Kalbar Darurat Bunuh Diri

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 773

Kalbar Darurat Bunuh Diri
Grafis ( Koko/Suara Pemred )
Kepala Dinas Kesehatan Melawi, Ahmad Jawahir
"Kalau sekarang yang kerap datang ke Puskesmas itu lebih karena layanan psikiatris. Bukan karena depresi. Justru yang seperti ini malah malu-malu datang ke Puskemas. Malah lebih memilih konsultasi dengan temannya. Padahal ini sebenarnya berbahaya."

Ketua Himpunan Psikologi Indonesia Wilayah Kalbar, Fitri Sukmawati
“Dalam keluarga, orang tua harus melihat perubahan perilaku anaknya, atau tetangga dan teman-temannya,” 

PONTIANAK, SP – Kasus bunuh diri di Kalimantan Barat terus terjadi. Jumat (22/6) lalu, Kong Kim Kiong alias Akiong (59), warga Gang Usaha Baru 1, Jalan Prof.M Yamin, Kecamatan Pontianak Kota, ditemukan tewas gantung diri di pohon mangga samping rumahnya, sekira pukul 05.00 WIB. Kong diduga memilih bunuh diri lantaran depresi.

Beberapa hari sebelumnya, Selasa (19/6) di Singkawang, seorang pria berinisial BS (25), mengakhiri hidup dengan gantung diri usai menelepon istrinya M, di tangga rumah toko (ruko) Jalan Kalimantan RT 007 RW 003 Kelurahan Roban, Kecamatan Singkawang Tengah, sekitar pukul 21.45 WIB.

Satu kasus bunuh diri paling banyak disorot adalah aksi nekad Alexander (23) seorang mahasiswa Universitas Tanjungpura (Untan) warga Desa Terusan, Kecamatan Manis Mata, Kabupaten Ketapang. Dia ditemukan meninggal gantung diri di losmen milik saudaranya di Desa Nanga Tayap, Kecamatan Nanga Tayap, Senin (23/4), sekitar pukul 05.45 WIB. Dia mengakhiri hidup sambil melakukan panggilan video dengan mantan pacarnya lewat aplikasi WhatsApp. 

Dari catatan Suara Pemred, sepanjang 2018 hingga Minggu (24/6), terjadi setidaknya 22 kasus bunuh diri di Kalbar. Laki-laki paling banyak jadi korban bunuh diri dengan total 16 orang. Tak hanya bunuh diri, dari kurun waktu tersebut, diketahui ada lima aksi percobaan bunuh diri. Empat dari pelakunya adalah lelaki. Namun satu kasus percobaan yang dilakukan seorang siswi di Kabupaten Ketapang paling banyak menarik perhatian.

Beragam faktor ditengarai jadi penyebab seseorang memilih bunuh diri. Sebagai contoh di Kabupaten Sintang terjadi tiga kasus bunuh diri dan satu percobaan bunuh diri sepanjang 2018. Satu kasus percobaan bunuh diri berhasil digagalkan anggota Reskrim Polres Sintang, saat korban akan terjun dari Jembatan Melawi.

“Dari kasus yang ada, motif kasus bunuh diri di antaranya karena persoalan asmara dan faktor ekonomi,” kata Kasat Reskrim Polres Sintang, AKP Eko Mardianto, Minggu (24/6).

Sementara di Kabupaten Sekadau, di tahun ini terjadi lima kasus bunuh diri. Kasus tersebut tersebar di Kecamatan Sekadau Hilir sebanyak 3 kasus, Kecamatan Nanga Taman 1 kasus, dan Kecamatan Belitang Hilir 1 kasus. Kapolres Sekadau, AKBP Anggon Salazar Tarmizi menjelaskan, bahwa kasus bunuh diri tidak terjadi signifikan, namun meningkat dari tahun lalu.

"Jika dibandingkan di tahun 2017 kemarin tidak pernah terjadi, jadi di tahun 2018 ini terjadi peningkatan mencapai 500 persen sebanyak 5 kasus," ungkapnya. 

Hasil pemeriksaan menyebutkan 1 kasus bunuh diri lantaran faktor ekonomi, 3 kasus karena putus asa sakit yang tak kunjung sembuh, dan 1 kasus akibat depresi. Dia pun mengimbau masyarakat Sekadau, agar melapor pada aparat jika ada kejadian-kejadian di lingkungan sekitar maupun masalah lainnya yang berkaitan dengan kriminal. 

"Masyarakat harus cepat tanggap dengan kondisi sosial di lingkungannya dan melapor, agar permasalahan apa pun termasuk adanya percobaan bunuh diri dari salah satu anggota keluarga, tetangga, dan lainnya bisa diantisipasi," pungkas mantan penyidik KPK itu. 

Tak Tercatat

Merujuk data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2015, angka bunuh diri di Indonesia sebesar 2,9 kasus per 100.000 orang penduduk. Namun, Direktur Kesehatan Jiwa Kemenkes, Fidiansyah menduga angka di lapangan jauh lebih tinggi lantaran tidak tercatat dengan baik. Penyebab kematian karena bunuh diri banyak tidak masuk dalam data kematian rumah sakit atau fasilitas kesehatan lain.

"Bahkan melalui kepolisian pun pencatatannya berdasarkan pada laporan masyarakat atau keluarga saja,” ucap Fidiansyah.

Tantangan terbesar adalah mengajak masyarakat lebih terbuka membicarakan bunuh diri. Angka laporan bunuh diri rendah di Indonesia, kemungkinan besar karena ada stigma pendosa bagi mereka yang mengakhiri nyawanya sendiri dari masyarakat. Dampaknya, keluarga enggan mengizinkan polisi membuat laporan atau melakukan otopsi. 

Alasan lain, Fidiansyah bilang keluarga pun harus menghadapi penelusuran hukum yang panjang dan melelahkan ketika mengizinkan dilakukan otopsi. Mereka merasa penyebabnya sudah jelas ketika mendiang ditemukan tewas dalam keadaan bunuh diri. 

Kesehatan Mental

Ketua Himpunan Psikologi Indonesia Wilayah Kalbar, Fitri Sukmawati mengatakan bahwa dalam psikologi bunuh diri termasuk ke dalam sebuah gangguan, yang artinya pelaku tersebut mengalami depresi hingga menyebabkan bunuh diri.

“Setiap orang pasti berbeda penyebab depresi,” katanya.

Dia mengatakan bahwa penyebab bunuh diri seseorang tidak dapat langsung dipastikan tanpa melalui pemeriksaan. Sebab dalam melakukan bunuh diri pasti ada penyebab-penyebabnya. Untuk itu dia belum dapat memastikan secara jelas dari kasus-kasus yang lazim terjadi karena sebab yang berbeda tersebut.

Orang yang mengalami depresi juga punya bermacam penyebab. Bisa dikarenakan faktor ekonomi, faktor asmara dan lain-lain.

“Dari sepuluh kasus misalnya, jika kita melakukan pemeriksaan baru bisa kita pastikan penyebabnya apa saja,” jelasnya.

Gangguan yang menyebabkan depresi tersebut dapat menyebabkan mood yang tidak menyenangkan, atau kesedihan yang berlarut-larut yang ujungnya adalah bunuh diri. Bunuh diri juga bisa dikarenakan gangguan psikologis dari yang bersangkutan. Selain itu setiap orang juga memiliki tingkat stres yang berbeda.

Awal dari kasus bunuh diri dikatakannya dikarenakan stres yang dialami pelaku, namun stres dalam hal ini bukan merupakan suatu yang menakutkan, sebab ada stres yang positif dan stres negatif.

“Stres kembali ke orangnya, karena stres itu suatu yang biasa. Misalnya kalau kita ke rumah sakit cium bau obat, itu sudah stres sebenarnya. Kita terlambat, kita deg-degan itu termasuk stres, tapi bagaimana menyikapinya,” ujarnya.

Stres tersebut bukan merupakan hal yang menakutkan, namun ketika seseorang tidak dapat melalui tekanan stres, maka akan menjadi suatu depresi. Depresi inilah yang dapat mengarah pada kasus bunuh diri.

Untuk itu lingkungan menurutnya harus dapat melihat dan menyikapi perubahan perilaku dari seseorang. Misalnya seseorang yang awalnya ceria, namun lama-kelamaan menjadi murung.

“Dalam keluarga, orang tua harus melihat perubahan perilaku anaknya, atau tetangga dan teman-temannya,” imbuhnya.

Perlu adanya sikap tanggap dan antisipasi dari setiap orang untuk melihat perubahan perilaku di sekitarnya. Untuk menangkal itu, pondasi agama menurutnya hal yang sangat penting. Sebab setiap orang pasti memiliki masalah, namun masalah tersebut pasti dapat diselesaikan yang kembali pada keyakinan masing-masing.

“Kalau semua itu dikuatkan pasti semua dapat dilewati,” tuturnya.

Seperti kasus terbaru yang terjadi di Kota Pontianak, Jumat (22/6), tetangga mengatakan bahwa pelaku sempat beberapa kali mengungkapkan ingin melakukan bunuh diri. Hal seperti ini perlu kesigapan untuk memberi dukungan positif dari keluarga dan lingkungan.

Berbeda kasus jika orang tersebut tinggal sendiri, yang berpotensi adanya halusinasi seperti bisikan-bisikan dan sebagainya yang termasuk pada gangguan, sehingga perlu melakukan konsultasi kepada ahli.

Konsultasi di Puskesmas

Kepala Dinas Kesehatan Melawi, Ahmad Jawahir menilai kasus bunuh diri lebih banyak disebabkan oleh depresi. Namun, untuk mengetahui kecenderungan orang untuk bunuh diri memang sulit, kecuali oleh para pakar.

"Di Melawi sendiri sebenarnya Puskesmas menyediakan sarana konsultasi bagi mereka yang mengalami depresi. Tapi justru jarang ada pasien datang ke dokter karena depresi," ujarnya.

Ahmad memaparkan, di Melawi memang belum ada psikiater yang khusus menangani pasien gangguan mental. Selama ini bila ada yang memerlukan layanan konsultasi terkait kesehatan mental, bisa dilakukan pada dokter umum.

"Karena psikolog ini sebenarnya dibenarkan untuk dilakukan oleh siapa pun. Kecuali psikiater, itu harus dokter dengan spesialisasi psikiatris," ujarnya. 

Depresi sendiri menurut Ahmad merupakan sebuah bentuk kehilangan kepercayaan diri oleh seseorang. Sedangkan layanan psikiatris lebih banyak diberikan pada pasien dengan gangguan kejiwaan. Namun, dia tetap menyarankan bila ada yang mengalami depresi bisa berkonsultasi pada psikolog atau petugas kesehatan.

"Kalau sekarang yang kerap datang ke Puskesmas itu lebih karena layanan psikiatris. Bukan karena depresi. Justru yang seperti ini malah malu-malu datang ke Puskemas. Malah lebih memilih konsultasi dengan temannya. Padahal ini sebenarnya berbahaya," katanya.

Ahmad pun lebih mendorong kepedulian terhadap sekitar untuk bisa membantu mengurangi tingkat depresi. Misalnya mengajak orang yang memiliki masalah untuk berkonsultasi ke psikolog. Hal ini menurutnya bisa mengantisipasi terjadinya kasus bunuh diri. 

Hal ini berbeda dengan Kabupaten Kapuas Hulu. Kepala Dinas Kesehatan setempat, Harisson menjelaskan, sesuai dengan Permenkes 75 tahun 2014 tentang Puskesmas, tidak disebutkan kebutuhan tenaga psikolog di Puskesmas. 

"Permenkes 56 tahun 2014 tentang Klasifikasi dan Perizinan Rumah Sakit pun, rumah sakit tipe C tidak ada disebutkan harus menyediakan psikolog atau dokter psikiater (ahli jiwa)," katanya.

Dia menambahkan, dengan demikian kasus bunuh diri bukan ranah Dinas Kesehatan, Puskesmas atau RSUD Dr. Achmad Diponegoro Putussibau.

"Untuk pasien gangguan jiwa ditanggung oleh BPJS, selama ini kalau ada pasien dengan gangguan jiwa, kita langsung rujuk ke Rumah sakit Jiwa yang dimiliki oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat," terangnya.

Pelayanan Kejiwaan

Sementara itu, Kepala Puskesmas Kejiwaan di Desa Selalong, Kecamatan Sekadau Hilir, Kabupaten Sekadau Subagiyo mengatakan, pihaknya menyediakan fasilitas dan penanganan jika ada kasus kejiwaan untuk masyarakat Sekadau. Termasuk bunuh diri yang menjadi implikasi masalah kejiwaan.

"Tentu ini menjadi perhatian kita semua, kami dari sisi penanganan karena selain menangani orang sakit biasa juga sakit kejiwaan, kita memaksimalkan apa yang sudah menjadi tugas kami di Puskesmas ini, " ujarnya. 

Saat ini, ada belasan pasien kejiwaan yang sedang dirawat dan kebanyakan pasien berasal dari Sekadau. 

"Hampir rata-rata kasusnya depresi jiwa sehingga emosi tidak bisa terkontrol, bahkan mengakibatkan terbunuhnya salah satu anggota keluarga akibat depresi itu," ungkapnya. 

Penanganan yang dilakukan hanya memberikan fasilitas tempat tidur, makanan, dan obat pemenang. Unitnya tidak memiliki dokter spesialis kejiwaan. Namun mereka memaksimalkan tenaga perawat dan bidan. Dalam aturan, pasien kejiwaan hanya menjalani perawatan 14 hari di tempatnya.

"Jika lebih dari 14 hari, jika tidak ada perubahan dari pasien maka akan dikirim ke tingkat yang lebih ataslah seperti Rumah Sakit Jiwa yang ada di Pontianak dan Kota Singkawang, dan itu tentu harus ada persetujuan dari keluarga pasien," katanya. 

Tak hanya dari Sekadau, pihaknya juga menangani pasien asal Melawi, Sintang dan Sanggau. 

“Tujuannya pembangunan nasional di bidang kesehatan jiwa masyarakat hingga menghindari tindakan pemasungan,” pungkasnya. (eko/jul/sap/tra/rah/akh/vic/bls)

Ruang Publik Menyehatkan Jiwa 

Indonesia seakan sedang mengalami kondisi darurat kesehatan mental. Di sisi lain, hak atas kesehatan jiwa yang optimal juga belum didapatkan sepenuhnya oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia. Data hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2013, dikombinasi dengan data rutin dari Pusdatin, menyatakan bahwa orang Indonesia dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan mencapai persentase 6 persen untuk golongan usia 15 tahun ke atas, atau tepatnya berjumlah sekitar 14 juta orang. 

Ahli psikologi sosial Universitas Bina Nusantara (Binus), Juneman Abraham menyatakan bahwa pendekatan psikologi klinis saja tak cukup untuk menbedah fenomena ini. Perlu ada eksplorasi lanjut melalui pendekatan dari disiplin ilmu psikologi sosial sebab kesehatan jiwa nyatanya memang menyangkut dimensi sosial-budaya. 

Juneman menyoroti kehidupan warga kota yang makin teralienasi (asing) satu sama lain, ikatan atau kohesi sosialnya mengendor, lalu meningkatkan gejala depresi baik yang ringan maupun berat. Kondisi inilah yang buruk bagi kesehatan jiwa. Oleh karena itu, ruang publik yang mewadahi pertemuan riil antar manusia dan mengembalikan kohesi yang kendor bisa dijadikan salah satu solusi untuk mengatasi masalah tentang kesehatan jiwa. 

Perspektif yang demikian, menurut Juneman, belum dikembangkan secara serius di Indonesia. Dia dan seorang rekan, Afifatun Nisa, sempat membuat riset dengan pertanyaan pokok “Bagaimana mekanisme psikologis dalam pemanfaatan ruang terbuka publik dapat mempengaruhi kesehatan jiwa warga kota?” 

Riset yang dipublikasikan di Jurnal Makara, Desember 2012 silam melibatkan 375 mahasiswa Jakarta (182 laki-laki, 193 perempuan) sebagai partisipan. Mereka berasal dari 22 universitas. Bukan status pendidikan yang ditekankan, melainkan bahwa partisipan memenuhi kualifikasi sebagai warga ibu kota yang kadang memanfaatkan ruang publik untuk berbagai kepentingan. 

Hasil analisis riset menunjukkan tingkat pemanfaatan ruang terbuka publik bisa menyehatkan jiwa warga kota. Kesimpulan ini didapat setelah ditemukannya korelasi positif antara pemanfaatan ruang terbuka publik dengan kohesi sosial para partisipan dengan warga kota lainnya. 

“Dengan kata lain, hubungan sosial langsung yang meningkat secara kuantitas dan kualitas mampu membuat kondisi mental warga kota menjadi lebih stabil, menjauhkannya dari rasa depresi yang berlebihan,” katanya. (tir/bls)