Kalbar Perlintasan dan Jalur Rawan Terorisme

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 408

Kalbar Perlintasan dan Jalur Rawan Terorisme
Ilustrasi. Net
PONTIANAK, SP - Penangkapan terduga terorisme yang dilakukan oleh Densus 88 di Bandara Internasional Supadio, Pontianak, Senin (27/11), membuka mata banyak khalayak tentang posisi Kalbar, sebagai perlintasan dan jalur rawan terorisme. 

Suhadi SW, mantan Humas Polda Kalbar mengatakan, masalah terorisme adalah masalah keamanan dan kesejahteraan. Hal itu ibarat dua sisi mata uang yang bisa dibedakan, tetapi tidak bisa dipisahkan.

“Artinya, jika bicara masalah keamanan, tidak terlepas dari bicara kesejahteraan, demikian juga sebaliknya. Antara keamanan dan kesejahteraan saling terkait, keduanya merupakan kebutuhan hidup manusia,” ujarnya.

Kesejahteraan merupakan  kebutuhan fisik manusia yang meliputi, sandang, pangan dan papan. Demikian juga keamanan termasuk kebutuhan hidup manusia, yaitu kebutuhan psikis yang meliputi, adanya rasa aman, bebas dari gangguan fisik maupun psikis, bebas dari rasa ketakutan dan kekawatiran, bebas dari rasa was-was dan sebagainya.

Suhadi mengatakan, untuk mewujudkan rasa aman, bukan monopoli tanggung jawab dan tugasnya polisi atau tentara. Tetapi merupakan tugas bersama, antara masyarakat, aparat keamanan, pertahanan dan aparat pemerintah daerah.

Menurutnya, saat ini di negara-negara maju sedang mengembangkan community policing atau pemolisian masyarakat atau polisi komunitas. Dalam masyarakat modern polisi komunitas ini sangat tepat sekali. Dimana untuk menciptakan rasa aman, masyarakat tidak lagi sebagai objek, tetapi masyarakat sebagai subjek. 

“Artinya, masyarakat pro aktif melakukan upaya pencegahan. Sementara polisi, tentara dan aparat pemerintah lainnya, hanya sebagai fasilitator atau mediator,” ujarnya.

Dia mengungkapkan bahwa, Jepang dan negara maju lainnya, saat ini sedang mengembangkan community policing. Di Jepang terkenal dengan Koban. Di Singapura Naberhord Police Post. Di Peru Rondero. Di Brasil Pasar Gada. Di Amerika Serikat Fixing Broken Window dan sebagainya. Semua itu yang dikedepankan adalah upaya pencegahan oleh masyarakat.

“Peristiwa penangkapan terduga teroris di Kalimantan Barat dua hari lalu, bagaikan  petir di siang bolong. Kita terlena dengan suasana yang aman, tenang dan damai. Ternyata  situasi tenang  terdapat gangguan nyata yang setiap saat bisa meledak,” imbuhnya.

Suhadi menyampaikan, terorisme bisa saja ada di mana-mana dan menjadi musuh bersama. Jika masyarakat tidak ada upaya mencegahnya, maka potensi tersebut akan menjadi gangguan nyata bagi masyarakat.

Ia menegaskan, lima tahun silam, tahun 2012, Densus 88 juga menangkap pelaku teroris  di wilayah Kabupaten Melawi. Kenapa Kalimantan Barat memiliki potensi terorisme? Ada beberapa hal yang mempengaruhinya. 

Diantaranya, adanya rasa ketidakadilan dalam masyarakat, komunikasi yang tersumbat, aspirasi yang tidak tertampung, dan letak geografi Kalimantan Barat yang memiliki wilayah perbatasan darat dengan Malaysia dan wilayah perbatasan laut terbuka, bisa menghubungkan langsung dengan  negara lain. Yaitu, China, Myanmar, Thailand dan Laos.

“Kondisi strategis tersebut yang dimanfaatkan oleh pelaku teroris,” ujarnya. 

Dia mengungkapkan, semua gembong teroris di Indonesia, pernah melintasi Kalbar, mulai dari Nurdin M Top, Doktor Azhari dan pelaku Bom Bali, semuanya pernah singgah di Kalbar.  

Hal tersebut terjadi, karena Kalbar merupakan daerah lintasan dari luar negeri yang bisa melalui darat. Untuk mengantisipasi itu, semua pihak harus ikut dilibatkan dan melibatkan diri secara aktif. Program comunity policing atau polisi komunitas harus diberdayakan. 

Selain itu, program Door to Door System (DDS), yang selama ini dilakukan oleh Bhabinkamtibmas dan Babinsa harus ditingkatkan, volume kunjungannya dan materi yang disampaikan kepada masyarakat, waktu berkunjung lebih fokus dan operasional. “Artinya, jika masyarakat menemukan adanya gerakan-gerakan yang mencurigakan, apa yang harus dilakukan dan ke mana melapornya,” ujarnya. 

Seperti diberitakan sebelumnya, NH, terduga teroris warga asal Sambas yang sudah tinggal di Pontianak, ditangkap oleh Densus 88 di Bandara Internasional Supadio, Pontianak, Senin (27/11), saat akan ke Marawi, Pilipina, lewat penerbangan dengan singgah ke Khucing, Sarawak, Malaysia. (aan/lis)