Tur Gempa Literasi di Pulau Borneo, Gol A Gong Berbagi Pengalaman Dunia Penulisan

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 328

Tur Gempa Literasi di Pulau Borneo, Gol A Gong Berbagi Pengalaman Dunia Penulisan
DISKUSI - Heri Hendrayana, Penulis Buku Best Seller Indonesia menggelar Diskusi Literasi yang diselenggarakan bersama Mahasiswa FKIP UNTAN, di Aula Kampus FKIP Untan, Selasa (10/4). (SP/Giat Anshorrahman)
Heri Hendrayana, Penulis Buku Best Seller Indonesia akan melakukan Tur Gempa Literasi di Pulau Borneo (Kalimantan, Serawak, dan Sabah) selama satu bulan penuh 9 April – 9 Mei 2018. 

SP - Heri, yang memiliki nama pena Gol A Gong ini, menjadikan Pontianak sebagai kota pembuka rakaian tur tersebut. Selama di Bumi Khatulistiwa ini, dirinya akan melaksanakan berbagai macam rakaian kegiatan. 

Gol A Gong menjelaskan, Gempa Literasi merupakan program dari 'rumah dunia', dimana dalam program tersebut, terdapat berbagai macam kegiatan, salah satunya adalah Diskusi Literasi yang diselenggarakan bersama Mahasiswa FKIP UNTAN, di Aula Kampus FKIP Untan, pada Selasa (10/4).

Kegiatan yang dihadiri oleh 300-an mahasiswa tersebut, Gol A Gong berbagi pengalaman berkaitan dengan dunia penulisan, sekaligus menjelaskan terkait dengan rumah dunia dan gempa literasi yang sedang berlansung saat ini.

Gempa Literasi tersebut dilakukan dengan tur ke berbagai pulau yang ada di Indonesia. Setelah Sumantera, Jawa, Sulawesi, dan Bangka, sekarang Kalimantan. 

“Rumah dunia itu tempat belajar, hal-hal formal tidak ada disana, jadi orang-orang bisa belajar dengan santai,” ujarnya.

Menurut pendiri rumah dunia ini, pihaknya sengaja membuka secara terbuka kepada siapapun, tidak hanya untuk masyarakat sekitar Serang dan Banten untuk belajar bersama di rumah tersebut, dengan metode nonformal-informal. 

Ketika ditanya mengenai gerakan literasi yang akhir-akhir ini cukup ramai dilakukan oleh komunitas, dirinya merasa bahwa masyarakat sudah sadar pentingnya literasi dan tidak suka dikelompokan pada golongan yang minat bacanya rendah. 

Berdasarkan Studi Most Littered Nation In the World" yang dilakukan oleh Central Connecticut State Univesity pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca.

“Kemudian itu yang menggerakan kita untuk membuktikan, bahwa kita tidak seperti yang mereka duga,” jelasnya

Salah satu indikator yang membuktikan gerakan literasi atau minat baca Indonesia masih tinggi adalah, masih banyaknya rumah baca di Indonesia. Menurut dia, ada sekitar 6000 rumah baca yang terdaftar, belum lagi yang belum terdaftar, sehingga tidak ada alasan minat baca di Indonesia masih rendah. Untuk itu, tinggal bagaimana bergerak secara masif saja, seperti pertemuan hari ini. 

Dirinya juga berharap kepada para penggiat literasi, untuk tidak pernah lelah berjuang, karena menurutnya secara ekonomi, literasi bisa menguntungkan. Karya lokal bukan berarti tidak mampu menembus pasar nasional, contoh saja Laskar Pelangi yang berasal dari lokal.

"Literasi mempunya nilai-nilai ekonomi sangat tinggi, jadi dengan kegiatan literasi kita bisa berproduksi, seperti menerbitkan buku, membuat film dan lainnya. Hanya saja ilmu penulisnya yang perlu dipelajari,” ungkap Gol A Gong.

Ketua Prodi Pendidikan Bahasa dan Seni FKIP Untan, Agus Waryiningsih mengatakan, gerakan literasi di Kota Pontianak sekarang berkembang begitu pesat, dibuktikannya dengan gerakan oleh para relawan dan berbagai macam elemen/komunitas di Kota Pontianak. 

Pihaknya berkerjasama dengan bererapa komunitas di Kota Pontianak sekarang sudah melahirkan beberapa karya, baik itu antologi, cerpen dan puisi, serta sekarang sudah mencoba merabah kebeberapa sekolah-sekolah untuk memberikan kontribusi kongkrit di Kalimantan Barat. 

“Pengetahuan masyarakat sudah berkembang pesat, sehingga kegiatan literasi itu, tidak menjadi halangan lagi untuk tidak dilaksanakan,” katanya. 

Dirinya juga menerapkan kebijakan untuk mata kuliah penulisan kreatif. Setiap mahasiswa diwajibkan untuk menciptakan karya, dan karya tersebut harus mencapai pada tingkat penerbitan. 

Selama dua tahun kebijakan itu berjalan, mahasiswa sudah mampu melahirkan berbagai karya dua di antaranya cerpen dan puisi. 

“Untuk pemasarannya masih di tingkat Kalbar, karena masih tingkat pemula. Tapi kami akan berusaha menembus pada tingkat nasional,” katanya.

Sebagai Informasi rakaian kegiatan yang dilaksanakan oleh Gol A Gong di Kota Pontianak, dibantu oleh beberapa komunitas dan elemen masyarakat di Kota Pontianak. (giat anshorrahman/bob)