Kamis, 24 Oktober 2019


Indonesia Bersuara Gelar Diskusi Publik

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 363
Indonesia Bersuara Gelar Diskusi Publik

DISKUSI - Indonesia Bersuara Kalimantan Barat menggelar diskusi publik bertemakan di Aula Balai Bahasa Provinsi Kalbar, Selasa (27/2). (SP/Anugrah)

PONTIANAK, SP - Indonesia Bersuara Kalimantan Barat menggelar diskusi publik bertemakan “Reposisi Peran Pemuda Dalam Perspektif Millenial sebagai Upaya Menangkal Paham Radikalisme,” yang dilaksanakan di Aula Balai Bahasa Provinsi Kalbar, Selasa (27/02).

Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber dari berbagai kalangan. Di antaranya yaitu kalangan akademisi IAIN Pontianak, Eka Hendri AR, Danramil 1207-02/Pontianak Selatan-Tenggara, Mayor Inf Teguh Rohman dan Rachmatul Fitrah dari kalangan pemuda yang juga Ketua PKC PMII Kalbar periode 2015-2017.

Ketua Indonesia Bersuara Kalimantan Barat, Najib Amrullah mengatakan, tujuan dilaksanakannya diskusi tersebut untuk menjawab segala kegalauan dari para pemuda, khususnya generasi millenial tentang maksud dari paham radikalisme.

Dia juga mengapresiasi para peserta, undangan dan narasumber yang telah menghadiri acara tersebut. 

"Terima kasih kepada para peserta, undangan, dan narasumber yang telah hadir pada acara Diskusi Publik Indonesia Bersuara Kalimantan Barat. Secara spesifik, tujuan dilaksanakannya diskusi pada hari ini ialah menjawab segala kegalauan dari para pemuda, khususnya generasi millenial tentang maksud dari paham radikalisme. Saya mengharapkan kegiatan ini bisa dilaksanakan oleh organisasi-organisasi lainnya agar generasi millenial semakin tercerahkan dari paham radikalisme," katanya, Selasa (27/02).

Sementara itu, Kasubdit III Dit Intelkam Polda Kalbar, Abdur Rosid, dalam sambutannya mengingatkan kepada para pemuda untuk berhati-hati dalam menggunakan teknologi.

"Globalisasi ditandai oleh kemajuan teknologi yang sangat pesat. Satu di antara dampak negatif dari pesatnya kemajuan teknologi ialah semakin mudahnya penyebaran paham radikalisme. Contohnya ISIS. Mereka yang beroperasi jauh dari negara kita, berkat kemajuan teknologi dapat dengan mudah merekrut anggota dan menyebarkan paham-paham mereka di tanah air," katanya.

Di samping itu, dalam penyampaian materinya, Akademisi IAIN Pontianak, Eka Hendri menjelaskan bahwa radikalisme kerap disalahgunakan sebagai strategi politik.

“Radikalisme kerap digunakan oleh oknum-oknum tertentu sebagai strategi politik untuk bergaining (posisi tawar) dengan pemerintah. Strategi ini digunakan untuk merebut kekuasaan oleh sebagian oknum,” katanya.

Untuk itu, dia berpesan kepada para pemuda agar menyuarakan anti diskriminasi.

“Jika anda hidup di tanah yang tumbuh diskriminasi, anda harus menjadi pupuk di tanah tersebut. Artinya, anda wajib menyuarakan anti diskriminasi, agar diskriminasi tidak bertambah subur di tanah tersebut,” katanya.

Selanjutnya, Danramil 1207-02/Pontianak Selatan-Tenggara, Mayor Inf Teguh Rohnan, menjelaskan bahwasanya menangkal paham radikalisme dapat dilakukan dengan berbagai metode. Salah satunya dengan menerapkan kurikulum pendidikan kebangsaan, penghayatan dan pengamalan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan melaksanakan tugas pokok dan fungsi masing-masing.

Narasumber dari kalangan pemuda, Rachmatul Fitrah mengingatkan kepada para pemuda agar tidak terlena dengan penjajah budaya bernama hedonisme.

“Jika para pemuda terlena dengan penjajah budaya bernama hedonisme, jangan berharap akan lahir Soekarno-Soekarno dan Soe Hok Gie-Soe Hok Gie melainkan akan lahir Dilan-Dilan dan Syahrini-Syahrini baru,” tukasnya.

Fitrah juga mengingatkan kepada para peserta untuk menyikapi Pilkada serentak dengan penuh keyakinan tanpa menyalahkan keyakinan yang lainnya.

“Terkait dengan Pilkada serentak, yakini dengan seyakin-yakinnya apa yang kalian yakini. Jangan salahkan yang orang lain yakini. Apabila pemahaman ini kalian pahami, saya yakin benih-benih radikalisme akan sangat mudah kita benamkan. Jangan eksklusif dengan kelompok masing-masing. Kita semua harus menganggap semua pemilih adalah saudara,” tutupnya. (*)