Senin, 14 Oktober 2019


PDAM Pontianak Tembus 100.000 Pelanggan, Midji Minta Kaji Penambahan Direksi

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 499
PDAM Pontianak Tembus 100.000 Pelanggan, Midji Minta Kaji Penambahan Direksi

DILANTIK - Walikota Pontianak, Sutarmidji melantik Dewan Pengawas PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak, periode tahun 2018 hingga 2021, di Aula SSA Kantor Walikota Pontianak, Senin (23/7). (SP/Anugrah)

Walikota Pontianak, Sutarmidji
"Nah, penduduk kota ini baru 660 ribu, itupun cakupan layanannyakan baru 85 persen, maka masih banyak lagi yang bisa dilayani."

PONTIANAK, SP - Walikota Pontianak, Sutarmidji mengusulkan adanya pengkajian penambahan direksi di PDAM Tirta Khatulistiwa, mengingat saat ini pelanggan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) ini sudah lebih dari 100.000 pelanggan.

"Saya juga usulkan perlu ada penambahan usaha,” katanya Midji saat melantik Dewan Pengawas PDAM Tirta Khatulistiwa Pontianak, periode tahun 2018 hingga 2021, di Aula SSA Kantor Walikota Pontianak, Senin (23/7).

Sebanyak lima orang dewan pengawas yang mengambil sumpah dan dilantik, di antaraya terdiri dari unsur profesional, pejabat  Pemkot Pontianak dan masyarakat atau konsumen. 

Struktur tersebut terdiri dari Eddy Suratman, selaku ketua, Ismail, selaku sekretaris, Rustamaji, Hasyim Azizurahman Al-Qadrie dan Jumadi selaku anggota.

"Pelantikan ini merupakan bentuk kelengkapan struktur dari PDAM Kota Pontianak. Kita harap, setelah ini ada terobosan yang baik, terkait direksi, pelayanan dan lainnya," katanya.

Ke depannya juga dengan penambahan 300 liter per detik, maka perlu dipikirkan penjualannya hingga ke kawasan pinggiran Kota Pontianak, termasuk Kabupaten Kubu Raya dengan target wilayah arah Kecamatan Kakap.

Dia juga meminta agar di wilayah Wajok untuk diberikan layanan, guna memaksimalkan 300 liter per detik di Selat Panjang. Ini menurutnya merupakan program yang harus dilaksanakan.

Selain itu, kebocoran menurutnya bukan dikarenakan hanya pipa, namun bisa dikarenakan pencurian air.

“Kalau itu melibatkan orang dalam PDAM berhentikan. Jangan lagi beri peringatan,” tegasnya.

Dia juga berharap adanya pengkajian waduk ke depannya, sehingga ketika kemarau, masyarakat tidak kesulitan air. Di samping itu, upaya ini untuk peningkatan kualitas air, di mana produksi dan distribusi harus dilaksanakan terpisah.

Sutarmidji mengatakan, bahwa PDAM memiliki kapasitas produksi hingga 2 ribu liter lebih, yang bisa melayani paling kurang 900.000 pelanggan.

“Nah, penduduk kota ini baru 660 ribu, itupun cakupan layanannyakan baru 85 persen, maka masih banyak lagi yang bisa dilayani,” jelasnya. 

Perhitungan inilah, menurutnya diperlukan perluasan cakupan layanan hingga pinggiran Kota Pontianak, termasuk pemenuhan wilayah pinggiran Kabupaten Kubu Raya dan Mempawah.

Tahun 2018 ini, keuntungan yang dapat diraup oleh PDAM mencapai di atas Rp16 miliar. Dalam hal ini, PDAM tidak mengejar keuntungan semata, namun dengan keuntungan yang ada tersebut menunjukkan efisiensi dan kinerja yang baik.

Saat ini diperlukan adanya percepatan-percepatan dalam pelayanan dan melayani masyarakat yang tidak mampu.

“Tahun ini In Sh Allah pipa sampai di gang-gang semua, kemudian kita akan ringankan biaya pemasangannya,” imbuhnya.

Pemasangan bagi masyarakat yang tidak mampu dengan harga Rp1 juta, maka setengahnya dapat diangsur dengan menggunakan rekening setelah membayar Rp500 ribu, melalui angsuran Rp20 hingga Rp25 ribu per bulan.

“Kan 20 bulan sudah selesai,” tambahnya.

Terkait perumahan yang menjanjikan ketersediaan PDAM, dia mengatakan akan dilihat dahulu, jika pada brosur penawaran disediakan, maka harus disiapkan. Pasalnya, penyediaan tersebut telah dibayar oleh pembeli perumahan. Jika tidak disediakan, maka harga perumahan tersebut harus dikurangi.

Ketua Dewan Pengawas PDAM, Eddy Suratman menyampaikan bahwa tugas dewan pengawas yaitu mengontrol kinerja direksi perusahaan, agar target capaian dari Walikota dapat terpenuhi.

“Misalnya jumlah pelanggan harus 100 persen di tahun 2019/2020,” ucapnya.

Kemudian potensi kebocoran pipa juga harus ditekan hingga mencapai 25 persen. Sebab rata-rata nasional masih pada angka 30 persen.

“Kita harus di bawah itu. Sekarang sudah posisi 26 persen,” tambahnya.

Selain itu, perlu adanya efisiensi, namun tidak dengan mengurangi kesejahteraan para karyawan.

Keuntungan perusahaan juga harus bisa dijaga. Sebab pada tahun 2017, mencapai Rp18 miliar.

Sama halnya dengan penanganan keluhan dari para pelanggan, yang harus direspon dan diselesaikan dengan cepat.

“Saya kira itu, kami akan awasi direksi. Itulah tugas kami sebagai perpanjangan tangan dari pemilik. Pemiliknya adalah Pemkot,” ucapnya.

Terkait dengan pengembangan usaha dari PDAM ke depannya, dia mengatakan jika memang itu sudah menjadi rencana dan pemikiran Walikota, maka pihaknya akan melaksanakan itu dengan melakukan pengkajian, apakah memungkinkan, dengan sumber air baku yang ada untuk membuat air dalam kemasan misalnya.

Selain itu, penambahan direksi juga ke depannya akan menjadi kajian dari dewan pengawas.

Begitu juga perluasan layanan hingga ke Kabupaten Kubu Raya yang sudah menjadi kesepakatan antara Walikota Pontianak dan Bupati Kubu Raya.

“Itukan juga membantu PDAM Kota Pontianak, karena kita produksi sudah berlebih, sehingga pelanggan bisa menambah pendapatan,” pungkasnya.

Tambah Kapasitas Baru

Direktur Utama PDAM Kota Pontianak, Lajito menyampaikan bahwa cakupan saat ini sudah mencapai 83 persen, dengan kapasitas masih 15 persen. Pada bulan Agustus dan September akan dilakukan tes penambahan kapasitas baru 300 liter per detik.

Saat ini produksi air bersih PDAM masih mengalami surplus, dengan jumlah produksi 1.750 liter per detik.

Sementara itu, untuk menghadapi musim kemarau ini, pihaknya tetap mengoptimalkan sarana dan prasarana yang ada.

“Kami juga ada sumber air cadangan,” ucapnya.

Sumber air cadangan tersebut, saat ini sedang dipersiapkan, seandainya Sungai Kapuas tercampur oleh air asin dari laut.

Sumber air cadangan tersebut mencapai 15 persen dari total kapasitas yang ada, jika kemarau, maka akan memanfaatkan cadangan air tersebut, dengan kapasitas 500 liter per detik.

“Jadi mungkin nanti metodenya kalau itu kurang, kita akan campur dengan Sungai Kapuas,” tambahnya.

Untuk saat ini, sepenuhnya masih menggunakan bahan baku Sungai Kapuas dalam produksi air bersih PDAM.

Keuntungan yang diraup oleh PDAM pada tahun 2017 yaitu Rp18,7 miliar, sementara tahun 2018 data yang telah masuk pada triwulan kedua mencapai Rp8 miliar lebih, dengan target Rp15 milyar.

Sementara tingkat kebocoran saat ini masih pada posisi 26 persen, diharapkannya target ke depan hingga bisa di bawah 28 persen dari total produksi.

Terkait dengan perluasan pelanggan hingga ke Kabupaten Kubu Raya, dirinya menilai sangat tepat, sebab hingga saat ini hampir 4000 pelanggan yang ada merupakan warga Kabupaten Kubu Raya.

Perluasan pelanggan di wilayah Kakap, TPI dan Wajok, dinilai cukup baik. Untuk itu pihaknya akan menyiapkan infrastrukturnya.

Sebab ini terkait kerjasama antar kepala daerah, yang akan dilanjutkan dengan kerjasama antar direksi.

Sesuai aturan, penjualan keluar daerah menggunakan sistem curah, sebab tarifnya diatur dalam Permendagri Nomor 71 Tahun 2016. (rah/bob)