Konstelasi Parpol Pasca Pilkada Serentak

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 503

Konstelasi Parpol Pasca Pilkada Serentak
Grafis ( Koko/Suara Pemred )
Citra Duani, Calon Bupati Kayong
"Selain partai pengusung dan pendukung, tentulah juga tim relawan dan simpatisan, juga memiliki peran yang sama,"

PONTIANAK, SP – Pilkada Serentak Kalbar 2018 bisa menjadi tolak ukur jelang Pilpres dan Pileg 2019. Berdasarkan hitung formulir C1 yang dilakukan Komisi Pemilihan Umum (KPU), dari koalisi di enam Pilkada yang berlangsung, Partai Nasional Demokrat (Nasdem) meraih nilai sempurna. Calon yang mereka usung menang di semua pemilihan.

Di posisi kedua, ada Partai Hanura yang meraup lima kemenangan, kecuali di Pemilihan Wali Kota Pontianak. Sementara ada lima partai yang menang di empat Pilkada. Partai itu antara lain Golkar, Demokrat, Gerindra, PPP dan PKS.

Hasil kurang baik justru diraih PDI-Perjuangan. Dari enam Pilkada, mereka hanya menang di Pilbup Kubu Raya dan Pilbup Sanggau. Padahal, partai ini merupakan pemenang Pilkada sebelumnya dan punya 15 kursi di DPRD Provinsi Kalbar. 

Terkait belum maksimalnya pemenangan para calon di setiap daerah, Wakil Ketua Bapilu PDI-Perjuangan, M Jimmy menuturkan bahwa dirinya tidak dapat mengatakan apa yang menjadi penyebabnya. Namun menurutnya, semua kembali pada selera rakyat yang harus dihargai dan dihormati.

Siapa pun yang menjadi pemenang nanti, menurut Jimmy, dialah yang akan menjadi bagian dari wali kota bersama, gubernur bersama dan bupati bersama. Untuk itu dia berharap tidak ada intrik-intrik aneh di lapangan.

“Jadi siapa pun yang jadi, termasuk Bu Karol (calon gubernur Kalbar, red) pun yang jadi, dia adalah gubernur kita, Pak Midji pun yang jadi, dia adalah gubernur kita,” katanya, Senin (2/7).

Hal terpenting menurutnya dalam proses pemilihan adalah tidak ada yang manipulatif, tidak ada yang bernuansa kecurangan. Namun jika ada kekeliruan, itu merupakan hal lumrah. Sebab semuanya adalah hasil kerja manusia.

“Marilah kita saling berpikir positif. Kalau saya sih berpikirnya seperti itu, cuma kita tetap harus mengunci, apa yang dikunci, tanggal 9 itu rekapitulasi KPU final, itulah yang kita tunggu,” ujarnya.

Dia menjelaskan hingga kini belum ada hasil final. Proses masih berjalan dan paling penting, jangan sampai terjadi kecurangan dari pihak mana pun. Jimmy pun merasa mesin politik partai sejauh ini sudah berjalan maksimal. 

“Itu sudah maksimal, tidak ada masalah. Apa hasilnya, kita legowo lah, namanya orang sudah kalah ya kalah, tapi kan ini belum kalah,” tuturnya.

Menang kalah menurutnya baru diketahui setelah ada pengumuman pemenang secara resmi dari KPU. Dia pun kembali mengajak semua pihak, termasuk elite partai menunggu dan menjaga ketentraman, ketenangan, serta jangan saling menuduh dan menduga.

“Rawatlah daerah kita ini secara baik, secara kekeluargaan, agar rakyat mendapat ketenangan,” ucapnya lagi.

Sementara Ketua Fraksi Nasdem DPRD Kalbar, Lutfhi mengatakan peran partai politik dalam Pilkada Kalbar sangat penting. Mesin partailah yang bergerak ke akar rumput. Misalnya di Pilgub Kalbar, bersama partai koalisi pengusung Sutarmidji-Ria Norsan, mereka kampanye dengan memanfaatkan kader sampai tingkat paling bawah.

"Yang bergerak itu baik DPD, DPC, sampai ranting di desa-desa itu. Sehingga dengan kekompakan tim koalisi inilah bisa memenangkan Paslon Midji-Norsan," ujarnya. 

Lutfhi menjelaskan pendidikan politik berjalan terbukti dengan menangnya Paslon mereka. Ditambah rapat internal setiap struktural sampai ke bawah, kerja mesin partai makin solid. 

"Kita gerakan melalui struktur partai yang jelas. Pendidikan politik, melalui rapat-rapat kerja setiap tingkatan, yang sampai pada tingkat ranting. Kita kumpulkan lalu kampanye menyampaikan visi dan misi Paslon itu," jelasnya.

Mesin partai jadi yang utama. Sementara relawan, sifatnya hanya bentukan dari koalisi saja. Pasalnya mereka melibatkan masyarakat yang bukan dari partai politik, untuk membantu memenangkan Paslon yang diusung.

"Jadi survei elektabilitas kita lakukan terhadap calon-calon ini. Ketika yang tertinggi adalah Pak Sutarmidji, kita mengusung beliau dari DPP Nasdem. Ada surat untuk semua tingkatan struktural partai, menegaskan pengurusnya harus patuh dan mendukung penuh, Paslon nomor tiga," tutupnya.

Punya Pengaruh

Di Pilwako Pontianak, calon wali kota Pontianak nomor urut dua, Edi Rusdi Kamtono menjadi yang tertinggi perolehan suaranya berdasarkan hitung formulir C1 KPU. Dia mengatakan partai politik yang mengusung dan mendukung dirinya turut menentukan perolehan suara yang diraup. Mesin partai bekerja maksimal.

Hanya saja, berapa besaran pendukung partai yang mendukung dia tidak tahu pasti. Perlu ada survei khusus bila ingin dapat persentasenya.

"Belum tentu juga massa dari partai tersebut mendukung Paslon yang diusung. Pengaruh partai pendukung dalam pemenangan saya tentu ada, hanya saja besar kecilnya itu kita tidak tahu," jelasnya. 

Sama hal soal berapa besar partai bergerak dan memenangkan calon yang didukung, Edi mengungkapkan semua tergantung pengurus partai. Hanya saja dalam kampanye, tim koalisi bekerja. Masing-masing partai punya strategi dan metode. 

“Misalnya dengan metode cara door to door, menyebarkan luaskan di media sosial dan macam-macamlah. Strateginya itu misalnya cara penyampaian kepada masyarakat. Itu masing-masing punya cara dan strategi," tuturnya.

Sementara untuk mendapatkan partai pengusung, dia membangun komunikasi yang baik dengan partai dan publikasi kepada masyarakat terkait figur dirinya. Sejak awal survei sudah dilakukan. Hasilnya menjadi modal dasar soal popularitas dan elektabilitas.

"Itu yang kita tawarkan kepada partai. Kalau dia tertarik pasti mendukung. Mereka akan melihat calon yang dianggapnya bisa menang," jelasnya. 

Dia menegaskan, tak ada tidak ada perjanjian dengan partai pengusung jika menang Pilkada.

"Kita semua berkomitmen membangun Kota Pontianak. Komitmen yang kita bangun itu, tidak ada perjanjian khususnya. Intinya komitmen kita untuk membangun kota dan menyejahterakan masyarakat," jelasnya.

Edi berharap dalam menjalankan pemerintahan nanti, dirinya tetap bisa bersinergis dengan partai pengusung melalui keterwakilan partai di legislatif.

Di Kabupaten Kubu Raya, hasil formulir C1 KPU memenangkan pasangan Muda Mahendra-Sujiwo. Sujiwo menyebutkan, kemenangan pihaknya tersebut melalui kerja maksimal dari partai pengusung dan koalisi. Setidaknya pasangan Muda-Jiwo ini diusung dan didukung delapan partai.

“Semua partai pendukung bekerja maksimal. Ada delapan partai pendukung yang menyokong kami dan berjalan dengan baik hingga hasilnya kemenangan ini,” katanya.

Keberadaan relawan pun turut membantu.

“Berjalan baik dan maksimal. Mereka bahu-membahu dengan para relawan. Artinya perpaduan partai politik dan mereka sangat solid,” ujarnya.

Bukan saja perpaduan solid parpol dan relawan, menurutnya kekuatan yang diperoleh dari hampir seluruh masyarakat di Kabupaten Kubu Raya jadi faktor pemenang.

“Karena bersatu padu dengan mayoritas rakyat Kubu Raya, akhirnya membuahkan hasil memuaskan bagi pasangan Muda-Jiwo,” ujarnya.

Di Kayong Utara, Citra Duani-Efendi memperoleh suara paling banyak. Citra pun mengakui semua kerja mesin partai.

"Selain partai pengusung dan pendukung, tentulah juga tim relawan dan simpatisan, juga memiliki peran yang sama," ungkap Citra Duani.

Semuanya, sambung Citra, tidak lepas dari metode dan strategi yang diterapkan. Misalnya, bagaimana memahami karakter dan keinginan para pemilih.

"Terkait strategi, harus sedekat mungkin dengan calon pemilih. Misalnya turun langsung ke dusun-dusun dan pelosok wilayah di Kabupaten Kayong Utara," tutup Citra.

Kerja Koalisi

Partai Hanura jadi pengusung Citra Duani-Efendi di Kayong Utara. Bersama PPP, PKS, Golkar, Nasdem dan PKB, jagoan mereka meraih posisi teratas perhitungan formulir C1 KPU. Ketua DPC Hanura Kayong Utara, Namrun  Leru bercerita, sejak awal Pilkada bersama koalisi, mereka sudah merancang langkah-langkah.

Dari komunikasi dengan partai lain, lahirlah kebijakan maupun strategi-strategi yang akan dilaksanakan. Di antara melakukan pemetaan terkait kantong-kantong suara.

"Pemetaan wilayah ini menjadi hal yang penting, agar kita bisa bergerak lebih lanjut lagi. Dari hasil pemetaan, mulailah kami membagi tugas, yang mana menjadi perhatian serius," terang Namrun Leru.

Ditambahkannya, yang menjadi dasar pergerakan, khususnya Partai Hanura tidak lepas dari arahan dan nasihat Ketua Umum Hanura, Oesman Sapta. Selain menjadi Ketua, Oesman Sapta juga tokoh yang banyak berjasa terhadap Kabupaten Kayong Utara. 

"Beliau selalu memberikan masukan agar kandidat yang kami usung bisa sukses. Hal ini disebabkan pengalamannya di dunia politik yang mumpuni," sambung Namrun lagi.

Dilanjutkannya, isu yang menjadi perhatian khusus Partai Hanura dan partai pengusung lainnya adalah melanjutkan program-program unggulan pemerintah daerah sebelumnya. Misalnya pendidikan dan kesehatan gratis.

"Pendidikan dan kesehatan gratis menjadi sebuah program yang tetap kami lanjutkan pasca periode Bupati dan Wakil Bupati sebelumnya," tutupnya.

Dalam Pilwako Pontianak, Edi Rusdi Kamtono merupakan kader Gerindra. Ketua DPD Partai Gerindra Kota Pontianak, Naufal Ba'bud mengatakan dalam suksesi pemenangan, pihaknya melakukan konsolidasi partai, mulai dari pengurus DPC, PAC, ranting partai hingga ke sayap partai.

“Kita gerakkan semua, mesin-mesin partai kita jalankan semua,” ujarnya.

Selain itu, para anggota DPRD di fraksi diinstruksikan melakukan komunikasi kepada konstituen yang telah dibina. Kemudian bersama tim koalisi, mereka menjalankan mekanisme pemenangan sesuai kesepakatan. Strategi yang dilakukan terbukti berhasil dikarenakan kader-kader telah melaksanakan instruksi partai.

“Karena instruksi partai harus menangkan Paslon, semua bergerak, kader bergerak, sayap bergerak semua, dari tingkatan DPC sampai ranting,” katanya.

Kemenangan Paslon yang diusung Gerindra di Pilwako Pontianak katanya akan memberikan efek dalam kontestasi Pileg. Begitu pula para saksi, bila kinerja dalam pemenangan baik, dapat kembali dikaryakan dalam Pileg dan Pilpres. Namun apabila tidak bagus, maka akan dievaluasi kembali dan diganti.

“Dalam rangka itulah makanya kita hidupkan mesin partai itu,” jelasnya.

Di Pilbup Sanggau, pasangan petahana, Paolus Hadi-Yohanes Ontot (PH-YO) sementara unggul. Kader PDI-Perjuangan ini diyakini bisa mempertahankan jabatan.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sanggau, Krisantus Kurniawan menyebut penentu kemenangan mereka adalah masyarakat yang sudah cerdas. Mereka mengerti politik, dan paham proses pembangunan dan pemerintahan. 

“Selain itu, tentu kinerja partai pengusung, relawan dan tim sukses juga menjadi faktor utama penentu kemenangan,” katanya.

Dalam struktur dan komposisi DPC PDI Perjuangan Kabupaten Sanggau 2015-2020, PH menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Kehormatan Partai. Begitu juga dengan YO, Wakil Bupati Sanggau ini juga sudah bergabung di bawah perahu besutan Megawati Soekarnoputri. (iat/nak/jul/ble/and/rah/bls)

KPU Optimis Target Partisipasi Tercapai

KETUA Komisi Pemilihan Umum (KPU) Provinsi Kalimantan Barat, Ramdan mengaku target partisipasi pemilih dalam Pilkada Serentak 2018, sebesar 77 persen. Namun demikian hingga kini dirinya belum bisa memberikan keterangan terkait partisipasi pemilih yang tercatat. Pasalnya, tingkat partisipasi baru bisa dikalkulasikan setelah semua suara masuk selesai direkapitulasi di tingkat provinsi.

"Terkait partisipasi dan golput angkanya belum bisa dipastikan. Nanti kalau sudah direkap di tingkat provinsi, baru kita tahu berapa penggunaan hak pilih seluruhnya, itu baru kelihatan," jelasnya, Senin (2/7).

Untuk angka sementara pun belum bisa dilihat lantaran laman resmi milik KPU sedang mengalami gangguan. Namun demikian, Ramdan optimis target KPU bisa tercapai. 

"Sampai kemarin pas sebelum down itu sekitar 76 persen lebih, hampir 77 persen, dan mudah-mudahan nanti pada saat up bisa terus naik. Kita optimis sampai target tersebut," lanjutnya 

Ramdan meminta semua pihak untuk bersabar perihal hasil perhitungan suara, sampai nanti dilakukan rekapitulasi akhir tanggal 7-9 Juli 2018. 

“Jadi untuk mengetahui tingkat partisipasi real saya minta untuk bersabar sampai rekapitulasi di tingkat provinsi 7-9 Juli nanti," tutupnya. 

Sebelumnya, dalam laporan kepada Menteri Dalam Negeri lewat video conference, Kamis (28/6) Pj Gubernur Kalbar, Dodi Riyadmadji menyampaikan partisipasi pemilih dalam Pilkada Serentak Kalbar 2018 mencapai 75 persen. Angka itu sudah cukup baik meski berada di bawah target nasional.

“Sementara tercatat untuk kemarin itu sekitar 75 persen. Artinya kalau sudah melewati angka 70 persen untuk pemilihan langsung itu sudah menunjukkan angka yang baik, karena pengalaman tahun 90 an tinggal di Amerika itu, rata-rata 40 persen,” katanya.

Sebagai tindak lanjut, 3 Juli 2018 mendatang tim dari pusat akan tiba di Kalbar dan melihat langsung proses pesta demokrasi yang baru saja usai. Dia mengatakan, sejauh ini kondisi keamanan kondusif meski ada beberapa isu yang cukup riskan. (nak/bls)