Pemda Mesti Antisipasi Kenaikan Harga

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 395

Pemda Mesti Antisipasi Kenaikan Harga
Grafis (Suara Pemred/Koko)
Karyanto Suprih, Sekjen Kemendag RI
“Jika stok tersedia kemudian harga barang naik, maka akan kita selidiki melalui Satgas Pangan untuk mengecek apa yang terjadi, apakah ada penimbunan dan sebagainya,” 

Martinus Sudarno, Komisi V DPRD Provinsi Kalbar, 
“Jangan sampai ada pengusaha-pengusaha nakal yang sengaja mempermainkan harga. Kasihan masyarakat kita,”

PONTIANAK, SP
- Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat mengelar Rapat Koordinasi Daerah dalam rangka menjamin stabilisasi dan stok barang kebutuhan pokok jelang puasa dan lebaran tahun 2018 di Balai Petitih, Kantor Gubernur Kalbar, Kamis (3/5).

Turut hadir dalam rapat bersama sejumlah dinas dan stakeholder terkait lainnya dari 14 kabupaten/kota di Kalbar, serta Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan Republik Indonesia, Karyanto Suprih.

“Jadi pertemuan kita hari ini adalah, mengidentifikasi apa permasalahan menghadapi hari besar keagamaan, terutama puasa dan lebaran. Kita mendegar laporan dari 14 kabupaten/kota yang ada di Kalbar ini,” kata Karyanto, saat ditemui seusai kegiatan. 

Dari permasalahan-permasalahan yang ada tersebut, bisa dibahas bersama upaya antisipasi-antisipasi apa yang nanti, harus dilakukan serta bagaimana jalur distribusinya.

“Berdasarkan identifikasi beberapa bahan kebutuhan pokok stabil, walau ada beberapa daerah tertentu harganya tingggi, seperti di Kapuas Hulu karena jarak yang jauh,” sebutnya.

Hasil kesepakatan juga, nantinya daerah yang surplus akan membantu daerah yang mengalami defisit ketersedian barang kebutuhan pokok, dengan demikian diharapkan tidak ada lonjakan harga dan barang di pasaran tetap stabil.

Kemudian juga antispasi karena tingginya permintaan, pemerintah melalui Kemendag menginstruksikan kepada Bulog. “Agar memasok dan menyuplai barang kebutuhan pokok terutama beras dan daging beku, berapa pun kebutuhan harus dipenuhi,” katanya.

Yang terpenting strategi dalam menghadapi bulan puasa dan lebaran ini, menjamin pasokan tetap tersedia. Jika pasokan tersedia, maka tidak ada alasan barang naik.

“Jika stok tersedia kemudian harga barang naik, maka akan kita selidiki melalui Satgas Pangan untuk mengecek apa yang terjadi, apakah ada penimbunan dan sebagainya,” ujar Karyanto.

Sementara, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kalbar, M. Ridwan memastikan, kendati hingga hari ini stok bahan pokok sebagai persiapan menghadapi bulan puasa dan lebaran tersedia cukup, namun pihaknya tetap akan melakukan upaya antispasi.

“Kita tetap akan melakukan pemantauan terhadap daerah-daerah yang mengalami kekurangan, kita akan tetap akan berkomunikasi,” ujarnya. 

Kalau umpamanya nanti kebutuhan-kebutuhan itu tidak bisa dipenuhi di tingkat provinsi, akan diteruskan ke pusat untuk melakukan pengisian-pengisian ke daerah-daerah yang mengalami kekosongan stok bahan pokok. 

Ridwan meminta semua pihak tidak perlu merasa cemas dan khawatir, terkait ketersedian stok bahan pokok menjelang lebaran tahun ini, karena semuanya sudah disiapkan dan sudah diantispasi. 

“Jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan, semuanya siap menghadapi puasa dan lebaran,” sebutnya.
Disinggung mengenai harga telur yang kerap melonjak jelang bulan lebaran, Ridwan mengatakan itu biasanya disebabkan oleh ulah masyarakat yang kerap terkesan panik, sehingga membeli dalam jumlah banyak, padahal stok tersedia cukup.

Stok Tersedia

Kepala Divisi Regional Badan Urusan Logistik (Bulog), Kalbar, Sabaruddin Amrullah menyebutkan, pihaknya telah menyediakan stok kebutuhan di pergudangan yang mereka miliki, bukan saja untuk siap menghadapi bulan puasa dan lebaran, melainkan juga hingga setelah lebaran.

“Secara SOP kami harus menyediakan minimal untuk tiga bulan. Namun untuk Kalbar kami siapkan sampai empat bulan ke depan, artinya hinga selepas lebaran,” sebutnya. 
Stok itu tersedia di 10 lokasi pergudangan milik Bulog yang tersebar di 14 kabupaten/kota. 

“Total gudang yang kita miliki ada 17 unit, dan saya rasa semuanya cukup,” imbuhnya.

Untuk harga beras medium sesuai dengan Harga Eceran Tertinggi (HET) yang telah ditetapkan, sebesar Rp9.950 dan premium Rp13.300. Pihaknya juga sejak Januari hingga awal Mei sudah melaksanakan operasi pasar, dengan total saluran beras sebanyak 3.920 ton.

“Ini artinya operasi pasar sangat relevan karena kalau kita kalkulasikan per bulan mencatat hampir rata-rata 1.000 ton,” ujarnya. 

Fokus Komoditi Strategis 

Kepala Dinas Pertanian, Tanaman Pangan dan Holtikultura Kalimantan Barat, Heronimus Hero menyampaikan pengawalan dari segi produksi dan suplai mulai dari padi, jantung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi jalar dan ubi kayu. Sementara dari tanaman holtikultura terdapat empat jenis, yaitu tanaman sayur, tanaman buah, tanaman hias dan tanaman obat yang ratusan jumlahnya.

Terkait dengan bahan-bahan pokok dan persiapan menyambut bulan puasa dan lebaran, pihaknya lebih fokus pada komoditi strategis seperti beras, cabai dan bawang.

“Beras dapat kami sampaikan bahwa secara keseluruhan kalau bicara stok dari sisi produksi Kalimantan Barat sudah surplus, berdasarkan angka dari BPS untuk angka sementara 2017, angka tetapnya nanti bulan Juni baru keluar,” ujarnya.

Saat ini surplus beras tersebut terhitung pada posisi secara total lebih kurang 300.000 ton. Namun menurutnya distribusi yang ada tidak merata, sebab jika dilihat posisi produksi, tidak semua kabupaten/kota sudah surplus dari produksi setempat yang belum termasuk distribusi.

Dari 14 kabupaten/kota, ada tiga yang masih mengalami defisit produksi beras yang berdasarkan analisis konsumsi perkapita 114 kilogram per kapita per tahun, yaitu Kabupaten Melawi, Kota Singkawang dan Kota Pontianak dari segi produksi tingkat lokal.

“Itu kalau kita lihat hitung-hitungannya per orang, tua muda, besar kecil, sehari itu konsumsi kurang lebih 3 ons,” jelasnya.

Namun defisit dari tiga daeerah tersebut dapat ditutupi oleh adanya distribusi yang lancar. Dari segi pemasaran adanya HET berdasarkan keputusan menteri yang membatasi jenis beras medium dan premium, juga cukup membantu dalam menjaga stabilitas harga di pasaran.

Dari komoditi holtikultura strategis yang berpengaruh terhadap inflasi, yaitu cabai dan bawang, dalam beberapa tahun belakangan menganggap bawang tidak dapat dikembangkan di Kalbar, namun sejak tahun 2014 akhir sudah mulai dilakukan upaya pengembangan.

Sebab sebelum itu, dikatakannya lagi bahwa pengaruh komoditi bawang di pasar terhadap andil inflasi sangat tinggi.

“Melihat kondisi itulah dari Kementerian Pertanian melakukan upaya-upaya produksi di tingkat lokal,” imbuhnya. 

Sidak Pasar

Sekretaris Jenderal Kementerian Perdagangan, Karyanto Suprih mendatangi Pasar Flamboyan dan Pasar Mawar Pontianak, Kamis (3/5). Dalam kunjungan tersebut, Karyanto minta pedagang untuk tidak menjual barang lebih dari HET. 

“Kita tidak ingin juga pengusaha merugi. Kita ingin mereka untung. Tetapi tetap harus di dalam koridor. Ikuti saja HET-nya,” ungkap Karyanto, diwawancarai saat kunjungan di Pasar Mawar, Kamis (3/5). 

Menurut Karyanto, pedagang harus mengikuti HET yang telah ditetapkan. Jangan bermain-main dengan harga. Karyanto mengaku pemerintah pusat  maupun daerah akan terus mengawasi harga di pasar. Distributor pun wajib melaporkan stok dan harga yang mereka miliki. 

“Yang tidak boleh, dijual harga tinggi, dia stok barang banyak. Itu kan penimbunan. Kita akan tangkap,” ungkap Karyanto. 

Ia mengatakan, pedagang boleh menjual di bawah HET, namun tidak boleh di atas. Dalam HET, pihak kementerian terkait telah menghitung dan tidak akan terjadi kerugian bagi pedagang. Pedagang yang menimbun juga akan rugi, karena saat ini stok mencukupi. 

Tegur Pengusaha 

Kasubdit 1 Indagsi Ditreskrimsus Polda Kalbar, AKBP Sardo M. P. Sibarani, selaku Satgas Pangan Kalbar mengatakan, sesuai dengan penyampaian dari dinas-dinas terkait, pihaknya akan bersama-sama memanggil dan menegur atau bahkan memanggil ke Polda, jika ada distributor, pengusaha atau spekulan yang menaikan harga di atas HET.

“Ancaman pidananya belum ada, hanya teguran, pencabutan izin usaha,” ujarnya.

Sejauh ini berdasarkan hasil pantauan Tim Satgas Pangan Polda Kalbar bersama dengan Disperindag, Dinas Pangan dan Dinas Pertanian, para distributor hingga saat ini cukup kooperatif mengikuti apa yang sudah dianjurkan.

Untuk kasus menaikkan harga dikatakannya hingga saat ini belum ditemukan, namun untuk kasus-kasus penanganan bahan pokok yang masuk secara ilegal dari luar negeri sudah banyak ditangani.

“Kita sudah dalam tempo empat bulan ini, sampai April, sekitar 28 kasus yang sudah kita tangani,” imbuhnya.

Rata-rata bahan-bahan pokok yang diselundupkan oleh para pelaku tersebut merupakan jenis sayur-sayuran yang tidak ada di wilayah Kalbar. “Dia hanya ada di Jawa, jadi seperti wortel, kentang, bawang dan itu tergantung musim,” tambahnya. 

Tiga Komoditi 

Sementara, Kepala Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Barat Abdul Manaf menyampaikan dalam rangka menjaga ketersediaan harga dan keamanan produk peternakan dalam rangka Idul fitri 1439 H.

Berdasarkan survey Sosial ekonomi nasional 2018 bahwa untuk produk peternakan seperti daging sapi, ada target sasaran dengan kebutuhan perorang sebanyak 2,9 kilogram per kapita, pertahun, daging ayam 8,1 kilogram perkapita pertahun, telur 7,9 kilogram perkapita, pertahun. Dengan jumlah penduduk berdasarkan data BPS sebanyak 4.932.499 jiwa, sedangkan data Dukapil sebanyak 5.381.428 jiwa.

Dia menyampaikan terkait ketersediaan, harga dan keamanan pangan di Kalbar menjelang Idul fitri, ada tiga komoditi utama yang memilik lonjakan permintaan yang sangat tinggi dan dapat mempengaruhi inflasi, yaitu telur ayam, daging ayam dan daging sapi.

Untuk mendapatkan data yang akurat di lapangan pihaknya melakukan monitoring lapangan dan pasar, meminta data dari dinas kabupaten/kota, mengumpulkan pelaku usaha baik perunggasan maupun pelaku usaha ternak sapi, membangun komunikasi dengan perhimpunan insan peeunggasan, melakukan Rakor instansi terkait dan pelaku usaha, koordinasi dengan karantina, pengawasan mutu bibit, pengawasan mutu pakan dan surveylance penyakit hewan menular.

Berdasarkan data asosiasi agribisnis perunggasan dan perhimpunan peternak ayam ras, ayam petelur, meburutnya dengan Indukan sebanyak 1,4 juta ekor, produksi telur dalam satu hari sebanyak kurang lebih 120 ton, jika 1 kilogran 16 butir, perbulan maka mencapai 3.600 ton perbulan.

“Ini kebutuhan sudah kita hitung, kurang kebih 3.400, sehingga ketersediaan telur ayam untuk Kalimantan Barat ini cukup, tidak perlu didatangkan dari luar,” ujarnya.

Awasi Usaha

Anggota Komisi V DPRD Provinsi Kalbar, Martinus Sudarno menegaskan kepada Pemerintah, mengawasi terhadap stok barang di pasar. Khususnya pada saat puasa dan lebaran nanti.

Hal itu dikarenakan hukum pasar mempunyai prinsip semakin tinggi permintaan konsumen, namun ketersedian barang berkurang. Maka otomatis harga pangan akan melonjak naik. 

“Jangan sampai ada pengusaha-pengusaha nakal yang sengaja mempermainkan harga. Kasihan masyarakat kita,” jelas Sudarno. 

Sudarno menganggap perlu adanya pengawasan dari pemerintah, terkait dengan ketersedian stcok dan harga kebutuhan pokok masyarakat dipasar. Apalagi disetiap daerah mempunyai dinas yang khusus dibidang dibidang tersebut 

Pemerintah dimintannya untuk tidak menjadikan persolan seperti ini terus berlanjut, apalagi dihari-hari keagamaan, kebutuhan pokok masyarakat dipasar harus tetap terjaga ketersedian dan harganya. 

“Orang mau beribadah, benar-benar mau beribadah kan lalu terbeban fikiran ny dengan kebutuhan yang mahal dan terjadi kelankaan. Dengan pemerintah menjaga masyarakat bisa beribadah dengan khusyuk,” pungkasnya.(adi/bls/dev/iat/nak/rah/lis)