Minggu, 22 September 2019


Sedih, Keluarga Ungkap Perjalanan Spiritual Jono yang Akhirnya Berakhir Tragis

Editor:

K Balasa

    |     Pembaca: 6191
Sedih, Keluarga Ungkap Perjalanan Spiritual Jono yang Akhirnya Berakhir Tragis

Kondisi mobil yang ditumpangi Jono hancur dalam kecelakaan maut di Desa Pundu, Kotawaringin Timur, Kalteng. (ist)

PONTIANAK, SP - Halimah (59) tak menyangka, ponakannya Jono (55) warga Gang Swasembada, Siantan Hulu jadi satu di antara 11 warga Pontianak yang jadi korban kecelakaan di Jalan Trans Kalimantan. Tepatnya di Desa Pandu, Kecamatan Cempaga Hulu, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, Sabtu (3/2) sekitar pukul 06.00 WIB. 

Kabar duka itu dia tahu dari Facebook, Sabtu siang. Salah seorang cucu yang memberitahukan. Dia pun kaget, anak abangnya itu, yang tempo hari pamit untuk dakwah, malah pulang dengan kabar duka.

"Saya juga kaget, anaknya si Ari lagi tidur saya bangunkan," ceritanya, Senin (5/2).

Anak bungsu Jono, Ari Ramadhan (21) memang diangkat anak oleh perempuan yang tinggal di Gang Lawu, Pontianak Barat itu. Tempat di mana rencananya jenazah pada Minggu (4/2) akan disemanyamkan. Namun lantaran keluarga besar pasangan Jono dan Maimunah (50) itu ada di Siantan Hulu, rencana itu diurungkan.

"Minggu sore kemarin, ramai yang ngiring jenazah, tahunya cuma ke Wajok, keluarga tidak tahu kalau mau ke Sampit," ucapnya.

Dia bercerita, jenazah hanya dinaikkan ke rumah sebentar karena hari telah senja. Almarhum harus segera dikebumikan. Akhirnya, jenazah pun dimakamkan di salah satu pemakaman umum di Siantan Hulu. Anak almarhum yang berada di Malaysia pun masih sempat melihat ayahnya.

"Waktu istrinya antar uang, almarhum hanya pesan, pas 40 hari akan pulang, eh pas benar 40 hari," ujarnya sedih.

Kabar duka itu memang datang 40 hari setelah Jono pamit untuk dakwah ke Wajok. Bapak delapan anak dengan sembilan cucu itu memang ikut pengajian Quba sejak dua tahun terakhir. Tak jarang dia pergi tak pulang dalam kurun waktu tertentu. Meski anak-anaknya melarang, panggilan itu tetap dia tunaikan.

Walau jarang bertemu dengan almarhum, Halimah kenal betul dengan Jono. Dia sosok yang pendiam, tapi selalu senang memberi wejangan. Terutama pada anak-anaknya. Terlebih si bungsu Ari, yang pada 31 Januari lalu berumur 21.

"Lebaran puasa main ke sini, saya ke sana. Orangnya pendiam, ndak itu ini.  Paling berikan nasihat, salat, ngaji, maklum anak sekarang, kadang salat kadang ndak," pungkasnya. (bls)