Rabu, 18 September 2019


Warga Diminta Tak Konsumsi Ikan Kaleng

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 363
Warga Diminta Tak Konsumsi Ikan Kaleng

Grafis (Suara Pemred / Koko)

Maskendari, Anggota DPRD Kalbar 
"Sembari menunggu audit dari pemerintah atas 27 merk tersebut, kita minta Disperindag untuk bertindak agar makanan kaleng tersebut, tidak menyebar dan membuat masyarakat merasa tak nyaman,"

Rusman Ali, Bupati Kubu Raya
"Saya minta dinas terkait, segera memeriksa toko dan supermarket di Kubu Raya ini, untuk menarik semua produk-produk makanan kaleng yang mengandung cacing tersebut," 

PONTIANAK, SP - Isu ikan kaleng atau makarel yang mengandung cacing parasit, masih jadi suatu kewaspadaan bagi masyarakat, agar tak sembarang membeli atau mengkonsumsinya. Meskipun, merk-merk tersebut selama ini sudah dianggap familiar di masyarakat. 

BPOM telah menemukan dan mengumumkan, adanya 27 merk makarel kaleng mengandung cacing parasit. 

Oleh karena itu, anggota DPRD, sekaligus Sekretaris Komisi II DPRD Kalbar, Maskendari meminta masyarakat tidak mengkonsumsi jenis makarel yang banyak beredar di pasaran, sebelum pihak pemerintah mengeluarkan pernyataan resmi. 

“Kita mengimbau kepada seluruh masyarakat, tidak mengkonsumsi makanan kaleng yang mengandung cacing, hingga pemerintah memberikan penegasan bahwa, makanan kaleng bebas dan dapat kembali dikonsumsi,” ujarnya, Minggu (8/4).

Pemusnahan bahan makanan kaleng ini, lanjutnya, harus bisa dilakukan termasuk produsen menarik dan memusnahkan makarel, agar tidak dikonsumsi oleh masyarakat luas. 

Merujuk pada temuan BPOM atas 27 merk makarel tersebut, Maskendari juga meminta dengan tegas kepada seluruh pihak, terutama Disperindag agar menelusuri secara menyeluruh penyebaran ke 27 merk tersebut di toko-toko, agar tak ada lagi yang menjual dan supaya memberi rasa aman dan nyaman pada masyarakat. 

"Sembari menunggu audit dari pemerintah atas 27 merk tersebut, kita minta Disperindag untuk bertindak agar makanan kaleng tersebut, tidak menyebar dan membuat masyarakat merasa tak nyaman," katanya.  

Razia Produk

Sejumlah toko dan minimarket di Nanga Pinoh, diketahui masih menjual produk ikan makarel kaleng yang sebelumnya telah ditetapkan mengandung cacing parasit. Kondisi ini menimbulkan keresahan warga, mengingat produk makarel kalengan ini terselip diantara ikan sarden kalengan yang juga dijual bebas di dalam etalase toko.
 
"Seharusnya berdasarkan temuan BPOM, instansi terkait harus turun langsung menarik semua peredaran barang makanan yang mengandung cacing itu, karena dikhawatirkan masyarakat awam yang tidak tahu justru membelinya," kata tokoh masyarakat Melawi, Noor Haz.

Menurutnya, dinas terkait harus memonitor peredaran barang makanan yang mengadung cacing tersebut di setiap pasar, khususnya kota Nanga Pinoh. Karena hal ini juga sudah dilakukan oleh kabupaten atau daerah lain.

“Kita minta Pemda Melawi atau instansi terkait segera menindaklanjuti persoalan ini. Paling tidak segera mengimbau para pemilik toko agar tidak memajang dan menjual barang-barang itu,” tegasnya.

Noor Haz menegaskan, langkah itu demi mencegah masyarakat menjadi korban karena mengkonsumsi barang tersebut.

Sementara, seorang ibu rumah tangga, Meilana mengakui dirinya juga masih bingung terkait dengan keberadaan produk ikan kalengan yang dianggap mengandung cacing. Mengingat makanan tersebut banyak dijual di toko-toko.

“Apakah merek-merek yang disebutkan BPOM itu mengandung cacing memang hanya untuk jenis makarel atau semuanya. Bagaimana dengan ikan sarden kalengan yang juga banyak dijual di pasar dengan merek yang sama,” katanya.

Meilana mengatakan, saat ini berbagai merek yang disebut mengandung cacing memang masih ada ditemui di sejumlah toko. Hanya mengantisipasi berbagai hal, ia pun untuk sementara tidak mengkonsumsi ikan kalengan tersebut.

Satgas Pangan 

Anggota Komisi III DPRD Melawi, Heri Iskandar mengatakan  instansi terkait, baik dinas perdagangan, dinas kesehatan, maupun Satgas Pangan bisa mengambil langkah, untuk menggelar Sidak terkait kemungkinan masih beredarnya ikan makerel kalengan yang masuk dalam daftar BPOM karena mengandung cacing. 

Sidak diperlukan agar produk kemasan ikan kaleng ini dapat diketahui ada atau tidak yang beredar di Melawi. “Kita berharap pihak terkait melakukan Sidak ke pasar dan lainnya yang dianggap ada menjual produk ikan kaleng itu,” katanya.

Distributor dan pedagang juga diharapkan berperan aktif untuk menarik produk makerel yang dianggap mengandung cacing. Karena bila ini tak ditindaklanjuti, akan terus menimbulkan keresahan warga setempat.

Tarik Produk

Bupati Kubu Raya, Rusman Ali meminta dinas terkait, segera menarik semua makanan kaleng yang dinyatakan mengandung cacing parasit, sebagaimana diumumkan oleh BPOM RI hingga ke pelosok.

"Saya minta dinas terkait, segera memeriksa toko dan supermarket di Kubu Raya ini, untuk menarik semua produk-produk makanan kaleng yang mengandung cacing tersebut," Rusman Ali.

Selain itu, dia juga mengingatkan kepada para pedagang, untuk tidak lagi menjual sejumlah merek ikan kaleng yang telah dinyatakan mengandung cacing tersebut.

Dia menegaskan, kesehatan masyarakat sangat penting dijaga bersama. Sehingga masyarakat tidak mengkonsumsi produk-produk yang tidak layak. 

"Karena itu, para pedagang kita minta juga kerjasamanya, untuk tidak lagi menjual jenis ikan kaleng yang mengandung cacing pita ini,"imbaunya.

Di Sintang, meski sudah diumumkan, ikan makarel kaleng yang ditemukan BPOM mengandung parasit cacing masih beredar di pasaran. 

Temuan tersebut disampaikan Kepala Disperindagkop dan UKM Kabupaten Sintang, Sudirman. Dia mengatakan, pihaknya sudah melakukan sidak ke pasar untuk melihat peredaran ikan makarel kaleng yang disinyalir mengandung cacing. 

“Hasil dari sidak, kami menemukan sejumlah merek dari ikan makarel kaleng masih dijual di toko toko,” katanya.

Dikatakan Sudirman, di pasaran di Kota Sintang, ikan makarel kaleng yang paling banyak ditemukan ialah merek Botan, ABC dan Gaga. “Kami telah meminta langsung para toko yang masih menjual ikan makarel mengandung cacing, untuk tidak menjualnya lagi,” kata Sudirman.

Terpisah, anggota DPRD Kabupaten Sintang, Anton mendesak BPOM RI serius menangani kasus ikan makarel kaleng mengandung cacing ini. BPOM RI harus memberikan sanksi hukum pada produsen. 

“Jangan hanya diminta menarik semua produknya saja. Tapi berikan sanksi hukum yang tegas, agar ada efek jera bagi produsen,” desaknya.

Senanda dengan Anton, anggota DPRD Sintang lainnya, yakni Kusnadi. Dia mengharapkan, pemerintah daerah segera berkoordinasi dengan Pemprov dan Pempus, untuk meminta kejelasan mengenai ikan kalengan ini, sehingga tak menimbulkan kekhawatiran berlebihan di masyarakat.

“Sebisa mungkin segera diperjelas, bahaya atau tidak ikan tersebut dikomsumsi. Merek ikan makarel kalengan apa saja yang bisa maupun tidak dapat dikomsumsi,” ucapnya. (abd/eko/tra/nak/lis)

Kiat Menjadi Konsumen Cerdas 

Pemerintah Kota Pekalongan, Jawa Tengah, dalam rangkaian Hari Jadi Ke-112 Kota Pekalongan menyosialisasikan pada masyarakat tentang kiat menjadi konsumen cerdas.

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM Kota Pekalongan Zainul Hakim mengatakan bahwa ada enam kiat menjadi konsumen cerdas agar tidak salah saat akan membeli sesuatu barang di pasar maupun di toko.

Saat membeli barang, kata Zainul Hakim, seyogianya menegakkan hak dan kewajiban masyarakat selaku konsumen, teliti sebelum membeli, perhatikan label, dan manual kartu garansi.

Selain itu, perhatikan pula masa kedaluwarsa, pastikan produk sesuai dengan SNI, standar mutu kesehatan, keamanan dan keselamatan, beli sesuai dengankebutuhan bukan keinginan, serta cermati klausa baku sebelum menandatangani kontrak.

Zainul Hakim mengatakan bahwa kegiatan sosialisasi konsumen cerdas juga bertujuan agar masyarakat sebagai konsumen yang kritis dan berani memperjuangakan haknya apabila barang atau jasa yang dibelinya tidak sesuai dengan yang diperjanjikan.

Kendati demikian, kata dia, konsumen juga harus mengerti atau memahami akan kewajibanya.

"Sosialisasi ini memberikan pemahaman pada masyarakat akan pentingnya perlindungann konsumen sehingga dapat mewujudkan mereka cerdas, kritis, dan memilki kesadaran bertindak baik untuk dirinya sendiri maupun lingkungannya," katanya.

Wali Kota Pekalongan Saelany Machfudz mengatakan bahwa masalah perlindungan konsumen merupakan salah satu hal penting yang sedang berkembang saat ini, terutama dengan banyaknya kasus bahan makanan yang berbahaya jika dikonsumsi manusia.

Penggunaan bahan berbahaya untuk pangan, peralatan makan, dan minuman bermelamin yang mengandung formalin, barang yang sudah kedaluearsa, dan masalah SNI palsu, dan masalah parasit cacing pada ikan makarel dalam kaleng, kini menjadi persoalan yang paling hangat.

"Oleh karena itu, perlu keseriusan dan iktikad yang kuat dari seluruh stakeholders dalam melaksanakan amanat perlindungan konsumen sesuai dengan fungsi dan kewenangannya masing-masing," katanya.

Ia minta semua pihak berhati-hati saat membeli barang agar tidak tertipu dengan barang yang diperdagangkan, baik dengan cara promosi dalam bentuk iklan, ditayangkan di media televisi, radio, dan surat kabar, maupun yang diperdagangkan di sekolah dan pasar.

"Saya berharap kegiatan sosialisasi ini tidak sekadar simbolis, tetapi terus dilakukan instansi terkait pada masyarakat, baik melalui media sosial, internet, maupun media lainnya," katanya. (ant/lis)