Ikanmas Art Festival (IAF) #10, Panitian Tampilkan 100 Parade Kesenian

Ponticity

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 241

Ikanmas Art Festival (IAF) #10, Panitian Tampilkan 100 Parade Kesenian
MENARI - Satu di antara kelopok tari menampilkan karya nya di panggung Ikanmas Art Festival (IAF) 10, Senin (23/7) malam. (SP/Shella)
Puluhan pasang mata terkesima menyaksikan penampilan demi penampilan di panggung Ikanmas Art Festival (IAF) 10, di Kampus II FKIP Universitas Tanjungpura. Penonton yang datang bukan hanya dari Pontianak, melainkan juga ada yang datang dari luar Pontianak. 

SP - Tampak beberapa turis (mengaku berasal) dari Amerika dan Republik Ceko, khidmat menyaksikan penampilan mahasiswa Prodi Seni Tari dan Musik. 

Menurut Firdaus Irawan, satu di antara mahasiswa Seni Tari dan Musik sekaligus panitia, IAF adalah serangkaian acara yang dimeriahkan oleh mahasiswa (seni) itu sendiri. 

“Jadi, ada beberapa mata kuliah praktik. Nah, mata kuliah-mata kuliah yang dipraktikkan itu, setelah diujiankan, baru ditampilkan,” terangnya di sela-sela acara, Senin (23/7) malam.

IAF tahun ke-10 ini menampilkan beberapa pertujukan. Pada hari pembukaan, IAF menampilkan dramatari. Selanjutnya, tentu saja sesuai dengan nama prodi, ada pertunjukan tari dan musik. Pertunjukan tari dan musik, dibagi lagi menjadi beberapa jenis. 

Khusus untuk musik, pertunjukan berbentuk komposisi dasar musik, sedangkan untuk tari, pertunjukan berbentuk komposisi dasar dan tari.  

Setiap tahun, IAF selalu menentukan tema acara, bergantung kesepakatan panitia. Khusus tahun ini, IAF mengusung tema tiga etnis (Tionghoa, Dayak, dan Melayu). 

Sesuai dengan tema yang diusung, setelah melakukan registrasi, pengunjung akan disuguhi berbagai ornamen tiga etnis di Kalbar sepanjang jalan, sebelum sampai di depan panggung pertunjukan. 

“Ornamen-ornamen yang dipajang, dimaksudkan untuk memperindah dan menambah kesan artistik,” tutur Firdaus. 

Selain memajang ornamen-ornamen tiga etnis, IAF juga menyediakan beberapa stand lain, seperti stand photobooth dan kantin yang menyediakan makanan dan minuman. 

Tarian Hikayat Tun Teja oleh Sania Rahma Agatha, menjadi satu diantara beberapa karya yang ditampilkan dalam acara IAF ke 10.

Tarian ini bercerita mengenai perasaan seorang gadis cantik bernama Tun Teja, yang hancur saat kekasihnya Hang Tuah yang akhirnya lebih memilih perempuan lain.

Cerita rakyat dari Riau ini berhasil mencuri perhatian penonton yang hadir dalam acara IAF-10 di Fakultas Seni Untan.

Dalam kesempatan ini pula, salah seorang penari lokal, Nur Asyura menciptakan sebuah tarian yang diambil dari pengalaman pribadi soal kabut asap. "Dulu saat sekolah, saya sering mengalami efek negatif dari kabut asap, seperti penyakit sesak nafas," katanya.

Sebuah permainan jelang pernikahan dari budaya masyarakat di Kecamatan Simpang Dua, Kabupaten Ketapang, juga diangkat dalam sebuah tarian bernama Barobut Gantang.
Tradisi ini hanya ada di daerah tersebut dan berlaku bagi pernikahan masyarakat disana.

Apabila satu diantara pengantin bukan berasal dari Simpang Dua dan tradisi pernikahan yang digunakan bukan adat Dayak Simpang, maka permainan Barobut Gantang tidak dilakukan.

Untuk diketahui, IAF berlangsung selama enam hari, mulai dari 21 Juli sampai dengan 26 Juli. Dilansir dari Instagram @ikanmas_, IAF 10 akan menampilkan kurang lebih 100 penampilan dari mahasiswa Prodi Tari dan Musik Universitas Tanjungpura, hingga hari terakhir. (shella rimang/bob)