Sabtu, 07 Desember 2019


Polisi Tangkap Pelaku Pembakar Lahan di Sungai Selamat Dalam

Editor:

Indra W

    |     Pembaca: 456
Polisi Tangkap Pelaku Pembakar Lahan di Sungai Selamat Dalam

Pelaku pembakaran lahan saat diamankan di Mapolresta Pontianak. (SP/Rah)

PONTIANAK, SP - Satreskrim Polresta Pontianak, menangkap seorang warga Pontianak Utara berinisial HF (53) karena diduga melakukan pembakaran lahan.

Kasat Reskrim Polresta Pontianak, Kompol Muhammad Husni Ramli, Senin (23/7) mengatakan, dari hasil penyelidikan pihaknya, kebakaran lahan tersebut berawal saat tersangka HF disuruh oleh pemilik lahan berinisial AK untuk membuka lahan seluas 20x20 meter untuk bercocok tanam, di Jalan Sungai Selamat Dalam, Pontianak Utara.

Husni menjelaskan bahwa HF mendapat upah dari AK sebesar Rp10 juta untuk pembukaan lahan itu, dengan catatan pekerjaan harus tuntas dan lahan sudah siap pakai untuk ditanami.

Pada Senin (16/7) sekitar pukul 08.00 WIB, HF mulai mengerjakan lahan itu. Dengan menggunakan alat berupa tajak atau cangkul, HF membuang akar pakis dan rumput yang ada di permukaan tanah.

“Setelah selesai membersihkan lahan, akar pakis dan rumput tersebut kemudian dikumpulkan dan dibakar oleh tersangka menggunakan korek api gas. Setelah api menyala, tersangka meninggalkan lokasi dan pulang ke rumahnya untuk istirahat siang,” kata Husni.

"Pada saat tinggalkannya, kondisi api masih menyala, dan pada saat tersangka kembali dari istirahat, dia melihat api sudah membesar dan menyebar ke lahan sekitarnya," imbuhnya.

Melihat hal tersebut, tersangka langsung berusaha memadamkan api, namun tidak bisa karena api sudah terlanjur membesar.

Kemudian setelah tidak mampu mengatasi api yang sudah terlanjur membesar, tersangka pulang dan memberitahukan kejadian itu kepada pemilik lahan tersebut.

 “Kemudian tersangka kembali berusaha memadamkan api dengan mesin robin, namun kebakaran itu sudah menjalar dan membakar lahan tanaman sawit seluas empat hektare, dan dari hasil pemeriksaan sudah diakui oleh tersangka," imbuhnya.

Atas perbuatannya tersangka akan diancam pasal 108 Jo pasal 69 ayat (1) huruf h UU Nomor 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, dan atau pasal 187 KUHP, dengan ancaman penjara minimal tiga tahun, dan denda minimal Rp3 miliar. (rah)