Ramadan, Jam Kerja Petugas Kebersihan Pontianak Bertambah

Ponticity

Editor K Balasa Dibaca : 556

Ramadan, Jam Kerja Petugas Kebersihan Pontianak Bertambah
Kondisi sampah di TPA Batulayang. (SP/Balasa)
PONTIANAK, SP – Volume sampah Kota Pontianak diperkirakan meningkat di bulan Ramadan. Konsumsi rumah tangga dan lahirnya lokasi-lokasi pasar juadah atau mereka yang berdagang takjil memang marak di bulan suci umat Islam tersebut. Penambahan volume sampah ini juga terpengaruh sampah buah seperti kelapa dan durian yang dipastikan ramai.

“Bulan Ramadan mau tidak mau penambahan jam kerja saja, kalau tenaga kita tidak,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pontianak, Tinorma Butar-Butar, Minggu (20/5).

Kebijakan penambahan jam kerja memang jadi upaya penanganan membludaknya sampah dari tahun ke tahun. Kebijakan ini biasanya diambil jelang Ramadan atau ketika musim buah datang. Penambahan jam kerja atau lembur ini disesuaikan dengan kondisi lapangan.

“Rutinitas tetap berjalan, setelah selesai baru kita mengerjakan lembur. Mohon maaf juga kepada masyarakat, kadang harus bersabar menunggu, kondisi kita melakukan rutinitas dulu baru ini (lembur),” katanya.

Dalam hal ini pihaknya juga melakukan sosialisasi kepada masyarakat, agar sampah-sampah yang dihasilkan oleh masyarakat, baik juadah ataupun buah dapat dikemas dengan baik. Jika masih bisa dimanfaatkan, Tinorma berharap hal itu dilakukan.

“Kalau sampah mereka seperti pasar juadah, itukan banyak sayur-mayur, itu juga kita harapkan disosialisaikan kepada mereka supaya itu juga dimanfaatkan disumbernya,” imbuhnya.

Dengan dikemas baik, sampah yang dihasilkan tidak akan menyebabkan kota tampak kotor dan kumuh. Dia menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir, sudah terjalin kerja sama yang baik antara pedagang dengan DLH. Mereka ikut menjaga dan merasa kota akan lebih baik jika bersih.

“Adanya kegiatan itu jangan sampai membuat kota jadi kotor dipandang masyarakat atau tamu yang datang,” pintanya.

Khusus untuk sampah kepala muda yang jadi langganan ketika Ramadan datang, pihaknya akan melakukan penyisiran di ruas-ruas jalan. DLH akan melakukan pengawasan dan memberikan masukan agar sampahnya dikemas baik. Termasuk ketika dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Sementara (TPS) terdekat.

Tak hanya menambah volume sampah, ada potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari pasar juadah atau dagangan takjil pinggir jalan. Sebagian dari mereka sudah ditarik retribusinya dan berjalan sejak beberapa waktu lalu. Belum semuanya ditarik retribusi terjadi lantaran kendala keterbatasan personel.

“Tapi tetap kita, kalau pun itu di suatu tempat, kita tetap mau ada penarikan retribusi, disesuaikan dengan tarif retribusi yaitu pakai karcis. Jadi selain penanganan ada peningkatan PAD,” katanya.

Untuk dagangan menghasilkan sampah berat, mereka dikenakan retribusi Rp25 ribu per malam. Retribusi jenis ini biasanya kenakan kepada pedagang kelapa dan durian. (bls)