Kamis, 14 November 2019


Belanja Berlebih Picu Kenaikan Harga

Editor:

K Balasa

    |     Pembaca: 970
Belanja Berlebih Picu Kenaikan Harga

Pjs Wali Kota Pontianak, Mahmudah saat memberi sambutan. (ist)

PONTIANAK, SP – Penjabat sementara (Pjs) Wali Kota Pontianak, Mahmudah meningatkan masyarakat agar tidak belanja berlebih jelang Hari Raya Idul Fitri 1439 Hijriyah. Perilaku belanja berlebih justru akan memicu kenaikan harga. Dia mengajak masyarakat senantiasa hidup sederhana dan tidak berlebih-lebihan dalam menghadapi lebaran.

“Membeli barang-barang secara berlebih-lebihan akan menjadi salah satu pemicu melonjaknya harga barang,” ujarnya dalam Silaturahmi Ramadan dengan masyarakat di Aula Kantor Camat Pontianak Timur, Kamis (31/5).

Dia berujar kenaikan harga jelang hari raya memang tidak bisa dibendung. Namun, dia berharap kenaikan harga kebutuhan pokok tidak sampai membuat masyarakat resah. Beberapa harga kebutuhan pokok memang diprediksi naik, tapi masih dalam batas Harga Eceran Tertinggi (HET).

“Yang berpotensi naik misalnya harga daging sapi dan ayam. Tapi kita menjamin ketersediaan barang-barang kebutuhan pokok cukup hingga tiga bulan ke depan,” katanya.

Dia meminta masyarakat tidak khawatir lantaran stok tersedia cukup. Memang ada kemungkinan fluktuasi harga, tapi masih dalam batas normal. Maka dia mengimbau agar warga tak panik dan membeli barang secara berlebihan.

Dengan tidak panik, pasar tidak akan menaikkan harga yang terlampau tinggi. Akan tetapi Pemerintah Kota Pontianak memastikan harga pasaran nantinya masih bisa terjangkau masyarakat. Begitu harga komoditas naik, stok yang ada akan digelontorkan.

Salah dua upaya mengontrol pasokan komoditas yang dipakai Pemkot Pontianak adalah dengan info harga pangan di pasar-pasar dan para distributor yang wajib lapor jumlah isi gudang mereka. Sebelumnya, Kepala Dinas Koperasi, Usaha Mikro dan Perdagangan (Diskumdag) Kota Pontianak, Haryadi Tri Wibowo menegaskan pelaporan stok wajib dilakukan secara online ke dinas. Selama ini, agen dan distributor tidak pernah melapor secara signifikan.

"Semua distributor tentu punya staf, dia bisa masukkan data ke Disperindag secara online. Jumlahnya yang masuk berapa, keluar berapa, stok berapa yang stay," katanya.