Angka Laka Lantas Indonesia Tertinggi

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 502

Angka Laka Lantas Indonesia Tertinggi
Grafis (Suara Pemred / Koko)
Kompol Syarifah Salbiah, Kasat Lantas Polresta Pontianak 
“Berdasarkan hasil survei tersebut, ada beberapa rekomendasi yang telah diberikan kepada pemerintah. Namun, sampai dengan akhir tahun 2017, belum ada satu pun dari rekomendasi tersebut yang terealisasi,”

Chritiandy Sanjaya, 
Wakil Gubernur Kalbar
"Jalan-jalan rusak, berlubang, itu memang benar jadi salah satu faktor. Jadi saya katakan tadi, kita semua pihak harus bersama-sama membenahi,"

PONTIANAK, SP – Indonesia merupakan negara dengan rasio tertinggi kematian, akibat kecelakaan lalu lintas (laka lantas). Faktor penyebab terjadinya jumlah kecelakaan, karena warga tidak patuh dan disiplin berlalu lintas atau human error dan fasilitas infrastruktur jalan.   

Sehari ini, Kamis (7/12), dua kecelakaan terjadi di Jalan Raya Nusapati, Kabupaten Mempawah, dan Jalan Raya Siantan, Pontianak Utara. Kecelakaan di Nusapati membuat sang sopir truk meninggal di tempat. Begitu pun kecelakaan motor di Siantan. Pengendara tergeletak bersimbah darah. Meninggal dunia.  

Dua minggu sebelumnya, Rabu (22/11), tiga orang dalam satu keluarga, meregang nyawa karena ditabrak sebuah dump truck di Jalan Raya Mempawah, Air Hitam. Sehari setelah itu, sebuah dump truck juga menabrak orang hingga tewas. 

Data Korps Lalu Lintas Kepolisian Republik Indonesia menyebutkan bahwa, setiap tahun ada 28.000-38.000 orang meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di Indonesia. Jumlah tersebut membuat Indonesia berada di peringkat pertama negara dengan rasio tertinggi kematian akibat kecelakaan lalu lintas di dunia. 

Angka kecelakaan lalu lintas yang tinggi di Indonesia, karena kurangnya pendidikan pada warga edukasi, serta lemahnya penegakan hukum. 
Lalu, bagaimana dengan kondisi lalu lintas di Kalbar?

Terkait tren kecelakaan lalu lintas di Kalbar, Dirlantas Polda Kalbar, melalui Kepala Sub Direktorat Pembinaan dan Penegakan Hukum (Kasubdit Bin Gakkum) Polda Kalbar, AKBP Yulianto menyampaikan bahwa, terjadi angka penurunan dalam tingkat kecelakaan di Kalbar. 

Berdasarkan operasi simpatik yang dilaksanakan pada 1 Maret sampai 21 Maret 2017, terjadi penurunan angka kecelakaan yang mencapai angka 5-10 persen.

“Polda Kalbar waktu itu mendapat peringkat nomor dua seluruh Indonesia, untuk penurunan angka laka lantas,” katanya kepada Suara Pemred, Kamis (7/12). 

Angka penurunan tersebut dilihat berdasarkan data kecelakaan lalu lintas yang terjadi, dan disinkronkan dengan data yang dimiliki oleh Jasa Raharja.

“Data itu dilihat dari angka laka lantas yang terjadi, disinkronkan dengan Jasa Raharja itu sama,” ujarnya. 

Ia menjelaskan, di Polda lain, ada selisih antara Jasa Raharja dan Kepolisian. Di Kalbar, bila terjadi kecelakaan, Polda dan Jasa Raharja sama-sama turun. Jasa Raharja bagian yang menangggung korban kecelakaan. 

Terkait program-program yang dilakukan oleh Polda Kalbar, dalam menekan angka kecelakaan lalu lintas, dia menyampaikan bahwa Dir Lantas Polda Kalbar memiliki cukup banyak program. Salah satunya, dalam bidang preventif berbentuk sosialisasi dengan membuat kampung tertib lalu lintas di wilayah Polsek Barat, Kecamatan Pontianak Barat.

Selain itu juga anggota-anggota Polisi, terutama perwira menjadi pembina upacara di sekolah-sekolah seluruh Kalbar. 

“Polda dan Polres turun, termasuk Kasat Lantas,”ujarnya.

Dampak positif dari program yang dijalankan oleh Polda Kalbar tersebut, diakuinya cukup besar terasa terhadap angka kecelakaan, baik terhadap korban luka ringan maupun yang meninggal dunia.

Yulianto menambahkan, dominan kecelakaan yang terjadi dikarenakan oleh faktor manusia, yaitu kurangnya kehati-hatian dalam berkendara. Menurutnya, dari segi sosialisasi dan pengarahan tata tertib lalu lintas, cukup banyak dilakukan oleh pihak kepolisian. 

“Untuk masyarakat ini memang harus kerjasama, tidak hanya polisi lalu lintas. Tapi stakeholder yang ada, termasuk Dinas Perhubungan, Pemerintah Kota, harus saling kerja sama. Kalau hanya dibebankan pada polisi, saya rasa Kalimantan Barat untuk kesadaran sangat kurang,” ujarnya.

Di wilayah hukum Polresta Pontianak, Kasat Lantas Polresta Pontianak Kompol Syarifah Salbiah mengatakan bahwa, pihaknya telah melakukan banyak terobosan untuk mengantisipasi rawan kecelakaan lalu lintas. Diantaranya dengan melakukan upaya hukum tilang bagi pengendara yang melawan arah, tidak menggunakan helm dan berkendara melebihi batas maksimal, khususnya di wilayah Jalan Ahmad Yani II.

Untuk di wilayah Jalan Trans Kalimantan, pihaknya juga telah melakukan survei bersama dinas dan instansi terkait. “Berdasarkan hasil survei tersebut, ada beberapa rekomendasi yang telah diberikan kepada pemerintah. Namun, sampai dengan akhir tahun 2017, belum ada satu pun dari rekomendasi tersebut yang terealisasi,” ujarnya.

Ada beberapa point disampaikan, misalnya, perlunya penerangan jalan dipasang, memperbanyak rambu lalu lintas, pemangkasan pohon yang mengganggu jalan, dan lainnya. 

“Kami juga bingung, ranahnya ini ke siapa?” ujarnya seolah bertanya. 

Sampai saat peluncuran laporan hasil survei, Salbiah menuturkan bahwa rekomendasi tersebut telah ditindaklanjuti oleh Dishub Provinsi, untuk disampaikan sesuai dengan tugas dan tanggung jawab dari instansi-instansi terkait. 

“Tapi sampai detik ini pun, belum ada satu dari rekomendasi kami direalisasikan,” tambahnya.

Dia mengatakan, pihaknya sudah mengagendakan untuk mengundang instansi-intansi, terkait lima pilar aksi keselamatan jalan berdasarkan Inpres Nomor 4 Tahun 2013, tentang Program Dekade Aksi Keselamatan Jalan. Dalam menekan angka pelanggaran dan angka kecelakaan berlalu lintas, pihak Kepolisian tidak dapat bekerja sendiri. Ada ranahnya PU, Dishub, Dinas Kesehatan, dan pihak Kepolisian. 

Salbiah mengatakan, agar yang sudah direkomendasikan untuk dapat direalisasikan. Karena secara terpadu, hal itulah yang tergabung dalam forum lalu lintas. Dia mencontohkan lampu merah pada persimpangan jembatan Kapuas II yang sudah hampir satu tahun tidak berfungsi.

“Kami berharap, yang punya kepentinganlah di dalam hal ini, tolong apa yang sudah menjadi rekomendasi kami itu, mohon untuk dapat direalisasikan. Tanpa ada kerjasama sesuai dengan amanah Inpres tersebut tidak dilaksanakan, ya nggak mungkin dari pihak Kepolisian,” tuturnya.

Ia menegaskan, kalau harus menunggu dari pusat, mungkin mekanismenya agak sedikit lama. “Ini mungkin orang pemerintah lah yang bisa jawab,” pungkasnya. 

Banyak Faktor


Wakil Gubernur Kalbar Christiandy Sanjaya mengatakan, menyangkut laka lantas yang terjadi di Kalbar, ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya.

"Mungkin marka-marka lalu lintas, dan lain sebagainya," ujarnya.

Terkait upaya pencegahan, ia menjelaskan, bahwa ini tidak terlepas dari tanggung jawab berbagai pihak. Tidak cuma Pemprov, tapi juga pemerintah di kabupaten/kota.

Selain itu, pihaknya tentu saja bekerja sama dengan pihak kepolisian, sebagai instansi yang mengeluarkan izin mengemudi kendaraan bermotor.

"Kenapa demikian, karena banyak juga kita merasakan para pemakai kendaraan ini, kadang-kadang juga tidak hati-hati. Misalnya, tidak mengenakan perlengkapan helm, sehingga begitu kecelakaan kalau cederanya di kepala, bisa meninggal kan," terangnya.

Kecelakaan karena tidak mementingkan keamanan dalam berkendara, acap kali menjadi faktor tertinggi laka lantas itu terjadi. Maka dari itu, pengetahuan dalam aturan berkendara menjadi penting untuk diperhatikan.

"Nah, ini kan semuanya diuji pada saat dia (pengendara) uji teori maupun praktik pada saat ingin mendapatkan SIM. Nah, ini juga perlu diperketat (pihak kepolisian)," harapnya.

Upaya pencegahan, ucap dia, terutama adalah pengintensifan imbauan kepada masyarakat. "Memang harus hati-hati. Sayangi nyawa kita sendiri dan nyawa orang lain. Karena ketidakhati-hatian kita, bisa mengancam keselamatan orang lain," katanya.

Selain yang telah disampaikan, Wagub mengungkapkan, faktor lain adalah infrastruktur yang kurang memadai. Fasilitas jalan yang rusak, memang dapat mengakibatkan kecelakaan itu terjadi.

"Jalan-jalan rusak, berlubang, itu memang benar jadi salah satu faktor. Jadi saya katakan tadi, kita semua pihak harus bersama-sama membenahi," ujarnya.

Tapi sebaliknya, kalau infrastruktur jalannya bagus, pengguna jalan tidak hati-hati, percuma kalau tidak mematuhi aturan-aturan lalu lintas, ujarnya.

Sementara, Wakil Ketua DPRD Kalbar Suriansyah mengatakan, tingginya angka kematian akibat kecelakaan lalulintas di Indonesia, sebenarnya tidak mengherankan.

"Karena itu menggambarkan dari kekurangdisiplinan kita. Jadi, kalau kita mampu meningkatkan kedisiplinan kita, maka seharusnya angka kecelakaan lalu lintas ini sejatinya lebih rendah," ujarnya.

Ia menerangkan, seharusnya masalah kedisiplinan di Indonesia sudah bisa menjadi budaya. Namun akhirnya, dengan fakta yang berbeda, maka budaya disiplin menjadi tantangan bagi masyarakat kita.

Di samping masalah kedisiplinan, Suriansyah mengungkapkan, faktor infrastruktur yang belum memadai, memperparah persoalan laka lantas di Indonesia, terutama di Kalbar.

"Kondisi infrastruktur yang belum memadai, pemasangan rambu-rambu, marka jalan yang belum sesuai yang diperlukan, itu akan memperparah tingkat kecelakaan lalulintas di Kalimantan Barat," terangnya.

Ia menegaskan, semua itu harus menjadi perhatian terutama bagi pemerintah dalam pembenahan infrastruktur. Selain itu, penegakan aturan harus dipandang perlu. Undang-undang lalu lintas harus menjadi perhatian, dan hal yang harus ditegakkan. 

“Karena memang masyarakat kita masih memerlukan untuk mengingatkan, memaksa untuk mengatur. Kalau tidak, maka angka kecelakaan ini terus, dan akan terus meningkat," pungkas dia. (bls/umr/rah/lis)

Laka Lantas di Sanggau Menurun


Polres Sanggau mencatat, jumlah kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang terjadi di wilayah Kabupaten Sanggau tahun 2017, menurun dibanding tahun lalu. Jumlah itu tercatat hingga November 2017.

Kasat Lantas Polres Sanggau, AKP Refandri Meidika Putra mengatakan, hingga November 2017, ada 94 kasus laka lantas, sebanyak 44 meninggal dunia, 63 luka berat dan 9 luka ringan. Sedangkan tahun lalu, sebanyak 102 kasus.

“Tahun lalu ada 102 kasus. Dari jumlah itu, 43 meninggal dunia, 57 luka berat dan 31 luka ringan. Jadi, hingga November 2017, kasus laka lantas di wilayah Sanggau menurun dibanding tahun lalu,” jelas Refandri, Kamis (7/12). (jul/lis)