Rabu, 18 September 2019


Kalbar Siap Menjadi Daerah Sumber Pangan Di Indonesia

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 256
Kalbar Siap Menjadi Daerah Sumber Pangan Di Indonesia

FOTO BERSAMA - Kepala BPPSDMP Kementerian Pertanian RI, Momon Rusmono dan Kepala Distan Kalbar Heronimus Hero foto bersama dengan para pesarta Bimtek, kemarin. (Foto/Erviyanto)

PONTIANAK, SP - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Barat melalui Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura (Distan-TPH) Provinsi, menyatakan Kalbar siap menjadi daerah sumber pangan di Indonesia.

"Berdasarkan potensi yang ada, kita siap. Kita tinggal menggerakkan potensi itu. Potensi lahan kita cukup luas. Secara statistik (lahan) kita sekitar 1 juta hektare lebih," ujar Kepala Distan-TPH Kalbar, Heronimus Hero, di sela kegiatan Bimtek Penguatan Kapasitas Balai Penyuluh Pertanian (BPP) se-Kalbar di Hotel Garuda, Pontianak, kemarin.

Faktor utama suatu daerah menjadi sumber pangan untuk daerah lainnya, adalah meningkatnya hasil produksi. Hasil produksi sendiri bisa meningkat apabila lahan tanam yang dimiliki itu selalu bertambah.

Hero mengatakan, dengan lahan yang cukup luas, Kalbar memang berpotensi menjadi daerah sumber pangan. Saat ini, Distan-TPH terus berupaya meningkatkan luas tambah tanam (LTT) upaya khusus (Upsus) padi, jagung dan kedelai (Pajale), di antaranya melalui penguatan simpul koordinasi penyuluh.

"SDM kita simpul organisasi seperti BPP. Di situlah mereka menggerakkan penyuluh supaya apakah itu program mandiri yang dilaksanakan oleh masyarakat atau program pemerintah yang memfasilitasi masyarakat untuk peningkatan luas tambah tanam bisa digerakkan. Jadi secara potensi kita siap, tinggal SDM dan dukungan sarana dan prasarana kita tingkatkan," katanya.

Di tingkat pemerintah sendiri, ungkap Hero, mulai dari pusat, provinsi hingga kabupaten/kota sudah sejalan untuk menjadikan Kalbar sebagai sumber pangan.

"Ini program kalau dari Kementerian Pertanian kita sudah garis lurus. Tinggal bagaimana kita menjembatani sampai kepada tingkat pelaksananya, yaitu para petani. Karena meskipun ini otonomi daerah umpamanya, kebijakan dari kabupaten/kota tetap memegang rambu-rambu program kementerian. Sekarang kita ada program Upsus Pajale yang indikator keberhasilannya dilihat dari luas tambah tanam. Nah, itu semua sampai ke tingkat kecamatan dan tinggkat desa kita gerakkan," tuturnya.

Hero menyebutkan, luas lahan di Kalbar yang diperuntukkan untuk tanaman pangan khususnya padi, ada sekitar 1,1 juta hektare yang tersebar di seluruh kabupaten/kota. Ke depan, di Kalbar akan terus diupayakan adanya tambahan luas lahan tanam.

"Kita setiap tahun bisa menghasilkan luas tanam sekitar 500-an ribu hektare. Nah itu yang ingin kita tambahkan. Ada luas tambah tanam berapa setiap tahun sehingga kita tidak hanya sama dengan tahun sebelumnya. Luas tambah tanam di sini artinya, setiap hari ada tambahan tanam," ujarnya.

"Sekarang kebijakan dan program Menteri Pertanian mengarahkan setiap hari harus ada tanam. Maka tidak heran sekarang itu setiap hari ada tanam, setiap hari juga ada panen. Itu yang menjaga kesinambungan supaya secara total luas tanam kita meningkat, artinya luas panen juga meningkat. Dan otomatis juga kalau luas panen meningkat, produksi juga meningkat," kata Hero.

Dibandingkan tahun sebelumnya, antara waktu yang sama yakni musim tanam, tahun ini LTT di Kalbar meningkat 113 persen.

"Ada 13 persen. Nah, itu yang kita harapkan tidak hanya berhenti di 13 persen peningkatannya tahun ini. Perhitungannya kan sampai bulan September karena musim tanam meskipun kita tiap hari ada tanam, tetap perhitungannya musim tanam Oktober-Maret dan April-September untuk perhitungan angka produksi tahun 2018. Jadi, peluang kita masih sampai September ini untuk tanam. Karena tanam September, panennya tahun 2018," kata Hero.

"Harapan kita akan terus meningkat. Mungkin sampai 20 persen harapannya seperti itu. Kalau luas tanamannya meningkat, otomatis luas panennya meningkat kalau tidak ada serangan hama atau bencana alam," tuturnya. (kombis)