Senin, 23 September 2019


Menghidupi Musik, Mengabadikan Karya Fisik

Editor:

K Balasa

    |     Pembaca: 473
Menghidupi Musik, Mengabadikan Karya Fisik

Record Store Day Pontianak. (ist)

PONTIANAK, SP - Digitalisasi musik merupakan keniscayaan. Banyak orang memilih koleksi karya dalam ponsel pintar mereka. Tapi tidak sedikit pula yang merasa nyaman dengan piringan cakram.

Record Store Day (RSD) Pontianak adalah salah satu ajang temu para musisi dan penikmat musik dalam bentuk fisik. Dalam lima tahun terakhir agenda ini terus digelar. Minggu, 29 April 2018 di Kedai Rasi, Jalan Sulawesi, Pontianak, akan banyak saksi bahwa industri rilisan fisik tak pernah mati.

Koordinator Acara RSD PTK, Arbian Octora mengatakan, beda dari tahun-tahun sebelumnya, tahun ini Tim Kerja RSD PTK membuat kumpulan karya bertajuk ALBUM KOMPILASI RECORD STORE DAY PONTIANAK 2018. Perwujudan misi dan pemikiran pegiat musik, menyesuaikan dan merespon situasi skena musik lokal tahun ini. Album itu akan berisikan 20 lagu dari 20 band Pontianak yang sebelumnya diseleksi.

Album kompilasi itu akan dijual di acara dengan edisi terbatas, hanya 100 keping. Tujuannya tak lain untuk memperkuat produktivitas dari kreativitas band atau musisi lokal untuk memproduksi rilisan fisik dan melaksanakan berbagai hal sebelum dan sesudahnya.

“Produksi rilisan fisik tidak hanya mengenai sebuah cakram padat berdiameter 12 cm yang berisi karya, tapi juga proses pra produksi yang mencakup proses rekaman dan perencanaan produksi, proses pasca produksi yang sangat penting antara lain kegiatan promosi dan distribusi,” cerita Arbian, Rabu (25/4).

Semangat ini yang jadi latar belakang tim RSD PTK terus berkumpul dan kembali setiap tahun. Mengeksporasi hal baru yang menarik dan menguatkan skena musik lokal berkaitan dengan rilisan fisik. Lima tahun berjalan, RSD PTK sudah seperti ritual perayaan musik lokal.

Lapak jual dan beli rilisan fisik masih jadi menu utama tahun ini. Sepuluh pelapak sudah menyatakan siap. Dua di antaranya adalah label rekaman kecil-kecilan yang tak pernah absen setor cakram. Namun, selalu ada hal tak terduga muncul. Ada saja perkenalan dengan orang-orang baru yang tak jarang melahirkan karya atau bahan diskusi untuk rilisan fisik ke depan. Obrolan itu tak setop di malam ritual, tapi menyebar ke warung-warung kopi dan kreativitas yang enggan henti.

“Jumlah lapak di RSD PTK sangat jauh dibandingkan acara serupa di Pulau Jawa, bukan kekurangan, ini ciri khas,” imbuhnya.

Jumlah yang tak banyak membuat pelapak, musisi dan pecinta musik kian akrab. Sebagian dari mereka biasanya banyak berkomunikasi lewat pesan pribadi dalam transaksi jual beli. Tapi di malam nanti, semua akan terlibat obrolan santai soal musik dan karya. Banyak karya yang akan diulas dan dikupas bersama-sama. Dan yang ketinggalan, penampilan band-band lokal.

“Tahun ini kami memberi tempat khusus banyak band baru yang memiliki karya untuk tampil dan dikenal oleh lebih banyak lagi pencinta musik di Pontianak. Empat di antaranya adalah band-band yang karyanya ada di dalam album kompilasi,” jelasnya.

Satu hal istimewa, di puncak acara RSD PTK akan ada peluncuran album pertama dari band The Yee. Sebuah band elektronik pop yang tiga tahun terakhir meramaikan panggung musik Kota Pontianak.

Kehadiran band seperti The Yee menurut Arbian menjawab sangkaan orang bahwa kemajuan teknologi jadi lawan industri musik. Malah menurutnya, teknologi turut membawa manfaat bagi perkembangan rilisan fisik, antara lain inovasi bentuk kemasan rilisan, peningkatan kualitas audio, distribusi yang lebih cepat dan meluas, dan promosi yang semakin mudah.

“Setiap tahun kami masih yakin dan sepakat bahwa rilisan fisik adalah salah satu bentuk arsip dan juga bukti warisan budaya yang bisa disimpan dan dirasakan kehadirannya secara nyata di kehidupan sehari-hari,” tutupnya. (bls)