Senin, 16 Desember 2019


Mahmudah: Kelurahan Ujung Tombak Pelayanan

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 413
Mahmudah: Kelurahan Ujung Tombak Pelayanan

BERKUNJUNG - Pjs Wali Kota Pontianak saat berkunjung ke Kelurahan Benua Melayu Laut beberapa waktu lalu. (Ist)

PONTIANAK, SP - Penjabat sementara (Pjs) Wali Kota Pontianak, Mahmudah mengungkapkan Pemerintah Kota Pontianak memiliki komitmen kuat untuk membangun kelurahan sebagai ujung tombak pemerintahan. Salah satunya dengan pemberian alokasi dana kelurahan di masing-masing kelurahan. Anggaran ini diharapkan jadi kekuatan yang membantu kelurahan berkembang. 

"Melalui dana tersebut diharapkan masing-masing kelurahan dapat melakukan inovasi-inovasi sesuai dengan potensi yang ada di wilayahnya masing-masing," ungkapnya, Kamis (10/5).

Komitmen pemerintah kota ini tentu tidak lepas dari upaya untuk selalu meningkatkan pembangunan di kelurahan sebagai upaya mewujudkan perbaikan dalam pelayanan publik. Salah satu upaya tersebut yakni penerapan layanan berbasis elektronik e-kecamatan dan e-kelurahan. Layanan ini sengaja dibuat untuk mempermudah warga berurusan di kecamatan maupun kelurahan. 

Hal ini seiring dengan arah kebijakan pembangunan Kota Pontianak saat ini yakni dalam rangka membangun kota cerdas melalui pemanfaatan teknologi. Dalam beberapa tahun terakhir, penerapan smart city memang terus digencarkan. Tidak hanya sekadar branding, namun masuk ke pelayanan. 

Hasil dari upaya-upaya menjadikan kelurahan sebagai ujung tombak pelayanan pun terlihat. Misalnya baru-baru ini, Kelurahan Benua Melayu Laut (BML), Kecamatan Pontianak Selatan mewakili Kota Pontianak dalam Lomba Kelurahan Tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Sejumlah prestasi memang pernah diraih kelurahan yang tengah ditata di wilayah tepian Kapuas ini. 

Ia mengatakan Kelurahan BML sudah selayaknya mewakili Pontianak untuk mengikuti lomba kelurahan tingkat Provinsi Kalbar.

"Mengingat berbagai prestasi telah diraih oleh Kelurahan BML, mulai dari tingkat kota, provinsi hingga nasional," ungkapnya.

Menurutnya, ada tiga indikator yang menjadi penilaian dalam lomba kelurahan, yakni bidang pemerintahan, bidang kewilayahan dan bidang kemasyarakatan.

Mahmudah berharap melalui lomba kelurahan ini menjadi momentum yang sangat penting untuk melakukan evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat.

"Apa yang didapat harus jadi bahan evaluasi terhadap penyelenggaraan pemerintahan, pelaksanaan pembangunan dan pemberdayaan masyarakat," pungkasnya. 

Dalam upaya pelayanan ke masyarakat, Lurah BML, Lestari mengatakan saat ini wilayahnya merupakan salah satu yang menjadi sasaran program pembangunan water front. Sebagai wilayah yang terkena dampak pembangunan, dia mengapresiasi dukungan masyarakat di wilayahnya yang dengan sukarela menyerahkan sebagian halaman rumah dan ruko untuk pembangunan jalan masuk menuju promenade. 

"Terima kasih serta apresiasi yang setinggi-tingginya kepada warga Gang Irian dan warga di tepiang sungai yang terkena dampak pembangunan promenade serta seluruh warga BML yang telah mendukung sehingga pembangunan ini berjalan sesuai dengan yang direncanakan," katanya.

Sebelumnya, Ketua RT 03 RW 03, Kelurahan Benua Melayu Laut, Syarif Kamaruzaman (41) berharap pembangunan promenade dapat selesai cepat. Makin cepat makin baik. 

"Kalau dukungan masyarakat alhamdulillah dari RW 03 sangat mendukung dan tak ada masalah," katanya, belum lama ini.

Namun demikian dia berharap ada keterlibatan warga ke depan dari pemerintah. Bagaimana agar masyarakat setempat bisa mendapatkan pendapatan dari adanya promenade.

"Supaya masyarakat sini diprioritaskan  dengan kebijakannya, yang jelas sekitar sinilah dibantu usaha berdagang,  terserahlah apapun," ucapnya. 

Dukungan warga terhadap promenade memang tak perlu diragukan. Misalnya saja Maimunah (67) yang membongkar sendiri warungnya yang berdiri di atas sungai, dalam pembangunan awal tahun lalu. Dibantu seorang pekerja, bangunan 4x8 meter itu dipreteli satu per satu. 

Warung makan itu sejatinya merupakan Posyandu Balita Karya Indah II dan Posyandu Lansia Lestari. Dua Posyandu itu melayani puluhan anak dan lansia. Totalnya mencapai ratusan.

"Pertamanya Posyandu saya berada di rumah karena ramainya balita jadi tidak tertampung dan akhirnya saya menumpang di Cafe Tsunami, akhirnya saya berpikir karena tutupnya sampai subuh, lebih baik saya mendirikan di sini," terangnya.

Pertama ingin membangun Posyandu, tiga tahun lalu, Lurah setempat mengarahkan pada salah satu lahan milik warga. Usul itu tidak dia terima lantaran takut ke depan akan jadi masalah. Posyandu akhirnya dibangun di atas sungai dengan dana pribadinya.

"Saya buat 3x4 untuk Posyandu anak-anak dan lansia, selanjutnya karena ramai akhir saya tambah lagi luasnya. Jadi untuk satu bulan Posyandu beroperasi hanya dua kali, dan mengisi waktu kosong dipergunakan untuk membuka rumah makan sederhana yang hasilnya juga untuk warga dan Posyandu," kisahnya.

Ada pembongkaran diungkapkannya ikhlas dia lakukan. Dia berharap apa yang dilakukannya dapat diikuti warga lain. Diakuinya, bangunan  di atas sungai tersebut bukan milik pribadi. (bls/bob)