunya anak Indonesia yang esainya masuk Honorable Mention kategori anak-anak pada 2017 International Essay Contest for Young People, yang diadakan oleh GOI Peace Foundation dan UNESCO bertema "Learning from Nature".

SP - Esainya berjudul "The Concept of Natural Togetherness" terpilih bersama 24 anak lain. Ajang itu diikuti 15.441 orang dari 155 negara. Esai sepanjang tiga halaman itu dia tulis dari keresahannya: mereka yang sibuk bergawai ria, dalam interaksi langsung dengan sesama. Kenyataan di sekitar buatnya tak tahan menuliskan.

"Waktu itu mikir, orang zaman sekarang suka main gadget, tidak peduli dengan lingkungan. Kawan banyak yang gitu, kalau ngomong ndak lihat muka, malah fokus ke handphone," cerita Daffa saat ditemui di sekolahnya, Kamis (2/11).

Dalam esainya, anak pertama dari dua bersaudara pasangan Yudi Apriadi dan Diana Rosanti menghubungkan pola interaksi yang menyebalkan itu dengan alam. Bagaimana alam mengajarkan soal kebersamaan. Bukan seperti manusia yang kini kian individualis. Sibuk urusan masing-masing.

"Misalnya semut gotong-royong, burung terbang selalu berkelompok, dan sesuatu yang ada hubungannya dengan kebersamaan bisa dipelajari oleh manusia, agar tidak menjadi yang individualis," kata anak yang bercita-cita jadi dokter dan ustaz ini.

Sebagaimana semut dan burung yang berkoloni, interaksi yang mereka bangun bukan cuma sekadar interaksi satu sama lain. Tapi dengan semua makhluk. Daffa berujar, pengguna gawai mesti bijak. Jika berkumpul atau berbicara dengan orang lain, tak perlu melibatkan teknologi yang niscaya tersebut.

"Seharusnya tidak boleh mengabaikan seseorang, dengan membagi interaksi antara gadget dengan orang yang lebih menyenangkan dari orang di sekitar kita. Kalau berinteraksi jangan melibatkan gadget baik itu game, interaksi harus benar-benar interaksi," ucap siswa yang baru-baru ini juara Senandung Melayu di sekolah ini.

Setidaknya butuh waktu tiga hari bagi anak kelas IX A ini untuk menyelesaikan esainya. Tapi bukan berarti semudah itu. Beberapa kali dia berganti tema. Pembimbingnya, Risa Haridza di ekskul Olimpiade Sains yang ikut membantu. Siswa berambut klimis satu ini memang tergabung dalam ekskul itu dalam beberapa tahun terakhir. Sejumlah prestasi akademik pun sudah pernah dia dapat. Semua dimulai sejak dia masih menempuh pendidikan di SD Al Azhar.

"Target mau jadi orang sukses, kalau mimpi, ingin mengubah Indonesia lebih baik, gimana caranya, masih dipikirin," kata pembaca komik dan novel ini, sambil tersenyum ketika ditanya harapannya ke depan.

Sebenarnya, di SMPN 3 Pontianak bukan Daffa sendiri yang ikut serta di ajang tahunan internasional itu. Risa Haridza berkata, ada belasan anak yang ikut serta. Sebagai pengampu ekskul, memang dia yang pertama dapat informasi lomba. Lantas dia ajak anak muridnya ambil bagian. 

"Olimpiade Sains banyak cabangnya. Akademik, keterampilan. Menulis ini yang pertama kali mencoba, sudah lama mengadakan tapi baru dapat informasi tahun ini," ceritanya. 

Semua anak asuhnya mempersiapkan diri dua bulan dengan ikut bimbingan. Untuk memudahkan, Risa membikin folder khusus di Google Drive. Bimbingan, laporan dan revisi, dilakukan memanfaatkan teknologi. 

"Saya buat folder di Google Drive atas nama mereka, jadi langsung upload dan saya langsung baca, tanpa harus bertemu," ucapnya. 

Bisa dibilang, imajinasi anak dalam menuliskan esai, benar-benar berdasarkan ilmu pengetahuan yang ada. Selain Daffa yang menulis soal interaksi, ada pula yang menggambarkan bagaimana mengatasi sampah dan banjir, dengan mekanisme tumbuhan. Sepertinya, kita memang perlu kembali belajar pada alam, untuk beragam fenomena yang terjadi sekarang. (kristiawan balasa/lis)

Komentar