Beragam Suku-Agama Menyatu Saling Bantu dalam Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak

Ponticity

Editor Indra W Dibaca : 1932

Beragam Suku-Agama Menyatu Saling Bantu dalam Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak
Para santri salah satu pesantren di Pal 9, Kota Pontianak berdoa di Sekretariat FRKP di Jalan Purnama 1 beberapa waktu lalu. (Ist)
Kalimantan Barat yang majemuk melahirkan banyak kekayaan. Dilandaskan kemanusiaan, batas-batas identitas diterabas. Etnisitas, agama, kelompok dan simbol-simbol lain menyatu untuk saling bantu. Salah satunya berwujud Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP).

Di FRKP, semua orang dari beragam latar belakang ambil bagian. Mereka tidak ingin sekadar jadi penonton. Tujuannya tentu saja, untuk kemandirian dan kemajuan bersama.

Bukan hanya mengulur tangan pada mereka yang butuh bantuan, FRKP juga melakukan pembinaan. Misalnya lewat bidang olahraga seperti karate.

Ketua FRKP, Bruder Stepanus Paiman bercerita, dalam komunitasnya hampir semua etnis dan agama ada. Di Kalbar misalkan, wakil ketuanya merupakan seorang muslim asli Aceh, sopir ambulan FKPR Ali Chandra seorang Melayu asal Ketapang. Pada 2017, Ali bahkan diumrahkan.

Tidak hanya itu, Ketua Divisi Sosial Masyarakat FRKP H.M. Hatta Jurli merupakan seorang cendikiawan muslim yang sudah lama bergabung.

Almarhum Hj Rahma, wakil Kepala Rumah Sakit Yarsi semasa hidupnya juga duduk sebagai Dewan Penasihat FRKP. Sementara Bruder Stepanus sendiri seorang Katolik.

“Di FRKP dan JPIC kami tidak bicara tentang ras atau suku, agama dan warna kulit. Kami sepakat seperti dalam visi-misi bahwa kami relawan kemanusiaan yang berupaya membela kebenaran dan keadilan, serta merawat atau peduli dengan alam semesta,” ceritanya, Rabu (4/7).

FRKP menjadi rumah terbuka untuk siapa saja yang berkehendak baik. Bukan hanya manusia, hewan pun mereka terima dan dirawat sebagaimana mestinya. Contohnya, beberapa kali anjing warga dititipkan ke pengurus, lantaran kerap menimbulkan keributan dan mengganggu tetangga.

Sebagaimana di awal, tak sekadar bertindak ketika ada peristiwa. FRKP turut membina anak-anak dan remaja. Komunitas ini memiliki FRKP Karate Klub yang dilatih sendiri oleh Bruder Stepanus Paiman. Beberapa anak asuhnya pun berjilbab saat latihan.

“Indahnya hidup sebagai saudara,” imbuhnya.

Tahun 2009-2010, pasca gempa bumi di Padang, Sumbar, FRKP ikut ambil bagian membangun sebuah masjid dan dua mushola, Taman Pendidikan Alquran dan beberapa tempat mandi cuci kakus. Tim yang turun adalah kolaborasi antar suku dan agama. Tak ada yang dibeda-bedakan. Kuncinya, kesadaran saling menghargai dan menjunjung tinggi toleransi.

“Contoh saling mengingatkan untuk salat bagi yang muslim dan ibadat bagi yang Kristen,” sebutnya. (balasa)