Daging dan Telur Diprediksi Sumbang Inflasi saat Ramadan

Ponticity

Editor K Balasa Dibaca : 414

Daging dan Telur Diprediksi Sumbang Inflasi saat Ramadan
Deputi Kepala Perwakilan Bidang Ekonomi dan Keuangan Bank Indonesia, Adinanto Cahyono. (SP/Balasa)
PONTIANAK, SP - Deputi Kepala Perwakilan Bidang Ekonomi dan Keuangan Bank Indonesia, Adinanto Cahyono menerangkan dari penelitian pihaknya selama lima tahun terakhir di Kota Pontianak, daging, ayam dan telur jadi komoditas yang menyumbang inflasi di bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri.

Komoditas jenis ini memang komoditas yang sulit dihindari sebagai penyumbang inflasi dari tahun ke tahun. Sementara untuk sektor transportasi, di Pontianak penyumbang inflasinya adalah angkutan udara. 

"Persentasenya tidak bisa dijelaskan secara pasti, tapi ada kecenderungan dari tahun 2015 ke 2016 dan 2017 memang ada penurunan dalam inflasi," jelasnya usai rapat Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Kota Pontianak di Kantor Bappeda, Selasa (15/5).

Dia menjelaskan angkutan udara selalu menempati angka yang paling tinggi penyumbang inflasi pada setiap saat bulan Ramadan dan menjelang lebaran. Tetapi bila dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, ada kecenderungan tren menurun.

"Tahun ini saya belum bisa memastikan seperti apa, kita akan lihat lagi seperti apa karakteristiknya," imbuhnya.

Kecenderungan menurunnya harga tiket pesawat kemungkinan dikarenakan sudah banyaknya maskapai yang masuk, jam-jam penerbangan banyak, begitu pula direct flight sudah banyak.

Sehingga masyarakat punya banyak pilihan untuk memilih mana yang optimal bagi mereka untuk pulang kampung.  Secara umum, dia menerangkan inflasi di bulan Ramadan dan menjelang lebaran, dari tahun ke tahun itu biasanya yang bergejolak ada dua item.

Yakni harga bahan pangan dan harga-harga yang diatur oleh pemerintah seperti bahan bakar minyak, gas dan terutama sekali adalah transportasi.

"Di sini yang perlu diperhatikan kalau untuk pangan adalah ketersediaan pasokan," ucapnya.

Namun dia yakin pemerintah kota maupun pemerintah provinsi juga sudah pengalaman untuk menyediakan kecukupan pasokan.

Sementara untuk biaya transportasi yang mungkin akan membengkak dikarenakan permintaan yang banyak. Hal ini tidak bisa dihindari.

"Yang mungkin bisa dilakukan Pemerintah Kota atau Pemprov, bagaimana pengaturannya supaya hal ini tidak menimbulkan kepanikan, dalam arti kalaupun memang tiket itu harus naik harganya, ya jangan sampai banyak calo yang berkeliaran sehingga mengakibatkan harga semakin melambung tinggi," pintanya.

Adinanto mengingatkan, yang paling penting dari inflasi di bulan Ramadan dan menjelang lebaran adalah bagaimana caranya supaya inflasi tidak berakibat kepada instabilitas keamanan.

Maka untuk penanganan inflasi, Pemerintah Kota dan dinas terkait serta TPID mesti memastikan pasokan itu cukup. Sementara untuk transportasi, TPID harus memastikan bahwa semua kenaikan itu wajar tapi bagaimana tidak menciptakan kekhawatiran. (bls)