Kelurahan Mariana Berbenah, Entaskan Kawasan Kumuh Kota

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 441

Kelurahan Mariana Berbenah, Entaskan Kawasan Kumuh Kota
MCK KOMUNAL – Warga Kampung Sawah, Kelurahan Mariana, Pontianak Kota, melintas di depan MCK Komunal, Selasa (6/2). (SP/Balasa)
Camat Pontianak Kota, Saroni 
"Tahun ini yang ada penyempurnaan di Kampung Sawah itu ada beberapa rumah di bedah, 30 lebih. Di Gang Tantina kurang lebih 20 lebih. Bedah rumah kurang lebih 64 rumah"

PONTIANAK, SP - Kampung Sawah, Kelurahan Mariana, Pontianak Kota jadi salah satu lokasi kumuh di tengah kota. Namun dalam setahun terakhir, wilayah ini dikepung berbagai program pembangunan dan pengentasan kawasan kumuh.

Setidaknya untuk kawasan RT 04 RW 10, ada program rabat beton, drainase dan tempat Mandi Cuci Kakus (MCK) Komunal. Dulunya, jalan lingkungan di sana tak lebih dari satu meter. Drainase asal-asalan dan MCK Komunal yang sempat dibangun Pemkot dengan anggaran Rp300 juta, tak terurus. Malah ada 40 kepala keluarga yang tidak punya kakus.

Tapi kini, semua lebih baik. Jalan lingkungan sekarang hampir dua meter, lengkap dengan drainase. MCK Komunal pun sudah berfungsi baik. Airnya lancar dengan total 10 bilik WC dan empat kamar mandi.

Ketua Penggerak PKK Kampung Sawah, Nur Asbah bercerita, saat ini tinggal sembilan rumah yang rutin menggunakan MCK komunal tersebut. Merekalah yang setiap bulan patungan bayar operasional. Sisanya sudah punya kakus sendiri.

"Untuk operasional secara urunan warga sebesar Rp20 ribu per bulan, untuk membayar listrik dan air PDAM di MCK. Masyarakat tidak keberatan," katanya, Selasa (6/2).

Masyarakat sangat terbantu dengan kembali berfungsinya MCK komunal itu. Apalagi sebelumnya, kakus tersebut tak bisa dipakai. Leding PDAM yang jadi sumber air utama tak jalan. Sementara warga tak bisa bangun WC karena lahan terbatas.

Perihal MCK komunal yang tak terawat dua tahun lalu, sebenarnya warga ditarik iuran per bulan untuk kebersihan dan membayar PDAM, sebesar Rp10 ribu. Tapi kemudian tak lagi berjalan.

Kurangnya ketersediaan air membuat warga seadanya saja ketika bersih-bersih usai buang hajat. Kepadatan penduduk membuat kampung itu makin kumuh.

"Masyarakat sangat terbantu dengan MCK ini. Biasanya memang setiap rumah ada MCK tapi kan ramai, dengan adanya ini orang yang kebelet bisa terbantu dengan MCK ini," pungkasnya. 

Camat Pontianak Kota, Saroni mengungkapkan, pengentasan kawasan kumuh di Kampung Sawah, Kelurahan Mariana akan terus disempurnakan tahun ini. Sejumlah program yang sudah tuntas akan dilanjutkan dengan program lainnya.  

"Tahun ini yang ada penyempurnaan di Kampung Sawah itu ada beberapa rumah di bedah, 30 lebih. Di Gang Tantina kurang lebih 20 lebih. Bedah rumah kurang lebih 64 rumah," ucapnya.

Dia menambahkan, di masing-masing rumah di Kampung Sawah juga akan dipasang saluran PDAM. Demikian juga di Gang Tantina, di mana saat ini masih banyak warga yang mandi di parit.

"Di Gang Tantina itu mereka mandi di parit, sekarang kan jalan salurannya sudah dibetulin bahkan kita bikin untuk tempat mandi, ada yang belum menikmati PDAM. Makanya tadi PDAM saya undang, sudah tadi katanya sudah tahap sosialisasi nanti tinggal pasang saluran nyambung, selesai," jelasnya.

Dia menjelaskan pengentasan sanitasi dan air bersih dilakukan agar kualitas hidup warga membaik. Semua mesti bersih dan higienis. Dengan demikian masalah kekumuhan di Pontianak bisa diatasi.

Selain bedah rumah dan sarana air bersih di Gang Tantina. Ada pula di Kelurahan Tengah di Gang Delima yang masih perlu perhatian berkaitan dengan saluran dan jalan lingkungan. Kemudian di Gang Belibis sanitasi di sana airnya keruh dan bau. Sama halnya dengan Gang Candi Agung dekat Kantor Dinas Perhubungan.

"Kemudian untuk Sungai Jawi ada di SD 24, jalannya kecil kemudian sekolahnya ditutup sehingga orang mau jemput ke jalan, khawatir ada lakalantas. Insya Allah bisa kita atasi dengan bantuan material dan masyarakat yang mengerjakannya," pungkasnya. 

Wakil Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono memastikan Kampung Sawah akan bebas dari kawasan kumuh tahun ini. Dia menerangkan sudah banyak program pembangunan masuk ke sana. Misalnya Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) dan Kampung Keluarga Berencana.

"Kampung Sawah, 2018 ini tuntas kawasan kumuhnya. Sudah masuk program-program dan ada MCK, tinggal bedah rumah. Semua sudah bagus, tidak ada masalah," katanya usai membuka Musyawarah Rencana Pembangunan (Musrenbang) Pontianak Kota, di Aula Kantor Camat Pontianak Kota, Selasa (6/2).

Dia meyakinkan di Pontianak Kota, tak ada lagi kawasan kumuh selain di Kelurahan Mariana. Masuknya berbagai progam dalam setahun terakhir, akan buat pembangunan infrastruktur dan pembangunan manusianya jadi terpadu. Kelurahan Mariana berada di pusat kota namun masih ada beberapa titik yang kumuh.

Edi ingin ada pemerataan dan peningkatan kualitas dari segi pertumbuhan penduduknya maupun kualitas masyarakat dan kualitas infrastrukturnya. Terutama pada ruang publik yang terbuka, ramah anak dan posyandu anak serta lansia. Ramainya program yang masuk di kawasan itu mesti saling koordinasi.

Untuk wilayah Pontianak Kota secara umum, dia menjelaskan fokusnya tetap pada infrastruktur, penataan makam dan drainase. Penataan bangunan di wilayah yang berbatasan dengan Pontianak Barat dan Pontianak Selatan pun harus rapi. Termasuk di kawasan perdagangan seperti Pasar Sudirman dan Khatulistiwa Plaza.

"Di sini tinggal menyelesaikan Jalan Pararel, Jalan Dr Sutomo dan beberapa ruas jalan," pungkasnya.

Ditargetkan Tuntas 2019


Wali Kota Pontianak, Sutarmidji sebelumnya menargetkan, persoalan kawasan kumuh selesai tahun 2019 mendatang. Dari data yang ada, luasan kawasan kumuh di Pontianak saat ini sebesar 66 hektare dari total 107.800 hektare wilayah administrasi kota.

"Dengan selesainya (penataan) Tembelan Sampit, tahun depan kita arahnya ke Parit Pekong, kemudian Banjar Serasan. InsyaAllah 2019 kawasan kumuh tuntas," ujar Sutarmidji, belum lama ini.

Kawasan kumuh di kota ini tersebar di banyak titik. Kecamatan Pontianak Utara, Pontianak Timur dan Pontianak Barat, berurutan menjadi wilayah dengan luasan daerah kumuh terbesar. Selain itu, kawasan pinggir sungai jadi tempat sebaran terbanyak.

"Salah satu kawasan kumuh kan di water front tadi. Banjar Serasan selesai, tinggal Beliung, itu hanya beberapa titik, tidak sampai 10 hektare di Beliung," katanya.

Selain meyakini kawasan kumuh hilang di tahun 2019, Sutarmidji juga memperkirakan sanitasi dan air bersih bisa dientas bersamaan. Kawasan kumuh, sanitasi dan air bersih memang masuk dalam program 100-0-100 pemerintah. 

Merujuk pada target RPJMN 2015-2019 untuk mewujudkan 100 persen akses aman air minum, nol persen kawasan kumuh, dan 100 persen akses sanitasi layak.

"Sanitasi saya kira bisa selesai, kalau air bersih bisa. Karena kapasitas produksi kita tahun ini 2.150 liter per detik, itu bisa untuk 1,3 juta, kemudian tahun ini ada pemasangan 200 pipa tersier di gang-gang, tahun depan juga insyaallah jumlahnya seperti itu," sebutnya.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Pontianak, Amirullah menambahkan, dalam beberapa waktu terakhir, pengentasan kawasan kumuh berkurang drastis. Selain ada penataan kawasan tepi sungai lewat water front, program Kota Tanpa Kumuh (Kotaku) juga telah masuk.

"Jadi banyak program, kegiatan dan dana pusat maupun dana daerah dalam penangan daerah kumuh. Terutama dari Direktorat Pengembangan Kawasan Pemukiman dari Cipta Karya Kementerian PU-PR," jelasnya.

Penanganan kawasan kumuh di Pontianak dikoordinasikan dalam 14 liniasi. Tujuannya meningkatkan kawasan, dari yang semula kumuh menjadi tidak kumuh. 

"Semua kawasan kumuh akan kita tuntaskan menjadi tidak kumuh, dalam waktu enam tahun dari 200-an hektare lahan kumuh saat ini tinggal 60 hektare, dan target 2019 akan tuntas semua," yakinnya. (bls/ind)

Komentar