Melawan Sentimen Belanja Konsumen terhadap Clothing Merek Luar

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 422

Melawan Sentimen Belanja Konsumen terhadap Clothing Merek Luar
PENGUSAHA CLOTHING - Pelaku usaha clothing produksi lokal, Riandy Herawan. (SP/Anugrah)

Pengusaha Andalkan Kreativitas dan Trik Bisnis Penjualan 


Sentimen belanja masyarakat Kota Pontianak yang lebih melirik produk clothing (pakaian) dengan brand (merek) dan jasa dari luar kota, menuntut kreativitas dan inovasi pelaku usaha clothing dalam kota. 

SP - Demikian yang dikatakan satu di antara pelaku usaha clothing produksi lokal, Riandy Herawan kepada Suara Pemred, Minggu (3/12). 

Riandy yang memulai usahanya sejak tahun 2014 itu mengakui bahwa daya beli masyarakat Kota Pontianak, terutama generasi muda masih berorientasi pada produk-produk dengan merek luar Kalbar.

Dia lebih memilih untuk melakukan pemasaran produk di Kota Singkawang dengan melakukan konsinyasi (titip jual). Hal itu dilakukan karena memandang daya beli masyarakat di Kota Pontianak cenderung minim untuk produk dengan brand lokal.

“Kalau di Kota Pontianak kita pernah coba, tapi memang daya beli masyarakat Kota Pontianak masih kurang untuk brand lokal,” tuturnya.

Dia menyampaikan juga bahwa mind set (pola pikir) pembeli di Kota Pontianak masih berorientasi pada produk-produk dengan brand-brand bandung dan bahkan brand luar negeri.

“Untuk di Pontianak itu yang jadi masalah di mind set pembelinya. Mind set pembeli itu lebih suka dengan brand-brand minimal Bandung. Dan untuk sekarang sudah tidak Bandung lagi, tapi maunnya sudah ke brand-brand luar negeri,” akunya.

Dengan adanya gempuran tantangan dari merek-merek luar, dia mengatakan pelaku-pelaku usaha dengan merek lokal harus lebih berani untuk membuat produk dengan merek lokal, dengan desain kreatifitas sendiri untuk menunjukkan kemampuan produksi lokal yang tidak kalah dengan produk luar.

“Paling tidak kita di Pontianak ini perlu orang-orang yang berani untuk buat brand lokal sendiri. Walaupun tak besar, tapi ada merek sendiri. Mereka ada bentuk kreatifitas yang ada dalam bentuk cetak-cetak baju dan aksesoris,” pungkasnya.

Riady Herawan masih tetap optimistis bertahan dengan produksi merek lokalnya walaupun dengan kecenderungan masih minimnya peminat masyarakat Pontianak dengan merek lokal.

Brand yang dimiliki oleh Riady pada awal dimulainya usaha clothing tersebut yaitu dengan nama Crimson Clothing sejak tahun 2014. Pada tahun 2016 Riady membuat brand baru dengan nama Blimey Clothing dengan target pasar anak muda berumur 17-20 tahun.

Produk yang dipasarkan oleh Riady dengan brand Crimson dan Blimey adalah baju, aksesoris, tas, topi dan jaket.

Dalam membuat desain clothing dan produksi produk, Riady mengungkapkan bahwa selain membuat dan mencetak sendiri desain-desain produknya, dia juga menggunakan jasa desain dan produksi dari luar Kalbar. Sebab, model desain luar masih dianggap lebih menarik serta harga jasa desain yang digunakan juga lebih murah daripada jasa desain dan biaya produksi di Kota Pontianak yang cenderung masih tergolong mahal.

“Kalau misalnya di luar, itu desainnya lebih menarik. Harganya pun lebih terjangkau untuk di luar. Kalau kita pakai jasa di Pontianak itu hitungannya tidak masuk,” imbuhnya.

Selain clothing dan aksesoris, dia juga melirik usaha percetakan seperti percetakan di media kertas yang semuanya di bawah naungan CV Krisma Media.

“Kita sudah ada dasar hukumnya. Kitapun lagi mengurus hak paten clothingnya sendiri. Jadi semuanya mau kita lengkapilah biar lebih enak untuk ke depannya,” tambahnya.

Sementara sistem pemasaran masih menggunakan sistem informasi dari mulut ke mulut, sosial media dan konsinyasi dengan toko-toko.

Riady berharap ke depan anak-anak muda di Kota Pontianak dapat lebih berani dan kreatif dengan membuat brand sendiri. Bagi masyarakat yang berminat untuk memesan produk dapat menghubungi melalui email [email protected] (anugrah ignasia/bah)